Atlet Kalbar: Pengorbanan dan Prestasi adalah Bentuk Kepahlawanan
- 09 Nov 2025 16:33 WIB
- Pontianak
KBRN, Pontianak: Dalam momentum Hari Pahlawan 10 November, semangat kepahlawanan tak hanya dimaknai dari perjuangan di medan perang, tetapi juga dari perjuangan dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dunia olahraga. Hal itu disampaikan atlet Tarung Derajat Kalimantan Barat (Kalbar), I Ageng Riski Ariani.
Ageng menilai bahwa pahlawan masa kini bisa lahir dari siapa pun yang berani melampaui batas dirinya dan memberikan dampak positif bagi orang lain. "Pahlawan itu tidak harus pakai senjata, tapi bisa orang-orang yang melakukan hal yang bisa berdampak pada orang lain, dan orang-orang yang bisa melewati titik batas normalnya manusia," kata Ageng di Pontianak, Minggu (9/11/2925).
Dia mencontohkan figur atlet Kalbar, Veddriq Leonardo, peraih medali Olimpiade, sebagai salah satu pahlawan olahraga yang mampu membuat bangsa bangga.
"Pahlawan olahraga itu atlet-atlet yang konsisten berprestasi, baik di internasional maupun ajang nasional, dan atlet-atlet yang menjunjung tinggi sportifitas. Orang-orang yang mengukir sejarah di cabang olahraga baik tingkat dunia maupun tingkat nasional dan semua cabang olahraga. Mereka layak disebut pahlawan karena prestasi mereka melampaui kepentingan pribadi dan berhasil membuat bangsa, negara dan daerah tuh bangga terhadap prestasinya tersebut," katanya.
Ageng menilai, perjuangan seorang atlet juga merupakan bentuk kepahlawanan. Bagi Ageng, untuk bisa mencapai puncak prestasi itu adalah pertarungan abadi melawan keterbatasan diri, dimana setiap tetes keringat, air mata, dan darah, dibayar dengan kebanggaan saat menang di pertandingan.
"Untuk bisa mendapatkan puncak prestasi olahraga itu yang pastinya satu, disiplin, mau melewati batas normal seorang manusia, bisa mengatasi pikirannya sendiri. Terus, mau melatih fisiknya lebih dari yang lain. Melakukan pengorbanan seperti kayak gak bisa ngumpul sama teman-teman, harus latihan. Ada pengorbanan untuk bisa mereka mencapai puncak prestasi yaitu mau keluar dari zona nyaman," ujarnya.
Namun di sisi lain, Ageng juga menyoroti nasib banyak atlet senior yang di masa tua seakan terlupakan oleh negara. Ia menyebut hal itu sebagai bentuk pengkhianatan terhadap pengorbanan yang telah diberikan oleh para pahlawan olahraga.
"Itu sangat miris dan memilukan seperti pengkhianatan terhadap pengorbanan yang telah mereka berikan, mereka mempertaruhkan masa muda, kesehatan, bahkan masa depan mereka demi nama baik bangsa. Seharusnya negara memberikan jaminan kesejahteraan mereka di hari tua, tapi kan banyak sekali atlet-atlet yang sudah pensiun malah diabaikan dan ya nasibnya tidak jelas," ucap Ageng.
Untuk itu, Ageng berharap pemerintah lebih memperhatikan kesejahteraan atlet, tidak hanya saat mereka masih aktif berlaga. Dia juga mendorong agar para atlet disiapkan dengan pelatihan atau profesi lain untuk masa setelah pensiun.
"Kami atlet-atlet muda ini tidak hanya menjadi atlet, tapi kami mempunyai pekerjaan juga selain menjadi atlet. Dan program-program pelatihan seperti menjadi pelatih ataupun profesi lainnya untuk kesiapan para atlet di masa setelah pensiun menjadi atlet," tuturnya.
Bagi Ageng, pahlawan olahraga itu tidak hanya diingat saat meraih medali saja, tapi kesejahteraan mereka adalah tolok ukur penghargaan bangsa terhadap atlet.
Baca juga: Makna dan Pahlawan Olahraga Sesungguhnya
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....