Trauma Healing Polri Pulihkan Rasa Aman Anak Korban Karhutla di Kubu Raya
- 11 Sep 2026 16:27 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Karhutla tak berhenti menyisakan persoalan setelah api padam, karena asap dan ketakutan masih membayangi anak-anak serta warga. Kondisi tersebut menjadi perhatian Peserta Didik Sespimmen Polri Dikreg ke-67 yang turun langsung menemui warga melalui trauma healing secara door to door di Jalan Pelita III RT 034/RW 011, Dusun Nusa Indah, Desa Punggur Kecil, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Jumat, 11 September 2026, pagi.
Sedikitnya belasan anak dan puluhan warga mendapat pendampingan dalam kegiatan yang merupakan bagian dari Kuliah Kerja Profesi atau KKP Serdik Sespimmen Polri Dikreg ke-67 dalam Operasi Aman Nusa II di wilayah hukum Polres Kubu Raya.
Pendekatan door to door dilakukan agar pendampingan menjangkau warga secara langsung. Anak-anak diajak berinteraksi melalui komunikasi ringan, permainan edukatif, dan aktivitas yang membantu membangun kembali rasa aman serta nyaman setelah menghadapi situasi karhutla.
Pendampingan tidak hanya bertujuan membuat anak kembali ceria, tetapi juga membantu mereka mengenali dan mengekspresikan emosi, mengurangi kecemasan serta ketakutan, dan memulihkan kepercayaan diri setelah rutinitas mereka terganggu.
Warga juga diberi ruang untuk menyampaikan pengalaman dan kekhawatiran selama menghadapi karhutla. Rasa takut, cemas, sulit berkonsentrasi, hingga perasaan tidak aman menjadi bagian yang turut diperhatikan dalam pendampingan tersebut.

Selain dukungan psikologis, Serdik Sespimmen Polri memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pencegahan karhutla serta dampak asap terhadap kesehatan dan lingkungan.
Masyarakat diingatkan tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Warga juga diminta memastikan sumber api benar-benar padam dan segera melaporkan titik api melalui layanan call center Polri 110.
Kapolres Kubu Raya AKBP Rensa S. Aktadivia melalui Kasubsi Penmas Aiptu Ade mengatakan, trauma healing dan edukasi pencegahan merupakan dua pendekatan yang saling melengkapi dalam menangani dampak karhutla.
“Karhutla tidak hanya meninggalkan dampak fisik berupa kerusakan lahan dan pencemaran udara. Bagi masyarakat yang terpapar asap, terus berada dalam situasi waspada, kondisi tersebut juga dapat menimbulkan tekanan psikologis, khususnya pada anak-anak,” ujar Ade.
Menurut Ade, pendampingan Serdik Sespimmen Polri Dikreg ke-67 diarahkan untuk membantu anak dan masyarakat membangun kembali rasa aman setelah menghadapi situasi yang menimbulkan ketakutan maupun kecemasan.
“Pendampingan psikologis bukan berarti menghapus pengalaman buruk, tetapi membantu anak dan masyarakat memproses pengalaman tersebut secara sehat, mengenali emosinya, mengurangi kecemasan, serta mengembalikan rasa aman,” ujarnya.
Ade menegaskan pencegahan karhutla harus dilakukan sejak sebelum api muncul. Masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membiarkan sumber api tanpa pengawasan, serta segera melaporkan apabila menemukan titik api.
Ia menambahkan, dampak karhutla dirasakan langsung masyarakat, mulai dari kesehatan hingga aktivitas sosial dan ekonomi. Karena itu, pencegahan dan penanganannya membutuhkan keterlibatan bersama agar masyarakat tidak hanya terlindungi dari api dan asap, tetapi juga mendapatkan dukungan untuk kembali menjalani aktivitas secara normal.
Baca juga: Heri Mustamin Apresiasi Keseriusan Pemerintah Pusat Tangani Karhutla di Kalbar
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....