Ustadzah Kartini: Kesabaran Rasulullah Jadi Kunci Dakwah tanpa Menyerah
- 18 Sep 2026 07:06 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Kesabaran menjadi salah satu teladan utama Rasulullah SAW dalam menjalankan dakwah. Meski menghadapi penolakan, hinaan hingga kekerasan fisik, Rasulullah tidak membalas keburukan dengan keburukan dan tetap menyampaikan ajaran Islam dengan penuh kasih sayang.
Hal tersebut disampaikan Ustadzah Hj. Kartini dalam program Mutiara Pagi RRI Pro 1 Pontianak, Selasa, 15 September 2026. Menurutnya, perjalanan dakwah Rasulullah menunjukkan bahwa kesabaran bukan sekadar sikap diam, melainkan kemampuan untuk tetap konsisten menghadapi tantangan.
“Beliau tidak membalas keburukan dengan keburukan. Bahkan ketika orang melakukan keburukan, Rasulullah malah mendoakan orang yang menyerang beliau,” ujar Kartini dalam dialog tersebut.
Kartini mencontohkan peristiwa Thaif sebagai salah satu gambaran beratnya tantangan yang dihadapi Rasulullah SAW. Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, dakwah Rasulullah justru ditolak. Bahkan, beliau mendapat perlakuan kasar hingga tubuhnya terluka akibat lemparan batu.
Namun, penolakan tersebut tidak membuat Rasulullah menyerah. Menurut Kartini, Rasulullah tetap menunjukkan kasih sayang dan optimisme karena menyadari bahwa orang-orang yang menolak dakwah belum mengetahui kebenaran yang disampaikannya.
“Sifat Rasulullah yang agung itu dalam bentuk kesabaran, beliau tidak mudah menyerah,” katanya.
Ia menilai keteladanan tersebut relevan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kesabaran tidak hanya dibutuhkan ketika seseorang berdakwah, tetapi juga ketika menghadapi persoalan keluarga, pasangan, anak maupun lingkungan sosial. Kartini juga menekankan bahwa kesabaran harus dipahami sebagai sikap aktif. Dalam menghadapi perbedaan atau persoalan di tengah masyarakat, seseorang tetap perlu mengambil langkah, tetapi dilakukan dengan cara yang baik dan tidak emosional.
“Sabar itu makna sabar itu aktif, Bang Budi. Jadi bukan pasif dilihat diam gitu,” jelasnya.
Ia mencontohkan ketika terjadi persoalan terkait aktivitas kelompok dakwah di masjid. Menurutnya, pengurus masjid dapat melakukan pendekatan dan dialog apabila aktivitas tersebut mulai mengganggu kegiatan atau operasional masjid. Pendekatan persuasif, kata Kartini, dapat dilakukan dengan memberikan penjelasan mengenai kondisi masjid dan mengatur jadwal kegiatan agar kepentingan bersama tetap terjaga.
Kartini mengatakan kesabaran tidak selalu muncul secara otomatis. Menurutnya, seseorang perlu melatih diri secara terus-menerus, salah satunya dengan memperbanyak zikir, selawat dan doa. Ia menyebut QS Al-Muzzammil ayat 10 sebagai salah satu landasan untuk bersabar menghadapi perkataan atau perlakuan yang tidak menyenangkan. Selain itu, ia menganjurkan umat Islam untuk membiasakan diri mengingat Allah dalam berbagai situasi.
“Kita targetnya apa? Kita pengin sabar. Maka berdoalah untuk sabar. Tidak mesti dengan bahasa Arab, dengan bahasa Indonesia juga, ‘Ya Allah karuniakan kesabaran,’” tuturnya.
Menurutnya, kebiasaan berzikir, berselawat dan berdoa dapat menjadi bagian dari latihan membangun karakter. Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah mengeluarkan kata-kata buruk ketika menghadapi tekanan atau persoalan. Pada akhirnya, Kartini mengajak masyarakat menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
“Kalau merasa ada kendala dalam hidup, teruslah ingat Allah, teruslah berselawat kepada Rasulullah,” pesannya, mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....