Paradoks Cuaca di Kalbar: Banjir Sekaligus Karhutla

  • 19 Jan 2026 16:28 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak – Secara klimatologis, sekitar bulan Februari curah hujan lebih rendah dari bulan sebelum maupun setelahnya. Namun, pada Januari 2026 paradoks cuaca di Kalimantan Barat (Kalbar) mengalami peristiwa banjir rob maupun karhutla secara bersamaan.

Biasanya musim kering dimulai pada Februari, tapi pada Januari 2026 curah hujan rendah dan masuk pada musim kering. Kondisi cuaca ini diakui masih dikategorikan normal.

“Untuk kering yang cukup panjang pada terjadi pada bulan Juli, Agustus, dan September. Banjir rob tinggi pada bulan November, Desember, dan Januari,” ujar Sutikno, SP.,M.Ling, Koordinator Bidang Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Supadio Pontianak saat “Pontianak Menyapa” di Pro 1 RRI Pontianak Senin, 19 Januari 2026.

Meski demikian, menurutnya, warga masih perlu mewaspadai kondisi curah hujan pada akhir Januari masih terpantau masih sangat rendah. “Hingga akhir Januari curah hujan masih sangat rendah sekali, sehingga potensi karhutla masih akan menguat, tentunya perlu kewaspadaan ekstra,” ucapnya.

Paradoks cuaca yang terjadi di awal 2026, diakui Sutikno, bukan merupakan peralihan ke siklus musim kemarau. Meski banjir rob masih perlu diwaspadai walaupun tidak terjadi hujan lebat maupun angin kencang.

“Musim kemarau syaratnya harus minimal 30 hari curah hujan rendah. Saat ini masih 10 hari mengalami curah hujan rendah. Jadi, kami melihatnya sebagai jeda curah hujan,” katanya.

Sutikno mengingatkan bahwa kegiatan melaut perlu mewaspadai angin kencang yang terjadi. Selama seminggu terakhir, angin cukup kencang di Kendawangan terutama Ketapang bagian selatan.

“Pantauan kami puncaknya pada 20-23 Januari, angin menguat lagi. Kami menghimbau nelayan khususnya di sekitar perairan Ketapang perlu mewaspadai potensi angin kencang yang berpotensi membahayakan nelayan,” katanya, mengingatkan.

Angin kencang ekstrem, diakui Sutikno berada pada perairan laut Jawa. Wilayah Kalbar angin kencang terjadi secara signifikan di wilayah perairan Ketapang.

“Banyak perairan di Kalbar, termasuk di perairan Pontianak, Sambas dalam kategori tinggi gelombang sedang 1,25-2,5 m,” ujarnya.

Terakhir Sutikno mengimbau masyarakat yang akan berwisata ke wilayah perairan untuk lebih berhati hati. “Bagi warga Kalbar yang akan berekreasi ke Pulau Lemukutan perlu waspada pada tanggal 20-23 Januari yakni angin kencang, gelombang ada kenaikan, lebih baik menunda dulu untuk periode ini,” katanya, mengakhiri.

Baca juga: Cuaca Cerah Berawan di Kalbar 19 Januari 2026

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....