Gizi Seimbang Jadi Kunci Dukung Kesembuhan Penderita TBC

  • 08 Agt 2026 15:58 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Pemenuhan gizi menjadi bagian penting dalam mendukung proses penyembuhan pasien tuberkulosis (TBC). Selain disiplin menjalani pengobatan, penderita TBC perlu memastikan asupan energi, protein, vitamin, dan mineral tetap terpenuhi untuk membantu menjaga daya tahan tubuh serta memperbaiki status gizi.

Hal tersebut disampaikan mahasiswa RPL Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Pontianak, Andini Saputri, Selsa Octavianty, Lily Okvianti, Tiara Safitri, dan Meri Andani, dalam program Indonesia Sehat RRI Pro 1 Pontianak, Jum’at, 7 Agustus 2026.

Andini menjelaskan, TBC merupakan penyakit infeksi menular pada saluran pernapasan yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis. Salah satu gejala yang perlu diwaspadai adalah batuk berkepanjangan.

“Ditandai dengan gejala batuk yang lebih dari dua minggu, terus juga penurunan berat badan yang drastis, serta memerlukan pengobatan antibiotik secara rutin selama minimal enam bulan agar bisa sembuh total,” ujar Andini.

Sementara itu, Selsa Octavianty menjelaskan, penularan TBC dapat terjadi melalui percikan dahak yang mengandung bakteri TBC. Bakteri tersebut dapat bertahan di udara, terutama pada ruangan tertutup, lembap, minim sirkulasi udara, dan kurang mendapatkan cahaya matahari.

Selsa mengatakan, TBC dan masalah gizi memiliki hubungan timbal balik yang erat. Kondisi malnutrisi dapat menyebabkan daya tahan tubuh melemah sehingga seseorang lebih mudah terkena infeksi. Sebaliknya, infeksi TBC juga dapat memperburuk status gizi pasien.

“Malnutrisi ini memiliki hubungan timbal balik yang sangat erat atau sering disebut seperti lingkaran setan dalam dunia medis,” jelas Selsa.

Menurutnya, infeksi TBC dapat menyebabkan tubuh mengalami hipermetabolisme sehingga energi yang dibakar lebih banyak. Selain itu, pasien dapat mengalami kehilangan nafsu makan dan gangguan penyerapan zat gizi.

Untuk memutus siklus tersebut, pasien TBC perlu mendapatkan pola makan tinggi energi dan tinggi protein atau diet TKTP. Kebutuhan energi pasien disebut dapat meningkat dibandingkan orang sehat karena tubuh bekerja lebih keras melawan infeksi.

Mahasiswa Gizi lainnya, Lily Okvianti, menyebut mual, muntah, penurunan nafsu makan, perubahan rasa pada lidah, hingga gangguan penyerapan nutrisi menjadi sejumlah tantangan yang dapat memengaruhi pola makan pasien selama menjalani pengobatan.

Menurut Lily, kondisi tersebut dapat membuat pasien kesulitan memenuhi kebutuhan nutrisi meskipun sudah berusaha makan dalam jumlah normal. Karena itu, pasien disarankan menyesuaikan pola makan dengan kondisi tubuh. Salah satunya dengan menerapkan pola makan dalam porsi kecil tetapi lebih sering.

“Jangan memaksa makan satu porsi besar sekaligus karena justru itu akan memicu mual atau rasa begah,” kata Meri Andani.

Meri Andani menyarankan penderita TBC dapat makan sekitar lima hingga enam kali sehari dengan porsi lebih kecil. Menu yang dipilih juga sebaiknya memiliki kepadatan energi dan protein yang baik.

Sumber protein yang dapat dikonsumsi antara lain telur, ayam, ikan, tahu, dan tempe. Jika pasien sedang mual atau mengalami kesulitan menelan, makanan bertekstur lunak dan berkuah seperti sup ayam atau bubur bergizi dapat menjadi pilihan.

Andini Saputri menjelaskan, kebutuhan gizi pasien TBC perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu. Dalam perhitungan gizi, kebutuhan berat badan ideal, energi, dan protein menjadi beberapa komponen yang perlu diperhatikan.

Ia menambahkan, kebutuhan energi dan protein pada pasien TBC perlu mendapatkan perhatian lebih karena tubuh mengalami peningkatan aktivitas metabolisme dalam melawan infeksi.

“Untuk pasien TBC ini sangat disarankan untuk mengonsumsi kalori dalam kondisi yang lebih banyak dan protein yang lebih banyak juga,” ungkap Andini.

Tiara Safitri kemudian merekomendasikan sejumlah menu yang relatif mudah disiapkan dan kaya protein, seperti sup ayam kampung yang dapat dipadukan dengan kelor atau labu siam, telur tim dengan daging cincang, pepes ikan kembung, serta semur tahu dan tempe dengan telur puyuh.

Menurutnya, metode memasak juga perlu diperhatikan. Penggunaan air fryer dapat menjadi alternatif untuk mengurangi penggunaan minyak dibandingkan menggoreng makanan secara konvensional.

Lily menegaskan, keberhasilan pengobatan TBC tidak cukup hanya dengan mematuhi jadwal konsumsi obat. Pemenuhan kebutuhan gizi juga perlu menjadi perhatian selama proses pengobatan.

“Untuk keberhasilan dari kesembuhan TBC ini tidak hanya bertumpu pada kepatuhan meminum obat, tetapi asupan nutrisi juga sangat berpengaruh,” ujarnya.

Ia mengajak pasien mengubah pola pikir bahwa makanan merupakan bagian penting dalam mendukung proses pengobatan. Pasien juga dianjurkan tidak menunggu lapar untuk makan, terutama ketika efek samping obat menyebabkan nafsu makan menurun.

“Jangan menunggu lapar baru makan. Jadikan makanan sebagai jadwal wajib yang harus dipatuhi,” tegas Lili.

Selain energi dan protein, pasien juga perlu memperhatikan asupan vitamin dan mineral. Buah-buahan seperti pepaya, pisang, dan jeruk serta sayuran seperti daun kelor dan bayam dapat menjadi pilihan untuk membantu memenuhi kebutuhan zat gizi.

Dalam masa pengobatan, pasien TBC juga disarankan menghindari alkohol dan rokok. Lili menjelaskan, obat TBC dapat memberikan beban kerja pada organ hati sehingga konsumsi alkohol perlu dihindari.

Selain itu, pasien dianjurkan membatasi makanan yang terlalu manis dan berminyak serta menghindari gorengan selama proses pemulihan apabila makanan tersebut memperburuk keluhan.

“Yang pertama apalagi kebanyakan yang terkena penyakit TBC itu laki-laki. Yang harus kita pantang adalah alkohol dan juga rokok,” ujar Lili.

Pemenuhan gizi yang baik, menurut para mahasiswa Gizi Poltekkes Kemenkes Pontianak, perlu berjalan beriringan dengan kepatuhan menjalani pengobatan. Pemantauan berat badan secara berkala juga penting dilakukan untuk melihat perkembangan status gizi selama masa pemulihan.

Dengan pola makan tinggi energi dan protein, konsumsi vitamin serta mineral yang cukup, pengaturan jadwal makan, dan menghindari rokok serta alkohol, pasien TBC diharapkan dapat mempertahankan kondisi tubuh dan mendukung proses pemulihan selama menjalani pengobatan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....