Ustadzah Kartini Ajak Pendengar Meneladani Akhlak Mulia Rasulullah SAW!
- 01 Sep 2026 10:12 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak – Memasuki bulan Rabiul Awal, umat Islam kembali diingatkan untuk mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus meneladani akhlak mulia yang beliau contohkan dalam kehidupan. Pesan tersebut disampaikan Ustadzah Hj. Kartini, M.Ag., dalam program Mutiara Pagi RRI Pro 1 Pontianak, Selasa, 1 September 2026.
Mengangkat tema “Mengenal Rasulullah SAW dan Akhlak Mulianya”, ia mengajak pendengar menjadikan Rasulullah sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari. Ustadzah Kartini menjelaskan, terdapat empat sifat utama Rasulullah SAW yang patut diteladani umat Islam, yakni shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah.
“Shiddiq maknanya Rasulullah itu selalu berkata benar dan jujur. Rasulullah bahkan mendapatkan gelar Al-Amin dari masyarakat karena perilakunya yang selalu menunjukkan kejujuran,” ujarnya.
Menurutnya, kejujuran merupakan salah satu fondasi penting dalam kehidupan seorang Muslim. Tidak hanya berkata benar, seorang Muslim juga dituntut menjaga kepercayaan yang diberikan kepadanya.
“Yang kedua adalah amanah. Amanah maknanya dapat dipercaya. Kita umat Rasulullah diharapkan mengikuti teladan itu, mampu menerima amanah, dipercaya, dan mampu menjaga amanah tersebut,” ucapnya.
Sementara sifat tabligh, kata Kartini, bermakna menyampaikan kebenaran. Cara menyampaikan pesan dapat berbeda sesuai karakter seseorang, namun dalam persoalan akidah, Rasulullah SAW tetap menyampaikan kebenaran dengan tegas dan penuh kelembutan.
“Rasulullah menyampaikan kebenaran apabila berkaitan dengan akidah itu sangat tegas, meskipun dengan cara yang lemah lembut,” katanya.
Sedangkan sifat Fathanah, menunjukkan kecerdasan dan kebijaksanaan Rasulullah SAW. Menurut Kartini, kecerdasan Rasulullah tidak hanya berkaitan dengan intelektual, tetapi juga kecerdasan emosional. Ia menilai, kecerdasan emosional menjadi hal penting untuk kembali diperhatikan di tengah kehidupan masyarakat saat ini yang cenderung lebih mengutamakan kecerdasan intelektual.
“Rasulullah itu memiliki kecerdasan dan kebijaksanaan. Kecerdasan beliau dominannya adalah masalah kecerdasan emosional,” katanya, menambahkan.
Lebih jauh, Ustadzah Kartini menjelaskan bahwa kemuliaan akhlak Rasulullah SAW tidak sekadar baik menurut ukuran manusia, tetapi berada pada tingkat yang melampaui standar akhlak pada umumnya. Ia mengaitkannya dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur'an yang menyebut Rasulullah SAW memiliki akhlak yang agung.
“Akhlak yang agung itu akhlak yang melampaui. Kalau kita ibaratkan dengan akreditasi, ketika mendapatkan predikat unggul berarti datanya melampaui standar. Maka Rasulullah ini punya akhlak yang melampaui akhlak standar dalam kehidupan,” tuturnya.
Menurutnya, sikap Rasulullah SAW ketika menghadapi orang yang memusuhi beliau menjadi salah satu contoh nyata bagaimana akhlak mulia diterapkan. Kartini juga menceritakan kisah seorang Yahudi yang buta dan kerap mencela Rasulullah SAW. Meski terus mendapatkan cercaan, Rasulullah tetap mendatanginya dan memberikan makanan. Setelah Rasulullah SAW wafat, Abu Bakar Ash-Shiddiq meneruskan kebiasaan tersebut. Namun, orang Yahudi itu menyadari bahwa orang yang menyuapinya bukanlah orang yang biasa datang kepadanya.
“Orang yang biasanya menyuapi aku itu tidak seperti kamu. Orang yang menyuapi makanan kepada aku itu seperti aku ini bayi, dikunyahnya dulu baru dimasukkannya ke mulutku,” tutur Kartini mengisahkan.
Ketika Abu Bakar menjelaskan bahwa orang yang selama ini menyuapinya adalah Rasulullah SAW dan beliau telah wafat, kisah tersebut menyentuh hati orang Yahudi itu hingga akhirnya mengucapkan syahadat dan memeluk Islam. Kartini menegaskan, kisah tersebut menggambarkan bagaimana Rasulullah SAW membalas kebencian dengan kebaikan dan tidak menjadikan perlakuan buruk orang lain sebagai alasan untuk meninggalkan akhlak mulia. Ia berharap momentum Rabiul Awal tidak hanya menjadi kesempatan untuk mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menjadi momentum memperbaiki akhlak.
“Jadi, misi beliau itu akhlak. Aku tidak diutus untuk melakukan sesuatu kecuali untuk menyempurnakan akhlak,” katanya, mengakhiri.
Baca juga: PAUD KB Nurul Fathonah Tanamkan Cinta Rasul sejak Dini
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....