Tiga Anak Buaya Sinyulong Dievakuasi dari Rumah Nelayan di Mempawah
- 30 Agt 2026 16:46 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Tiga ekor anakan buaya sinyulong (Tomistoma schlegelii) berhasil dievakuasi dari rumah seorang nelayan di Dusun Teredu, Desa Anjungan Dalam, Kecamatan Anjungan, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.
Buaya sinyulong yang oleh masyarakat Dayak Kanayatn/Ahe disebut “Baringayong” tersebut masing-masing berukuran sekitar 33 sentimeter. Ketiganya kini menjalani rehabilitasi sementara di Tempat Penampungan Sementara milik Balai Pengelolaan Kelautan (Balai PK) Pontianak.
Evakuasi dilakukan setelah adanya laporan masyarakat pada 20 Agustus 2026 sekitar pukul 06.00 WIB. Warga melaporkan adanya anakan buaya yang menetas di dalam rumah, setelah sebelumnya telur diambil dari sarangnya.
Menindaklanjuti laporan tersebut, Tim Respon Cepat Balai PK Pontianak bersama praktisi ahli bergerak ke lokasi dan tiba sekitar pukul 12.00 WIB. Tim kemudian melakukan pemeriksaan kondisi satwa serta pengumpulan bahan keterangan dengan memperhatikan standar kesejahteraan satwa.
Pemeriksaan kesehatan selanjutnya dilakukan secara daring bersama dokter hewan spesialis, drh. Rio dari Sumatera Utara. Hasil evaluasi awal menunjukkan kondisi ketiga anakan buaya secara umum cukup baik. Namun, pada bagian perut masih ditemukan sisa kantung kuning telur atau yolk sac. Kondisi tersebut dinilai berisiko menimbulkan infeksi apabila proses penyerapannya tidak berlangsung optimal. Dokter hewan kemudian menyarankan penggunaan wadah inkubasi atau pemeliharaan sementara selama masa rehabilitasi.
Kepala Balai PK Pontianak, Sy. Iwan Taruna Alkadrie, mengatakan ketiga anakan buaya tersebut akan terus diobservasi bersama dokter hewan selama masa rehabilitasi.
"Selama rehabilitasi dalam inkubasi, akan kita pantau perkembangannya," ungkap Iwan, Minggu 30 Agustus 2026.
Iwan menyebut, dengan evakuasi tiga anakan buaya sinyulong tersebut, total anakan buaya yang saat ini direhabilitasi di Balai PK Pontianak menjadi empat ekor. Satu ekor lainnya merupakan anakan buaya muara berukuran 38 sentimeter.
Tim juga melakukan verifikasi lapangan di lokasi penemuan sarang di Kecamatan Anjungan dan Kecamatan Toho. Kedua wilayah tersebut berada dalam satu bentang aliran sungai yang saling terhubung.
Berdasarkan informasi masyarakat setempat, kawasan perairan tersebut telah lama menjadi habitat alami buaya sinyulong. Kondisi habitat yang masih mendukung juga memperkuat dugaan keberadaan populasi satwa tersebut di kawasan Sungai Mempawah Hulu.
Menurut Iwan, temuan ini menjadi catatan penting karena menunjukkan adanya keberadaan buaya sinyulong di lintasan aliran Sungai Mempawah Hulu. Sebelumnya, populasi buaya sinyulong di Kalimantan Barat lebih banyak teridentifikasi di Kabupaten Kapuas Hulu dan Kabupaten Ketapang.
Ditemukannya anakan yang baru menetas juga mengindikasikan bahwa kawasan tersebut berpotensi menjadi habitat berkembang biak atau breeding ground bagi buaya sinyulong.
Pergeseran buaya sinyulong ke wilayah baru diduga dapat dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari degradasi dan fragmentasi habitat, perubahan debit serta dinamika air, hingga berkurangnya sumber pakan dan persaingan sumber daya dengan spesies lain.
Balai PK Pontianak kini berkoordinasi dengan aparat desa setempat untuk pemantauan habitat serta memberikan edukasi kepada masyarakat terkait keselamatan dalam berinteraksi dengan satwa.
Masyarakat diimbau tidak menangkap maupun melukai buaya sinyulong dan segera melaporkan kepada petugas apabila menemukan sarang atau individu buaya sinyulong di sepanjang aliran sungai.
“Senyulong bukan menyerang, namun bertahan,” sebut Iwan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....