Muhammadiyah Hadirkan Rumah Oksigen Balita untuk Anak Terdampak Kabut Asap
- 20 Sep 2026 15:57 WIB
- Pontianak
Poin Utama
- Rumah Oksigen Balita
- Muhammadiyah operasikan Rumah Oksigen Balita
- Fasilitas Rumah Oksigen Balita
RRI.CO.ID, Kubu Raya - Kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan Barat turut berdampak pada aktivitas dan kesehatan anak-anak. Untuk memberikan ruang yang lebih aman bagi anak, Poskor Karhutla Muhammadiyah Kalimantan Barat, menghadirkan Rumah Oksigen Balita yang berada di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Kalbar, Jalan Arteri Supadio.
Penanggung Jawab Rumah Oksigen Balita, Rahma Susanti, mengatakan anak-anak menjadi salah satu kelompok yang rentan terdampak kabut asap. Selain membatasi aktivitas di luar rumah, kondisi tersebut juga dapat mengganggu proses belajar, kesehatan, hingga kondisi psikososial anak.
"Kalau kita ngomongin masalah kerugian, yang paling terdampak dan paling terasa kerugiannya itu adalah anak-anak. Aktivitas di luar mereka dibatasi, tidak bisa bersosialisasi dan bermain," ujar Rahma, saat ditemui, Minggu, 20 September 2026.
Menurutnya, anak-anak membutuhkan aktivitas fisik dan ruang untuk bersosialisasi guna menjaga kesehatan sekaligus mengurangi tekanan selama kondisi kabut asap. Dari sisi kesehatan, paparan kabut asap juga meningkatkan risiko gangguan seperti batuk, pilek, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), hingga asma.
"Karena kalau kabut asap, yang pasti mereka terdampak dengan batuk, pilek, kemudian ISPA, asma," katanya.
Rahmah menjelaskan, Rumah Oksigen Balita merupakan respons Muhammadiyah terhadap kondisi tersebut. Fasilitas ini tidak hanya menyediakan layanan pemeriksaan dan oksigen, tetapi juga ruang bermain serta pendampingan psikososial bagi anak.
Rumah Oksigen Balita yang baru beroperasi, Sabtu, 19 September kemarin itu, dilengkapi tenaga kesehatan dan bekerja sama dengan Puskesmas. Untuk anak yang membutuhkan pemeriksaan, pengecekan saturasi maupun pemberian oksigen, fasilitas tersebut diperkirakan dapat melayani sekitar 30 anak.
Sementara bagi anak yang membutuhkan waktu tinggal lebih lama, kapasitasnya sekitar 25 anak dalam sehari. Rumah Oksigen Balita beroperasi mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB. Masyarakat dapat mengakses layanan tersebut secara gratis dan tidak harus menunggu anak dalam kondisi sakit.
"Anak-anak boleh mengakses mainan meskipun tanpa mereka harus sakit. Jadi meskipun mereka tidak sakit, kalau mereka ingin aman dari asap, ingin memanfaatkan fasilitas yang ada, silakan datang," ucap Rahma.
Rahma menambahkan, selain ruang perawatan dan oksigen, tersedia playground, pojok literasi, mandi bola, trampolin, area sensory, obat-obatan, masker, makanan ringan, hingga susu UHT untuk anak. Fasilitas tersebut juga menyediakan ruang psikososial dan edukasi untuk membantu anak memahami kondisi kabut asap serta langkah yang dapat dilakukan ketika terjadi bencana asap.
Rahma mengatakan, keberadaan ruang bermain sengaja dipadukan dengan fasilitas kesehatan agar anak tidak merasa takut ketika harus menjalani pemeriksaan maupun terapi oksigen.
"Biasanya kalau masuk rumah sakit, mereka sudah pasti kepikiran takut dan menjadi tekanan sendiri. Tapi dengan melihat bermain, mereka jadi tidak merasa sedang dioksigen atau sedang sakit," katanya.
Menurut Rahma, Rumah Oksigen Balita yang berada di wilayah Kubu Raya juga menjadi bagian dari upaya Muhammadiyah merespons kondisi karhutla di kawasan yang terdampak. Rahma menyebut, Muhammadiyah telah memiliki sembilan titik Rumah Oksigen, namun belum seluruh wilayah Kubu Raya memiliki fasilitas serupa.
"Di Kubu Raya kita memang sudah memiliki titik di Rasau Jaya, namun kita belum punya yang di pertengahan titik di Kubu Raya," ujarnya.
Muhammadiyah juga tengah mempertimbangkan penambahan Rumah Oksigen Balita di lokasi lain yang dinilai membutuhkan. Namun, pembentukan fasilitas baru membutuhkan dukungan tenaga medis, tenaga psikososial, admin, serta pendamping anak.
"Kami akan membentuk lagi, namun nanti kita lihat posisi tempat-tempat mana yang memang sangat membutuhkan untuk posisi Rumah Oksigen Balita ini," kata Rahmah.
Sementara itu, Rina, warga Kubu Raya yang membawa anaknya ke Rumah Oksigen Balita, mengaku terbantu dengan keberadaan fasilitas tersebut. Rina mengatakan, selama kabut asap, anak-anak lebih banyak beraktivitas di dalam rumah karena kondisi udara di luar tidak memungkinkan.
"Di rumah kan nggak bisa keluar. Anak-anak penasaran, jadi paling main HP saja. Karena adanya Rumah Oksigen ini sangat membantu bagi saya," ujar Rina.
Menurut Rina, sebelum datang ke Rumah Oksigen Balita, anaknya sempat mengalami batuk dan mata terasa perih ketika berada di luar rumah. "Batuk, mata agak perih kalau keluar," kata Rina.
Setelah mendapatkan layanan di Rumah Oksigen Balita, Rina melihat anaknya menjadi lebih bersemangat dan memiliki ruang untuk bermain dengan lebih leluasa. "Alhamdulillah jadi lebih semangat dan tiap hari mau ada di sini terus," ujarnya.
Sebelum memanfaatkan Rumah Oksigen Balita, Rina mengaku berupaya menjaga kondisi anak dengan memberikan vitamin serta makanan bergizi seperti sayur dan buah.
Baca juga: Senyum Warga saat Terima Air Bersih Gratis dari Karang Taruna Pontianak
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....