Tungku Khatulistiwa Gelar Ruang Rasa, Dorong Toleransi Inklusif
- 28 Agt 2026 09:56 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, PONTIANAK– Komunitas pemuda Tungku Khatulistiwa sukses melangsungkan program dialog inklusif bertajuk "Ruang Rasa: Mengupas Nilai Lintas Iman di Balik Gawai" pada Sabtu, 22 Agustus 2026. Berlokasi di ruang publik ramah lingkungan Lesehan Kampung Wisata Caping, Kota Pontianak, Kalimantan Barat kegiatan ini berlangsung hangat dan kondusif mulai pukul 08.30 WIB hingga selesai.
Program "Ruang Rasa" lahir sebagai inisiatif aksi nyata (Rencana Tindak Lanjut) hasil kolaborasi lintas lembaga yang diusung oleh Apriansius, selaku Inisiator & Project Director Tungku Khatulistiwa. Apriansius merupakan perwakilan tunggal Provinsi Kalimantan Barat yang lolos seleksi ketat tingkat nasional (TOP 30 dari 1.081 pendaftar) dalam program GerakDampak Academy (GDA) oleh Indika Foundation, serta alumni Kemah Generasi (GenHAM) Komnas HAM RI 2026.
Di tengah dinamika Kota Pontianak sebagai wilayah melting pot yang kaya akan etnik Melayu, Dayak, Tionghoa, serta keberagaman agama, pemuda kerap dihadapkan pada minimnya ruang perjumpaan organik. Hal tersebut berpotensi memunculkan prasangka hingga gesekan SARA di linimasa media sosial.
Program ini diikuti oleh 18 peserta yang hadir dari beragam latar belakang suku, agama, dan etnis. Selain peserta umum, Tungku Khatulistiwa juga turut mengundang perwakilan Bujang Dara Gawai (etnis Dayak), Bujang Dare Pontianak (etnis Melayu), serta Duta Gege Memel (etnis Tionghoa) sebagai bentuk simbolis kombinasi keberagaman tiga suku utama (Tidayu) di Kalimantan Barat. Kehadiran para peserta mempersegar dinamika acara, di mana pada sesi pemateri para peserta tampil sangat aktif menyampaikan berbagai pertanyaan kritis kepada kedua narasumber.
Rangkaian acara mengadopsi 3 kerangka utama Nilai Inti Kurikulum HARMONI Indika Foundation (SDG Target 4.7), yaitu Lead Self, Lead Others, dan Lead Change:
- Pembukaan Resmi & Sambutan Inisiator: Acara dibuka secara hangat dengan sapaan khas "Halo Tungkukers" serta salam lintas agama dan salam adat Kalimantan Barat ("Adil Ka' Talino, Bacuramin Ka' Saruga, Basengat Ka' Jubata - Arus! Arus! Arus!"). Dalam opening speech-nya, Apriansius (Inisiator & Project Director) menyampaikan apresiasi kepada narasumber, para mentor & Co-Fasilitator Indika Foundation & Komnas HAM RI, jaringan alumni Kemah Generasi (GenHAM) & GerakDampak Academy (GDA) dari Sabang sampai Merauke, serta jajaran tim inti Tungku Khatulistiwa.
Sesi Pemantik I (Kebudayaan & Kearifan Lokal): Leonardus Gardiaz Vogatn, S.Sn. (Pegiat Budaya & Seni Kalbar) membedah peran kebudayaan lokal sebagai perekat hubungan lintas iman serta pentingnya etika menjaga nilai tradisi di ruang digital.
Dalam pemaparannya, Pegiat Budaya dan Seni, Leonardus Gardiaz Vogatn, menegaskan bahwa kebudayaan harus menjadi jembatan perjumpaan dan rasa saling menghormati, bukan justru disalahgunakan sebagai alibi untuk pembatas sosial.
"Kita harus menjadikan kebudayaan sebagai jembatan untuk berdialog dan berkolaborasi, bukan tembok yang melahirkan stereotip. Anak muda perlu bijak dan kritis di media sosial agar tidak membiarkan algoritma menjadi guru utama kita tentang kebudayaan, sebab kita tidak harus menjadi sama untuk menjaga rumah yang sama," ujar Leonardus Gardiaz Vogatn.
- Sesi Pemantik II (Hak KBB & Etika Digital): Nelly Yusnita, S.Hut., M.M. (Kepala Sekretariat Komnas HAM Provinsi Kalbar) membedah jaminan Kebebasan Berkeyakinan dan Beragama (KBB) sebagai hak konstitusional serta batas kebebasan berekspresi di ruang digital.
Dalam pemaparannya, Kepala Sekretariat Komnas HAM Provinsi Kalbar, Nelly Yusnita, menegaskan pentingnya pemahaman HAM dan etika bagi generasi muda saat berinteraksi di media sosial.
"Komnas HAM Provinsi Kalimantan Barat mengapresiasi setinggi-tingginya inisiatif Tungku Khatulistiwa melalui program Ruang Rasa ini. Anak muda tidak hanya perlu memahami hak-hak dasarnya dalam berkeyakinan dan beragama, tetapi juga harus memiliki kesadaran kritis serta etika saat berekspresi di ruang digital agar tidak memicu gesekan atau prasangka sosial," ujar Nelly Yusnita.
- FGD Kelompok Inklusif & Refleksi: Sesi ini dipandu langsung oleh Apriansius, memanfaatkan bekal ilmu dan pengalaman yang didapatkannya dari GerakDampak Academy 2026 serta Kemah Generasi 2026. Dalam sesi ini, peserta diarahkan mengisi Lembar Kerja FGD berbasis Kurikulum HARMONI pada tahap Lead Change (Aksi Nyata). Melalui pendampingan Co-Fasilitator di setiap kelompok, peserta melakukan pemetaan masalah lewat analisis "Pohon Masalah", menentukan akar penyebab dan pihak terlibat, hingga merumuskan ide aksi nyata yang konkret. Diskusi yang semula dijadwalkan 15 menit berlangsung sangat antusias hingga diperpanjang menjadi 30 menit. Rangkaian ini diakhiri dengan presentasi kelompok, alur tanya jawab dan sanggahan antar-peserta, serta ulasan dan apresiasi langsung dari kedua narasumber.
Inisiator & Project Director Tungku Khatulistiwa, Apriansius, menekankan pentingnya mengikis sekat di era digital melalui kolaborasi nyata.
"Sekarang bukan lagi zamannya berkompetisi, tapi zamannya kita berkolaborasi. Sangat penting bagi generasi muda untuk membuka diri, menepis prasangka di balik layar gawai, dan merawat toleransi secara nyata. Melalui Ruang Rasa, kami menyandingkan kearifan lokal dengan pemahaman Hak KBB untuk melahirkan kepemimpinan muda, toleransi aktif, serta etika digital yang kuat," tegas Apriansius.
Usai kegiatan berlangsung, kesan positif turut disampaikan oleh perwakilan Bujang Dara Gawai Sekberkesda Kalimantan Barat. Bujang Isaac Newton menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih karena telah membuka ruang bersama ini, di mana para peserta dapat saling berkomunikasi secara terbuka untuk berdiskusi tentang keberagaman budaya. Pernyataan tersebut disambut hangat oleh Dare Septiani Airin S. yang menyampaikan harapannya.
"Harapannya semoga bermanfaat bagi generasi muda yang lain dan semoga semua kegiatan ini dapat berguna bagi kita," tutur Dare Septiani Airin S.
Acara diakhiri secara resmi melalui penyampaian closing statement yang lengkap, penyerahan apresiasi serta ucapan terima kasih kepada seluruh pihak, dan ditutup dengan sesi foto dokumentasi bersama.
Keberhasilan program ini terwujud atas dukungan penuh tim pelaksana (Darul selaku Head of Program, Tio selaku Design Creative Production, Dini selaku Community Engagement), serta jejaring mitra kolaborasi meliputi Indika Foundation, Komnas HAM RI & Komnas HAM Kalbar, Kemah Generasi (GenHAM), Pegiat Budaya Kalbar, Rumah Budaya Kampung Caping, Weus Youth Community, FLEXYBAG 2.0 Untan, dan Radio Republik Indonesia (RRI) Pontianak sebagai Official Media Partner.
Melalui sinergi ini, Tungku Khatulistiwa berkomitmen untuk terus merawat ruang perjumpaan inklusif dan memfasilitasi jejaring pemuda penggerak dalam menyebarkan narasi damai di Kalimantan Barat.
Baca juga: Tungku Khatulistiwa Ajak Pemuda Pontianak Kenal Toleransi Inklusif di Ruang Rasa
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....