Dari Dapur, Jasimah Menjaga Rasa Kue Semprong Keluarga

  • 27 Jan 2026 20:20 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Aroma santan dan gula yang dipanggang perlahan menguap dari sebuah dapur sederhana. Di sanalah Jasimah, dengan tangan terampil dan penuh kesabaran, menggulung satu per satu kue semprong yang masih hangat. Bagi sebagian orang, kue ini hanyalah camilan. Namun bagi Jasimah, setiap gulungan semprong menyimpan cerita, kenangan, dan harapan.

Usaha kue semprong yang dijalaninya bukanlah bisnis besar dengan mesin modern. Semua dikerjakan secara manual, seperti yang ia pelajari sejak kecil. Resepnya merupakan warisan keluarga yang hingga kini tetap dijaga, tanpa banyak perubahan.

“Saya belajar membuat semprong dari orang tua. Dari dulu rasanya memang seperti ini, jadi saya ingin tetap mempertahankannya,” tutur Jasimah dengan suara lembut.

Setiap hari, Jasimah memulai aktivitasnya sejak pagi. Menyiapkan adonan, memanaskan cetakan, lalu menggulung kue dengan cepat sebelum teksturnya mengeras. Pekerjaan ini menuntut ketelitian dan kesabaran, namun ia menjalaninya dengan penuh keikhlasan.

Kue semprong buatannya dikenal memiliki tekstur renyah dan aroma khas santan yang menggoda. Tanpa bahan pengawet, tanpa jalan pintas. Semua dibuat dengan niat menjaga kualitas dan kepercayaan pelanggan.

“Yang penting bagi saya bukan cuma laku, tapi orang yang makan merasa senang dan ingin pesan lagi,” katanya sambil tersenyum.

Seiring waktu, kue semprong Jasimah mulai dikenal lebih luas. Pesanan datang tidak hanya dari tetangga sekitar, tetapi juga dari luar Pontianak. Saat hari besar keagamaan, dapurnya menjadi lebih sibuk dari biasanya. Meski lelah, Jasimah mengaku bahagia.

“Capek pasti ada, tapi kalau ingat ini usaha sendiri dan bisa membantu ekonomi keluarga, rasanya semua terbayar,” ujarnya.

Di tengah derasnya arus makanan modern, Jasimah tetap memilih bertahan dengan kue semprong tradisional. Baginya, mempertahankan rasa berarti menjaga identitas dan menghormati warisan orang tua.

Dari dapur kecilnya itu, Jasimah membuktikan bahwa ketekunan, kejujuran, dan cinta pada tradisi mampu menghidupkan sebuah UMKM serta menjaga rasa yang tak sekadar mengenyangkan, tetapi juga menghangatkan kenangan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....