Kabut Asap Pontianak, Sekolah dan Orang Tua Diminta Bersinergi

  • 27 Agt 2026 09:23 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kota Pontianak dan sekitarnya menjadi perhatian berbagai pihak, terutama dalam menjaga kesehatan anak-anak di lingkungan pendidikan. Melihat kualitas udara yang memburuk, Pemerintah Kota Pontianak, Kalimantan Barat melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan mengambil langkah dengan menerapkan pembelajaran jarak jauh atau daring sebagai upaya melindungi peserta didik dari paparan asap.

Kebijakan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam dialog interaktif program Kentongan RRI Pro 1 Pontianak pada Selasa, 25 Agustus 2026 bertema “Darurat Kabut Asap: Sinergi Sekolah, Orang Tua, dan Pemerintah Menjaga Generasi” menghadirkan Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak, Hermawan Eko Wibowo dan Sekretaris Komite SMP Negeri 3 Pontianak, Hery Syamsuri.

Hermawan Eko Wibowo menjelaskan, penerapan pembelajaran daring dilakukan sebagai tindak lanjut arahan Pemerintah Kota Pontianak untuk mengutamakan keselamatan dan kesehatan siswa selama kondisi kabut asap berlangsung. "Menyikapi tentang hal ini seperti apa yang sudah juga disampaikan oleh Bapak Wali Kota, kami menindaklanjuti untuk menerbitkan surat di mana mulai tanggal 24 kemarin pembelajaran daring diberlakukan," ujar Hermawan.

Ia mengatakan, pihak sekolah juga diminta memastikan proses belajar tetap berjalan dengan baik meskipun dilakukan dari rumah. Kepala sekolah berperan dalam mengoordinasikan para guru agar menyiapkan materi pembelajaran yang sesuai bagi peserta didik.

"Kami juga mewanti-wanti sekolah, kepala sekolah sebagai koordinator untuk memastikan guru-gurunya dapat melaksanakan pembelajaran daring dengan materi-materi yang sudah disediakan," ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Komite SMP Negeri 3 Pontianak, Hery Syamsuri, menyambut baik kebijakan pembelajaran daring tersebut. Menurutnya, belajar dari rumah menjadi pilihan yang lebih aman dibandingkan memaksakan siswa tetap datang ke sekolah saat kondisi udara tidak sehat.

"Pada dasarnya orang tua murid dan komite sangat setuju sekali. Karena kalau dipaksakan juga, perjalanan dari rumah menuju sekolahnya itu berkabut juga," ucap Hery.

Ia menambahkan, peran orang tua menjadi semakin penting selama anak menjalani pembelajaran dari rumah. Pendampingan diperlukan agar anak tetap mengikuti kegiatan belajar dan tidak terlalu banyak melakukan aktivitas di luar ruangan.

Bagi orang tua yang memiliki keterbatasan waktu karena pekerjaan, Hery menyarankan adanya dukungan dari anggota keluarga lain untuk membantu mengawasi aktivitas belajar anak.

"Sebaiknya mungkin ada kakaknya, abangnya yang ada waktu. Jadi kalau bisa ada yang memantau dan kalau bisa juga di malam hari diulang lagi," katanya.

Melalui kerja sama antara pemerintah, sekolah, dan keluarga, proses pendidikan diharapkan tetap berjalan meskipun berada dalam kondisi darurat kabut asap. Selain menjaga keberlangsungan pembelajaran, sinergi tersebut juga menjadi bagian dari upaya melindungi kesehatan dan keselamatan generasi muda di tengah ancaman karhutla.

Baca juga: Asap Karhutla Memburuk, Sekolah di Sambas BDR 27–28 Agustus 2026

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....