Tiga Orangutan Dievakuasi dari Area Terdampak Karhutla di Kayong Utara

  • 14 Sep 2026 19:28 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Kayong Utara -Tiga individu orangutan dievakuasi dari wilayah yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, pada Sabtu 12 September 2026.

‎Ketiga orangutan tersebut terdiri dari induk dan anak yang ditemukan di Desa Penjalaan serta seekor orangutan jantan dewasa di Desa Padu Banjar, Kecamatan Simpang Hilir.

‎Evakuasi dilakukan Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), didukung Yayasan Palung, Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Penjalaan, LPHD Padu Banjar, serta masyarakat setempat.

‎Dua orangutan yang ditemukan di Desa Penjalaan kemudian diberi nama Mama Penja dan Penja. Keduanya ditemukan di salah satu kebun sawit milik warga transmigrasi.

‎Kondisi kedua orangutan tersebut memprihatinkan. Dokter hewan satwa liar sekaligus Direktur Utama YIARI, Dr. Karmele Llano Sanchez, mengatakan induk dan anak orangutan terlihat sangat kurus dan lemas saat ditemukan.

‎“Saat kami tiba di lokasi, kami melihat induk orangutan dan anaknya dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Keduanya terlihat sangat kurus dan lemas, dan hampir tidak bergerak dari sarangnya, meskipun banyak orang berada di sekitar mereka,” ujarnya.

‎Setelah berhasil dibius menggunakan blow dart, tim medis memberikan pertolongan pertama berupa cairan infus dan oksigen sebelum keduanya dievakuasi ke Pusat Rehabilitasi YIARI untuk menjalani pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut.

‎Hasil pemeriksaan menunjukkan Mama Penja mengalami dehidrasi berat dan anemia. Tim juga menemukan luka bakar pada kedua kakinya hingga menyebabkan kulit terkelupas.

‎Luka tersebut diduga terjadi karena orangutan berjalan di atas tanah gambut yang terbakar. Kondisi gigi Mama Penja juga mengalami banyak pengikisan yang diduga berkaitan dengan keterbatasan sumber pakan akibat kebakaran.

‎Karmele mengatakan, kondisi tubuh Mama Penja menunjukkan kemungkinan kekurangan makanan yang berlangsung cukup lama.

‎“Kami menduga kondisi kekurangan makanan yang berkepanjangan, kemungkinan selama berminggu-minggu sejak kebakaran mulai di areanya pada dua bulan lalu, yang telah menyebabkan kondisi tubuhnya semakin memburuk hingga mengalami anemia berat,” katanya.

‎Saat ini, tim medis memprioritaskan stabilisasi kondisi Mama Penja, pemenuhan nutrisi, serta perawatan intensif terhadap induk dan anak tersebut.

‎Sementara itu, tim gabungan juga menindaklanjuti laporan masyarakat mengenai keberadaan orangutan di Desa Padu Banjar. Orangutan jantan tersebut dievakuasi menggunakan senapan bius untuk memastikan proses penyelamatan berlangsung aman.

‎Hasil pemeriksaan menemukan microchip pada tubuh orangutan yang menunjukkan bahwa satwa tersebut pernah dievakuasi dari hutan yang sama pada 2022. Berdasarkan identifikasi individu, orangutan jantan itu diketahui bernama Kumbang.

‎Direktur Operasional Program YIARI, Argitoe Ranting, mengatakan Kumbang diduga kembali masuk ke wilayah permukiman dan kebun masyarakat akibat habitatnya terdampak kebakaran.

‎“Karena kebakaran yang meluas, mendorong orangutan ini masuk di wilayah kampung dan di kebun masyarakat,” jelasnya.

‎Pemeriksaan medis terhadap Kumbang juga menemukan adanya suara abnormal pada paru-paru bagian kanan. Sebelumnya, warga melaporkan orangutan tersebut sempat terdengar batuk.

‎Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan paparan asap karhutla. Saat proses evakuasi, lokasi kebun tempat Kumbang ditemukan dipenuhi kabut asap cukup tebal.

‎Selain gangguan pernapasan, tim menemukan sejumlah luka dan bekas cedera pada tubuh Kumbang, di antaranya luka panjang di bagian punggung kanan, sejumlah bekas luka pada kaki, serta luka yang berdasarkan pemeriksaan awal diduga merupakan bekas abses atau cedera akibat proyektil.

‎Tim juga menemukan benda asing yang tertanam di tangan kanan yang diduga merupakan peluru, serta bekas jerat.

‎Argitoe mengatakan kondisi ketiga orangutan tersebut menunjukkan semakin mendesaknya upaya penyelamatan satwa liar di tengah meluasnya dampak karhutla.

‎“Evakuasi ini menjadi semakin mendesak karena dampak karhutla terhadap satwa liar sudah mulai terlihat secara langsung,” katanya.

‎Ketiga orangutan kini menjalani pemantauan dan penanganan lebih lanjut oleh tim medis di Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI. Pemeriksaan lanjutan dilakukan untuk memastikan kondisi kesehatan masing-masing individu dan menentukan penanganan yang sesuai.

‎Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, turut turun langsung dalam proses penyelamatan tersebut. Ia mengatakan informasi mengenai keberadaan ketiga orangutan diterima dari masyarakat sekitar dua hari sebelum evakuasi.

‎“Penyelamatan ketiga orangutan ini kami laksanakan berdasarkan informasi dari masyarakat sekitar dua hari sebelumnya. Saat ini mereka menjalani perawatan di pusat penyelamatan orangutan YIARI di Ketapang,” ujarnya.

‎Murlan berharap ketiga orangutan tersebut dapat pulih dan beradaptasi setelah menjalani perawatan sehingga nantinya dapat dilepasliarkan kembali ke habitat alami yang aman.

‎Ia menyebut, secara keseluruhan sudah ada 18 individu orangutan yang diselamatkan akibat terdampak karhutla.

‎BKSDA Kalimantan Barat juga mengimbau masyarakat segera melaporkan apabila menemukan satwa yang terdampak kebakaran hutan dan lahan melalui call center 0811-5670-041 atau 0811-5776-767.

‎Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, menekankan pentingnya respons cepat di lapangan karena kebakaran dapat membatasi akses orangutan terhadap habitat alaminya dan mendorong satwa masuk ke wilayah yang berisiko.

‎“Temuan ini menunjukkan bahwa ketika habitat terbakar dan akses orangutan terhadap kawasan hutan semakin terbatas, mereka dapat terdorong masuk ke lanskap yang berisiko bagi keselamatan dan kesehatannya,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....