Gemawan Perkuat Perempuan Desa sebagai Motor Penggerak Pembangunan
- 12 Agt 2026 17:12 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Kayong Utara - Semangat perubahan tumbuh dari desa, ketika perempuan Kayong Utara, Kalimantan Barat mulai mengambil peran menentukan arah pembangunan secara mandiri dan berkelanjutan. Tahap awal program penguatan kapasitas Pegiat Perubahan menunjukkan perkembangan positif.
Sebanyak 18 desa atau 41 persen dari total desa sasaran di empat kecamatan telah mengutus perwakilannya mengikuti pelatihan yang digelar pada 10 hingga 11 Agustus 2026. Senior Pegiat Gemawan, Maulisa mengatakan, program yang digagas Gemawan melalui kolaborasi strategis bersama Pemerintah Kabupaten Kayong Utara tersebut menjadi langkah awal membangun kekuatan sosial baru yang berakar di tingkat desa.
Peserta berasal dari Kecamatan Seponti, Teluk Batang, Sukadana, dan Simpang Hilir. Keempat wilayah ini dinilai memiliki potensi besar untuk mendorong transformasi pembangunan yang lebih inklusif dan berkeadilan.
Dukungan terhadap program juga datang dari Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Peternakan Kabupaten Kayong Utara serta para Koordinator Badan Penyuluh Pertanian atau BPP. Keterlibatan lintas sektor ini memperkuat upaya membangun kepemimpinan perempuan dan pembangunan berbasis masyarakat.

Menurutnya, pelatihan menjadi bagian dari strategi jangka panjang mendorong perubahan sistemik dalam tata kelola sumber daya alam dan pembangunan desa melalui pendekatan Rekognisi, Representasi, dan Redistribusi atau 3R. Pendekatan tersebut menempatkan perempuan bukan sekadar sebagai penerima manfaat pembangunan, tetapi sebagai aktor utama yang memiliki ruang, suara, dan pengaruh dalam menentukan kebijakan serta arah pembangunan di tingkat desa.
“Para pegiat dibekali kemampuan kepemimpinan, pengorganisasian masyarakat, pengembangan usaha mandiri, praktik agroekologi, hingga pemanfaatan teknologi yang inklusif. Mereka juga dilatih mengidentifikasi persoalan desa, merumuskan inisiatif perubahan, membangun jejaring, serta memperkuat kolaborasi multipihak,” katanya.
Maulisa, mengatakan pelatihan tersebut bukan hanya agenda peningkatan kapasitas, tetapi investasi sosial untuk melahirkan pemimpin perubahan di tingkat desa. “Kami ingin menciptakan pegiat yang mampu mengorganisir masyarakat, terutama kelompok perempuan, sehingga lahir gerakan perempuan desa yang kuat, mandiri, dan mampu memengaruhi arah pembangunan,” ujar Maulisa.
Menurutnya, gerakan perubahan akan diawali dari penguatan sektor pertanian yang diinisiasi dan dikelola kelompok perempuan di masing-masing desa. Pertanian dipilih karena dekat dengan kehidupan masyarakat sekaligus memiliki potensi meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Untuk menjaga keberlanjutan gerakan, peserta dipersiapkan menjadi enumerator, moderator, fasilitator, dan inisiator perubahan. Mereka diharapkan mampu mengidentifikasi persoalan sekaligus mengonsolidasikan kekuatan masyarakat untuk menghadirkan solusi nyata.
Capaian 41 persen desa sasaran pada tahap awal menjadi sinyal bahwa transformasi sosial berbasis desa mulai bergerak nyata. Di Kayong Utara, perubahan dibangun dari bawah dengan perempuan sebagai salah satu motor penggerak menuju pembangunan yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan.
Baca juga: Aksi Tanam Mangrove di Sungai Bakau Kecil, Perkuat Pesisir dari Abrasi
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....