Intensitas Hujan Tinggi, Sejumlah Wilayah Kalbar Terdampak Banjir

  • 09 Jan 2026 13:46 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Penanggulangan Bencana Provinsi Kalimantan Barat melaporkan sejumlah daerah di Kalbar terdampak banjir dalam beberapa hari terakhir. Bencana ini dipicu oleh banjir rob serta tingginya intensitas curah hujan.

Koordinator Harian UPT Pusdalops Kalbar, Daniel, menyampaikan bahwa laporan tersebut dihimpun dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kabupaten dan kota hingga Jumat, 9 Januari 2026. Dampak banjir bervariasi, mulai dari genangan hingga banjir bandang disertai longsor.

"Berdasarkan informasi yang kami terima dari BPBD kabupaten dan kota, per hari ini ada beberapa wilayah yang terdampak bencana banjir, baik akibat banjir rob maupun karena intensitas hujan yang cukup lebat," ujar Daniel, Jumat (09/01/2026).

Di Kabupaten Sambas, banjir dilaporkan terjadi sejak 2-5 Januari 2026. Bencana tersebut melanda Desa Tempapan Hulu dan Desa Sajing di Kecamatan Galing, dengan total terdampak sebanyak 406 kepala keluarga atau 1.724 jiwa.

Sementara itu, di Kabupaten Sekadau, banjir terjadi pada 7-8 Januari 2026. Di Desa Melati tercatat sebanyak 246 kepala keluarga atau 902 jiwa terdampak, dengan 227 rumah terendam. Di Desa Mongpo, Kecamatan Nanga Taman, banjir berdampak pada 537 kepala keluarga atau 1.921 jiwa dengan jumlah rumah terendam sebanyak 227 unit.

Adapun di Desa Lembah Beringin, Kecamatan Nanga Mahap, banjir berdampak pada 417 kepala keluarga atau 1.382 jiwa, serta merendam sekitar 350 rumah warga.

"Untuk Kabupaten Sekadau, beberapa desa terdampak cukup signifikan dengan ratusan rumah warga terendam akibat luapan air setelah hujan dengan intensitas tinggi," ucap Daniel.

Kabupaten Melawi juga dilaporkan mengalami banjir bandang yang disertai tanah longsor. Hingga Jumat pagi, BPBD Melawi masih melakukan kaji cepat untuk mendata jumlah warga serta fasilitas umum yang terdampak.

"Di Kabupaten Melawi, selain banjir, juga terjadi banjir bandang dan tanah longsor. Sampai pagi ini tim BPBD masih melakukan kaji cepat untuk memastikan jumlah warga dan fasilitas umum yang terdampak," kata Daniel.

Di Kecamatan Tanah Pinoh, banjir bandang melanda empat desa, yakni Desa Batu Luar dengan 88 kepala keluarga atau 245 jiwa terdampak, Desa Maris Permai sebanyak 55 kepala keluarga atau 160 jiwa, Desa Bina Jaya sebanyak 45 kepala keluarga atau 120 jiwa, serta Desa Pelita Kenaya dengan 51 kepala keluarga atau 172 jiwa terdampak.

Selain itu, banjir bandang juga terjadi di Kecamatan Tanah Pinoh Barat dan melanda sejumlah desa. Namun hingga kini, data lengkap warga terdampak masih dalam proses pendataan oleh BPBD setempat.

"Untuk beberapa kecamatan lainnya, data jumlah warga terdampak masih kami tunggu karena BPBD kabupaten sedang melakukan pendataan di lapangan," ujar Daniel.

Banjir juga dilaporkan terjadi di Kota Singkawang akibat banjir rob dan hujan lebat, serta di Kabupaten Sintang, tepatnya di Desa Nangapari, Kecamatan Tempunak. Data warga dan fasilitas umum terdampak di wilayah tersebut masih dalam tahap kaji cepat.

Daniel menegaskan, Pusdalops Provinsi Kalimantan Barat terus mendorong seluruh BPBD kabupaten dan kota untuk berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan dan desa guna mempercepat pembaruan data dampak bencana.

"Kami mendorong BPBD setempat untuk segera melakukan pembaruan data warga dan fasilitas umum yang terdampak. Data ini sangat penting sebagai dasar bagi pemerintah daerah dan provinsi dalam menentukan langkah penanggulangan bencana," ujar Daniel.

Ia juga mengingatkan bahwa potensi hujan di Kalimantan Barat masih cukup tinggi dalam beberapa hari ke depan, sehingga risiko banjir masih berpeluang meluas.

"Berdasarkan prakiraan BMKG, hampir seluruh wilayah kabupaten dan kota di Kalimantan Barat masih berpotensi diguyur hujan, baik dengan intensitas ringan hingga lebat, durasi singkat maupun lama," tutur Daniel, menjelaskan.

Menurutnya, selain faktor curah hujan, kondisi infrastruktur seperti sungai, parit, dan drainase yang tidak berfungsi optimal turut mempercepat terjadinya banjir.

"Ini menjadi peringatan bagi kita bersama. Mari dari masyarakat hingga pemerintah di tingkat RT, dusun, desa, dan kecamatan melihat kembali kesiapan lingkungan masing-masing dalam menampung air hujan. Jika tidak siap, maka banjir sangat berpotensi terjadi," pungkasnya.

Daniel juga mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di wilayah pesisir dan bantaran sungai, untuk tetap waspada dan mengikuti perkembangan informasi cuaca dari BMKG.

Baca juga : BPBD Antisipasi Bencana di Tengah Curah Hujan Tinggi

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....