Batang Burok, Gurihnya Warisan Pontianak

  • 31 Jan 2026 00:02 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak – Di tengah gempuran jajanan modern, kue tradisional khas Kalimantan Barat bernama batang burok tetap bertahan dan diminati sebagai oleh-oleh khas Pontianak. Cita rasanya khas gurih, berkuah santan, dan bertekstur lembut menjadikannya berbeda dari kebanyakan kue pasar lain yang cenderung manis.

Batang burok dikenal sebagai salah satu kuliner tradisional Melayu Kalimantan Barat dan telah ditetapkan sebagai bagian dari Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Kue ini memiliki bentuk seperti risol, namun tidak digoreng, melainkan dikukus bersama kuah santan berbumbu, sehingga menghasilkan rasa asin, gurih dan creamy.

Owner Bingke Kamboja Pontianak, Meilisa Ardeani mengatakan kedekatannya dengan kue tradisional sudah dimulai sejak dirinya masih kecil karena mengikuti sang ibu berjualan. Usaha yang kini berkembang menjadi toko oleh-oleh modern itu berangkat dari jualan sederhana menggunakan gerobak.

“Kalau untuk kue tradisional itu, aku sudah dari kecil. Jualannya dulu pakai gerobak, ikut mama. Untuk outlet yang buka setiap hari seperti sekarang sudah jalan 10 tahun,” kata Meilisa saat diwawancarai oleh reporter RRI Pontianak pada, Jumat 30 Januari 2026.

Menurutnya, batang burok menjadi salah satu produk yang cukup dicari pelanggan, meskipun karakternya berbeda dari kue lain di etalase. Jika kebanyakan jajanan pasar bercita rasa manis, batang burok justru menawarkan sensasi asin dan gurih.

“Batang burok, alhamdulillah banyak peminatnya. Di store kita banyak kue manis, sementara batang burok ini asin, gurih, sedikit creamy. Kalau versi modernnya, ini seperti risol berkuah,” ujar Meilisa

Kue tradisional khas Kalimantan Barat, batang burok yang dibuat langsung oleh Owner Bingke Kamboja oleh-oleh khas Pontianak, Meilisa Ardeani. (Foto: RRI/Gulista)

Nama batang burok sendiri berasal dari tampilan kulit luarnya yang tidak mulus. Dalam dialek setempat kata “buruk” disebut "burok" merujuk pada bentuk kulit kue yang berkerut dan tidak rata, meski justru menjadi ciri khas.

“Disebut batang burok karena bentuknya seperti batang, tapi kulitnya jelek, berkerut-kerut, tidak bagus. Burok itu artinya jelek dalam penyebutan di Pontianak,” Meilisa menjelaskan sambil menunjukkan kulit batang burok.

Ia menambahkan, resep yang digunakan diperoleh dari proses belajar mandiri dengan bertanya kepada warga generasi lama dan melakukan sejumlah penyesuaian rasa. Kuah santan dibuat lebih ringan namun tetap creamy, dan dikukus bersamaan dengan kue agar bumbu lebih meresap.

Saat ini batang burok dijual per potong maupun dalam kemasan kotak sebagai oleh-oleh. Batang burok tidak hanya menjadi pilihan camilan, tetapi juga bagian dari upaya menjaga keberlanjutan kuliner tradisional Kalimantan Barat agar tetap dikenal lintas generasi.

Baca juga: Dari Dapur, Jasimah Menjaga Rasa Kue Semprong Keluarga

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....