Mengapa Kanker Usus Makin Banyak Mengincar Generasi Muda?

  • 21 Agt 2026 08:55 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Mungkin kamu sering melihat potongan video atau cerita yang belakangan ini viral di media sosial, tentang anak muda di usia 20-an atau 30-an yang tiba-tiba terdiagnosis kanker usus besar. Berita-berita ini membuat banyak orang terkejut karena selama ini kanker usus dianggap sebagai "penyakit orang tua". Fenomena ini bukan sekadar rumor internet, melainkan kenyataan medis yang makin sering ditemui, di mana usia penderitanya kini bergeser semakin muda.

Penyebab utamanya sangat erat kaitannya dengan perubahan gaya hidup dan pola makan di era modern. Generasi sekarang sangat terbiasa dengan makanan cepat saji (fast food), makanan olahan instan (ultra-processed food), serta jajanan yang tinggi gula, garam, dan lemak jenuh. Sebaliknya, asupan serat harian yang berasal dari buah, sayur, dan biji-bijian justru sangat kurang. Pola makan serba praktis ini membuat usus harus bekerja keras dan memicu peradangan jangka panjang.

Faktor pemicu berikutnya adalah kebiasaan hidup pasif atau minim bergerak (sedentary lifestyle). Rutinitas harian yang menuntut duduk berjam-jam di depan laptop atau smartphone, ditambah kurangnya olahraga, membuat pergerakan usus menjadi lambat. Kondisi ini diperparah oleh kebiasaan begadang, tingkat stres yang tinggi, serta konsumsi rokok atau minuman beralkohol yang merusak ekosistem bakteri baik di dalam pencernaan.

Berikut adalah tanda-tanda awal kanker usus besar yang sering muncul di usia muda dan perlu diwaspadai:

  • Perubahan Pola Buang Air Besar (BAB): Mengalami diare atau sembelit (konstipasi) tanpa alasan yang jelas dan berlangsung lebih dari beberapa hari, atau merasakan tekstur tinja yang mendadak berubah menjadi jauh lebih kecil/pipih seperti kotoran kambing.
  • Perdarahan Saat BAB: Adanya darah segar atau darah berwarna merah tua/gelap pada kotoran. Gejala ini sering keliru dikira sebagai wasir (ambeien).
  • Rasa Tidak Tuntas Saat BAB: Menderita sensasi seperti usus belum sepenuhnya kosong setelah selesai buang air besar.
  • Nyeri atau Kram Perut Berulang: Sering merasakan kram, perut kembung, rasa penuh, atau nyeri yang tidak biasa di area perut.
  • Penurunan Berat Badan Tanpa Sebab: Berat badan turun secara drastis padahal tidak sedang menjalani diet atau perubahan aktivitas fisik.
  • Rasa Lelah Berlebihan dan Lemak Darah Rendah (Anemia): Kehilangan darah secara perlahan dan terus-menerus di dalam usus bisa menyebabkan anemia, yang membuat tubuh terasa sangat lemas, pucat, dan gampang lelah meski cukup tidur.

Alasan lain mengapa penyakit ini sering memburuk di usia muda adalah kelalaian saat gejala awal muncul. Dalam berbagai cerita viral, para penyintas muda mengaku sempat mengira gejala awal mereka—seperti nyeri perut kram, buang air besar tidak teratur, atau sembelit berulang—hanya sekadar maag, asam lambung, atau wasir biasa. Karena merasa masih muda dan sehat, gejala-gejala kecil tersebut sering diabaikan dan ditunda pemeriksaannya sampai kondisinya sudah cukup parah.

Maraknya kasus yang diangkat di media sosial saat ini sebenarnya memberikan dampak positif sebagai pengingat atau wake-up call. Viral-nya kabar ini membantu membuka mata banyak orang bahwa kanker usus tidak memandang usia dan bisa dicegah jika dideteksi lebih awal. Kesadaran masyarakat pun mulai terbangun untuk tidak lagi menyepelekan gangguan pencernaan yang berlangsung terus-menerus.

Pada akhirnya, cara terbaik untuk melindungi diri adalah dengan kembali ke pola hidup yang lebih seimbang. Mulailah dengan memperbanyak konsumsi serat harian, membatasi makanan olahan dan minuman tinggi gula, rutin berolahraga, serta cukup minum air putih. Jika mengalami perubahan pola buang air besar yang abnormal atau rasa sakit perut yang tidak kunjung hilang, jangan ragu untuk segera memeriksakan diri ke dokter.

Baca juga: BPSDM Kalbar Perkuat Kompetensi ASN Perempuan untuk Cegah Kanker sejak Dini

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....