Teladani Akhlak Rasulullah untuk Hadapi Kerasnya Zaman
- 06 Sep 2026 15:50 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Menghadapi kehidupan yang semakin kompleks, umat Islam diajak kembali meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW sebagai solusi menghadapi berbagai persoalan di tengah masyarakat. Keteladanan Rasulullah dinilai relevan untuk diterapkan dalam kehidupan keluarga, lingkungan sosial, hingga penggunaan media digital. Hal tersebut disampaikan Ustadz Nanang Fajar Mukhsoni, M.Pd.I., dalam program Mutiara Pagi RRI Pontianak, Jum’at, 4 September 2026, dengan tema “Meneladani Nabi Muhammad SAW di Tengah Zaman yang Keras: Solusi Qurani untuk Rumah, Hati, dan Umat.”
Ustadz Nanang mengatakan, peringatan Maulid Nabi tidak semestinya hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi harus menjadi momentum untuk kembali menghidupkan akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita memperingati Maulid itu karena rindu kepada Nabi Muhammad SAW. Maka jangan hanya sekadar seremonial atau sekadar berkumpul, berselawat dan berzanji, tetapi betul-betul menjadikan akhlak Nabi sebagai teladan,” ujar Ustadz Nanang.
Menurutnya, berbagai persoalan yang terjadi saat ini memiliki kemiripan dengan kondisi masyarakat pada masa sebelum Nabi Muhammad SAW diutus. Fenomena seperti ketidakjujuran, persoalan rumah tangga, penyalahgunaan media sosial, hingga krisis keteladanan membutuhkan solusi yang berlandaskan Al-Qur'an dan akhlak Rasulullah. Ia merangkum sedikitnya tiga fenomena yang banyak dihadapi masyarakat saat ini, yakni rumah tangga yang kering kasih sayang, pemuda yang kehilangan arah, serta hati yang mudah keras dan marah.
Untuk persoalan keluarga, Ustadz Nanang menekankan pentingnya menghadirkan sifat rahmah atau kasih sayang. Menurutnya, keluarga tidak cukup hanya dibangun atas status pernikahan, tetapi harus dipenuhi perhatian, kepedulian, dan kerja sama.
“Rumah tangga yang kering itu bukan seperti musim kemarau. Yang dimaksud adalah rumah tangga yang tidak pernah disirami rahmat, kasih sayang dan perhatian,” jelasnya.
Ia mencontohkan keteladanan Rasulullah SAW dalam memperlakukan keluarganya. Nabi tidak hanya mengharapkan pelayanan dari istri, tetapi juga turut membantu pekerjaan di rumah. Karena itu, ia mengajak keluarga mengurangi ketergantungan terhadap gawai ketika sedang bersama. Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah meletakkan telepon seluler dan kembali membangun komunikasi secara langsung.
“Naikkan mata kita untuk melihat apa yang ada di sekeliling kita, apa yang membutuhkan perhatian. Bahkan 30 menit sebelum tidur, HP ditaruh di luar kamar. Jadikan waktu itu untuk memberikan perhatian kepada pasangan dan anak,” katanya.
Menurutnya, kebiasaan sederhana seperti saling menyapa, memberikan pujian, berbicara bersama, serta meluangkan waktu tanpa gawai dapat membantu menghidupkan kembali kehangatan dalam keluarga.
Fenomena kedua yang disoroti adalah banyaknya pemuda yang mengalami kebingungan dan kehilangan arah. Ia menilai fenomena seperti judi online, flexing, serta pencarian validasi di media sosial menjadi tantangan yang perlu dihadapi dengan penguatan karakter. Solusi yang ditawarkan adalah menanamkan sifat siddiq, yaitu kejujuran dan keteguhan prinsip, sebagaimana yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW.
“Nabi Muhammad sebelum menjadi nabi sudah dikenal sebagai Al-Amin. Ketika dititipi harta, beliau tidak pernah berkhianat,” ungkapnya.
Ustadz Nanang juga mendorong orang tua untuk menanamkan kesadaran bahwa Allah SWT senantiasa melihat dan mengetahui setiap perbuatan manusia. Selain itu, anak dan remaja perlu diberikan tanggung jawab sejak dini. Mereka dapat dilibatkan dalam berbagai kegiatan positif, termasuk menjadi bagian dari kegiatan remaja masjid.
“Kasih anak tanggung jawab. Bisa sebagai imam, bendahara, atau dirangkul menjadi remaja masjid. Tujuannya untuk regenerasi dan membangun generasi Qurani,” tuturnya.
Sementara itu, fenomena ketiga adalah semakin mudahnya masyarakat tersulut emosi, khususnya di media sosial. Perbedaan pendapat tidak jarang berkembang menjadi saling menghujat dan menyerang. Ustadz Nanang mengajak umat meneladani sifat hilm, yaitu santun, pemaaf, dan mampu menahan amarah.
Ia mengingatkan kisah Nabi Muhammad SAW ketika menghadapi perlakuan buruk penduduk Thaif. Meskipun mendapat perlakuan menyakitkan, Rasulullah tidak memilih membalas dengan keburukan.
“Ketika penduduk Thaif melempari beliau dengan batu sampai berdarah, malaikat datang dan menawarkan untuk menghancurkan mereka. Tetapi Nabi tidak memilih itu. Nabi berharap dari keturunan mereka akan lahir orang-orang yang menyembah Allah,” jelasnya.
Keteladanan tersebut, menurutnya, penting diterapkan dalam kehidupan modern, termasuk ketika menghadapi komentar negatif di media sosial. Ia menyarankan masyarakat tidak langsung merespons ketika emosi sedang memuncak. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah berhenti sejenak, duduk, berwudu, dan melakukan introspeksi.
“Ketika mau marah kita duduk. Ketika masih marah, berwudu. Ganti makian atau komentar jelek dengan doa,” ujarnya.
Dalam dialog tersebut, Ustadz Nanang juga menanggapi keresahan pendengar mengenai anak-anak yang lebih sibuk dengan telepon seluler ketika berkumpul bersama keluarga. Menurutnya, persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan dengan melarang anak menggunakan gawai. Orang tua perlu memberikan teladan dan menciptakan suasana yang membuat anak merasa nyaman berinteraksi dengan keluarga.
“Anak-anak lebih mendapatkan perhatian di HP. Maka sebagai orang tua, diri kita yang harus bisa memenuhi kebutuhannya. Caranya dengan memberikan perhatian dan menjadi orang yang nyaman di samping mereka,” katanya.
Ia menegaskan bahwa teknologi pada dasarnya dapat memberikan manfaat maupun mudarat. Karena itu, penggunaan gawai harus disertai kebijaksanaan dan kontrol diri. Menutup dialog, Ustadz Nanang mengajak umat menjadikan Maulid Nabi sebagai momentum memperbaiki diri, bukan hanya memperbanyak ucapan cinta kepada Rasulullah. Ia mengingatkan bahwa kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW harus diwujudkan melalui perilaku dan pengamalan sunnah dalam kehidupan sehari-hari.
“Cinta kepada Nabi bukan hanya dengan membaca selawat di lisan saja, tetapi cinta kepada Nabi adalah dengan mengikuti sunnah pada anggota badan kita,” pungkasnya.
Ia berharap keteladanan Rasulullah SAW dapat menjadi pedoman bagi masyarakat dalam menjaga ibadah, keluarga, lisan, serta hubungan dengan sesama. Dengan menghadirkan Al-Qur'an dan keteladanan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat diharapkan mampu menghadapi berbagai tantangan zaman dengan lebih sabar, amanah, jujur, santun, dan penuh kasih sayang.
RRI NabiMuhammadSAW MutiaraPagi
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....