“Istisqa’: Warisan Doa Para Nabi di tengah Musibah Kekeringan”
- 28 Agt 2026 08:12 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Musim kemarau panjang yang melanda sejumlah wilayah Kalimantan Barat memicu kekeringan, meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta memperburuk kualitas udara akibat kabut asap. Kondisi tersebut menjadi perhatian para agamawan, Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan tokoh lintas agama. Salah satu ikhtiar spiritual yang dilakukan umat Islam adalah melaksanakan shalat istisqa' atau shalat untuk memohon turunnya hujan.
Dalam acara Mutiara Pagi, RRI Pro 1 Pontianak, Jum'at, 28 Agustus 2026, Ustadz Drs. Ahmad Jais, S.Ag., M.Ag., mengatakan pelaksanaan shalat istisqa' merupakan bagian dari ikhtiar menghadapi kondisi kekeringan yang terjadi saat ini. Menurutnya, tanah yang sebelumnya lembap mulai kehilangan kandungan air. Kondisi lahan gambut yang mengering juga menjadi semakin rentan terbakar dan dapat memperluas kebakaran hutan serta lahan. “Musim kemarau panjang telah melanda sebagian besar wilayah Kalimantan Barat. Tanah yang biasanya lembap kini airnya menyusut. Lahan gambut yang mengering menjadi sangat rentan tersulut api,” ujar Ustadz Ahmad Jais.
Ia mengatakan dampak kekeringan dan kebakaran tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat dan aktivitas penerbangan akibat menurunnya jarak pandang. Ustadz Ahmad Jais menjelaskan, dalam ajaran Islam, shalat istisqa’ dilakukan sebagai permohonan kepada Allah SWT agar menurunkan hujan ketika terjadi kekeringan. Ia merujuk pada riwayat Ibnu Abbas mengenai Rasulullah SAW yang pernah keluar bersama umatnya untuk melaksanakan shalat dua rakaat dan memohon hujan ketika Madinah mengalami kekeringan. Menurut Ustadz Ahmad Jais, hujan bukan sekadar fenomena alam, tetapi juga menjadi sumber kehidupan bagi manusia dan lingkungan.
“Setiap tetes hujan adalah benih kehidupan yang menghidupkan kembali tanah yang mengering. Setiap kehidupan yang tumbuh adalah bukti kasih sayang Allah yang tak pernah putus, meski manusia sering lupa untuk bersyukur,” katanya.
Ustadz Ahmad Jais menekankan bahwa kepedulian terhadap persoalan lingkungan tidak semestinya dibatasi oleh perbedaan agama maupun kelompok. Ia menilai krisis kekeringan, karhutla, dan kabut asap merupakan persoalan bersama yang membutuhkan kepedulian serta kerja sama seluruh elemen masyarakat.
“Manusia lintas keyakinan sejak zaman dahulu telah mengenal satu hal yang sama, yaitu hujan bukan sekadar fenomena alam, melainkan anugerah yang harus dimohon dengan kerendahan hati di tengah keterbatasan manusia menghadapi kekeringan,” ujarnya.
Karena itu, ia mengajak masyarakat menjaga lingkungan dengan tidak melakukan pembakaran sembarangan. Menurutnya, kondisi udara yang buruk akibat asap dan debu dapat mengganggu kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.
“Mari kita menjaga lingkungan dengan tidak membakar sembarangan. Kondisi sekarang sudah kita rasakan bersama, udara buruk, sesak napas, rumah dan kendaraan penuh debu,” katanya.
Ustadz Ahmad Jais menjelaskan shalat istisqa' pada dasarnya disunahkan dilakukan secara berjamaah. Pelaksanaannya, kata dia, memiliki kemiripan dengan shalat Id.
“Shalat istisqa' itu seperti shalat Id, dilakukan secara berjamaah. Shalat sendirian juga sah, tetapi yang lebih afdal adalah shalat berjamaah,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan sejumlah amalan yang dianjurkan sebelum pelaksanaan shalat istisqa’, di antaranya berpuasa selama tiga hari, memperbanyak istighfar, bertobat, serta mengenakan pakaian sederhana.
“Dianjurkan berpuasa selama tiga hari. Kemudian bertobat, meminta ampun kepada Allah atas dosa yang dilakukan. Keluar rumah dengan pakaian sederhana, penuh ketundukan, dan tidak berhias atau memakai wewangian,” ujarnya.
Selain itu, Menurut Ustadz Ahmad Jais, shalat istisqa' tidak berarti mengesampingkan upaya nyata yang telah dilakukan pemerintah dan masyarakat dalam menangani karhutla maupun dampak kekeringan. Upaya fisik seperti pemadaman kebakaran hingga teknologi modifikasi cuaca, menurutnya, merupakan bagian dari ikhtiar manusia. Shalat istisqa’ menjadi ikhtiar spiritual yang melengkapinya.
“Ini ada ikhtiar secara fisik, juga ada secara mental dan spiritual. Itu yang dilakukan,” katanya.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak berburuk sangka apabila hujan belum turun setelah pelaksanaan shalat istisqa’. Doa, kata dia, merupakan bentuk ibadah dan ikhtiar batin.
“Ini ikhtiar kita, ikhtiar batin, ikhtiar spiritual kita, ibadah. Oleh karena itu, kita harus berbaik sangka kepada Allah,” katanya.
Ahmad Jais juga mengajak masyarakat menjadikan kondisi kekeringan dan kabut asap sebagai momentum untuk memperkuat kepedulian terhadap lingkungan serta membangun kerja sama lintas agama. Menurutnya, persoalan tersebut harus dihadapi bersama, bukan dengan saling menyalahkan.
“Yang perlu dicari solusinya adalah bagaimana kita saling bahu-membahu untuk kerja sama lintas agama dan keyakinan, sama-sama mengantisipasi jangan sampai ini terjadi di tahun yang akan datang,” tegasnya.
Ia menilai berbagai upaya yang telah dilakukan merupakan bentuk usaha manusia, sementara shalat istisqa’ menjadi pengingat bahwa manusia memiliki keterbatasan dan tetap membutuhkan pertolongan Allah SWT.
“Intinya adalah mengingatkan kepada manusia bahwa manusia ini sebenarnya lemah, tidak berdaya. Kadang-kadang manusia juga banyak tidak bersyukur. Itu yang perlu kita ambil pelajaran dari peristiwa ini,” pungkasnya, mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....