Cegah Stunting dan Penyakit Genetik, Calon Pengantin Diminta Rutin Cek Kesehatan
- 31 Agt 2026 16:26 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Mempersiapkan sebuah pernikahan tidak seharusnya hanya berfokus pada rencana resepsi atau kesiapan finansial semata. Lebih dari itu, pemeriksaan kesehatan pranikah (premarital check-up) merupakan fondasi paling krusial bagi para calon pengantin guna memutus mata rantai penularan penyakit dan melahirkan generasi penerus yang berkualitas.
Hal tersebut ditegaskan oleh dr. Nopitasari saat menjadi narasumber dalam program siaran Toserba di Studio RRI Pro 2 Pontianak, Jumat, 21 Agustus 2026 lalu. Ia memaparkan bahwa terdapat lima aspek fundamental yang wajib dipersiapkan oleh setiap individu sebelum melangkah ke jenjang pernikahan. Kelima aspek tersebut meliputi kesiapan fisik atau kesehatan, intelektual atau literasi, finansial, mental, serta kesiapan sosial untuk menyatukan dua latar belakang keluarga yang berbeda.
"Pemeriksaan kesehatan pranikah harus dilakukan sedini mungkin, mulai dari sekarang. Langkah preventif ini bertujuan untuk mengetahui rekam medis pasangan sekaligus mendeteksi risiko penyakit genetik yang bisa diturunkan kepada anak, seperti talasemia, asma, epilepsi, hingga diabetes," ujar dr. Nopitasari di hadapan penyiar Erna.
Selain mendeteksi penyakit genetik turunan, tes pranikah yang difasilitasi oleh pemerintah juga mencakup deteksi dini terhadap penyakit menular seksual, di antaranya HIV, Sifilis, dan Hepatitis B (HBsAg). Apabila dari hasil tes pranikah ditemukan indikasi penyakit tertentu, pasangan dapat segera mencari solusi penanganan medis sedini mungkin dan mengomunikasikannya secara terbuka kepada keluarga besar sebelum ikatan pernikahan diresmikan.
Dalam kesempatan tersebut, dr. Nopitasari juga menyoroti pentingnya pemenuhan gizi seimbang bagi remaja putri sebagai calon ibu di masa depan. Ia sangat menyarankan agar remaja putri rutin mengonsumsi Tablet Tambah Darah (zat besi) serta asam folat dengan dosis 400 mikrogram setiap harinya. Kebutuhan nutrisi ini terbukti sangat vital untuk mencegah anemia, bayi lahir dengan berat badan rendah, stunting, hingga mencegah kecacatan fatal pada tabung saraf janin (anensefali) yang pembentukannya biasa terjadi pada awal masa kehamilan 2 hingga 4 minggu.
Lebih lanjut, dr. Nopitasari turut menepis mitos kesehatan reproduksi yang beredar luas di masyarakat, salah satunya anggapan bahwa mengonsumsi air es saat menstruasi dapat membekukan darah haid. Menurutnya, deras tidaknya volume darah murni dipengaruhi oleh seberapa tebal dinding rahim yang meluruh. Guna menjaga keseimbangan gizi harian, ia mengimbau generasi muda untuk menerapkan pola makan sehat dengan merujuk pada pedoman "Isi Piringku" yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan RI.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....