Ustaz Sholihin: Jalani Ramadan tanpa Toxic
- 20 Feb 2026 22:52 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Ramadan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, bulan suci ini menjadi momentum membersihkan hati dari berbagai “toxic” atau racun kehidupan yang merusak hubungan dan lingkungan sosial.
Ustaz Sholihin HZ menjelaskan, istilah toxic menggambarkan hubungan atau lingkungan yang destruktif, merusak, dan sarat energi negatif. Dalam konteks Ramadhan, menurutnya, sikap dan perilaku toxic seharusnya ditinggalkan. Hal itu disampaikannya dalam Program Ramadhan Vaganza di Pro 2 Pontianak, Jumat, 20 Februari 2026, sore.
“Ramadan hadir sebagai nikmat Allah SWT kepada hamba-Nya. Manusia itu tak luput dari salah dan dosa. Karena itu, diperlukan satu momen istimewa untuk menghapus, membakar, dan meminimalisir segala kesalahan tersebut. Ramadan adalah momen yang ditunggu-tunggu orang beriman,” ujarnya.
Ustaz Sholihin menegaskan, Ramadan harus dijalani tanpa toxic karena bulan ini dipenuhi keberkahan dan pahala yang dilipatgandakan. Berbagai amalan seperti puasa, salat tarawih, tadarus Al-Qur’an, dan dzikir menjadi ladang pahala yang luar biasa.
Ketika Ramadan tiba, Allah SWT membuka pintu kebaikan dan kenikmatan seluas-luasnya. Amalan sunnah dinilai seperti amalan wajib, sementara amalan wajib diberi ganjaran berlipat ganda. Keistimewaan ini, lanjutnya, tidak ditemukan di bulan-bulan lain.
“Sayang sekali jika Ramadan yang penuh rahmat ini justru diisi dengan penyakit hati, iri, dengki, amarah, dan sikap negatif lainnya,” katanya.
Ustaz Sholihin juga menyampaikan, puasa di bulan Ramadhan memiliki keistimewaan tersendiri karena bersifat Sir' (rahasia). Artinya, hanya Allah dan hamba-Nya yang benar-benar mengetahui kualitas puasanya.
Karena sifatnya yang rahasia, puasa menjadi sarana efektif untuk membersihkan hati. Tujuannya bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi mengasah kepekaan spiritual serta kemampuan mengendalikan hawa nafsu.
“Puasa bukan untuk mematikan nafsu, melainkan mengendalikannya," katanya, menegaskan.
Ia menambahkan, salah satu cara paling efektif untuk mengendalikan nafsu adalah dengan berpuasa. Dari pengendalian diri inilah lahir pribadi yang lebih sabar, lebih bijak, dan jauh dari sikap toxic.
Ramadhan, lanjut Sholihin, seharusnya menjadi ruang perbaikan diri total, baik dalam hubungan dengan Allah maupun sesama manusia. Dengan meninggalkan sikap negatif dan memaksimalkan ibadah, umat Islam diharapkan keluar dari Ramadhan dalam keadaan hati yang lebih bersih dan jiwa yang lebih tenang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....