Waspada Miopia Booming, Anak Diminta Batasi Screen Time Dua Jam
- 13 Jul 2026 19:49 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) Cabang Kalimantan Barat mengampanyekan gerakan One Doctor One Sight guna menekan lonjakan kasus mata minus (miopia booming) pada anak akibat tingginya durasi penggunaan gawai pascapandemi Covid-19. Kampanye edukasi ini disampaikan langsung oleh Dokter Spesialis Mata, dr. Maretha Amrayni, Sp.M., dalam dialog interaktif program TOSERBA di RRI Pro 2 Pontianak pada Jumat, 03 Juli 2026 lalu.
dr. Maretha mengungkapkan bahwa faktor perilaku di era digital saat ini memiliki andil yang sangat besar terhadap kerusakan mata anak-anak dibandingkan faktor genetik. Pembelajaran jarak jauh serta keterbatasan interaksi luar ruangan selama masa pandemi lalu telah membuat angka kejadian miopia melonjak tajam di seluruh dunia, bahkan memicu munculnya gejala sindrom mata kering (dry eye syndrome) dan kedutan (tik palpebra) di usia muda akibat kelelahan otot serta saraf mata.
Untuk mengantisipasi kerusakan yang lebih parah, ia mengimbau masyarakat, terutama pekerja kantoran dan orang tua, untuk disiplin menerapkan metode Rule of 20. Metode ini dilakukan dengan mengistirahatkan mata selama 20 detik setiap 20 menit menatap layar gawai, lalu mengalihkan pandangan melihat objek visual alami berwarna hijau di jarak 20 kaki atau sekitar 6 meter.
"Anak-anak usia sekolah disarankan tidak menatap layar gawai lebih dari 2 jam sehari. Selain itu, mereka wajib melakukan aktivitas luar ruangan (outdoor activity) minimal 2 jam per hari untuk merangsang penglihatan jarak jauh sekaligus menahan laju penambahan minus bagi yang sudah terlanjur berkacamata," kata dr. Maretha menjelaskan.
Lebih lanjut, dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Perdami ke-62 melalui Bulan Bakti Perdami, gerakan One Doctor One Sight juga berkomitmen memberikan pelayanan operasi katarak gratis bagi warga kurang mampu dengan skema satu dokter mata melayani satu pasien. Langkah ini diambil karena katarak masih menempati urutan pertama penyebab kebutaan tertinggi yang sebenarnya dapat dicegah di Indonesia.
Sebagai rangkaian aksi nyata di lapangan, Perdami Kalbar telah menggelar pemeriksaan kesehatan mata secara gratis bagi masyarakat umum pada Minggu, 05 Juli 2026 lalu, di halaman Dinas Kesehatan saat momen Car Free Day (CFD) Pontianak. Pihak panitia juga menyediakan pemeriksaan tajam penglihatan, tekanan bola mata, hingga pembagian kacamata baca gratis dengan jumlah terbatas.
Di akhir dialog, dr. Maretha mengingatkan masyarakat untuk menghindari kesalahan fatal saat menangani mata kelilipan atau iritasi, seperti mengucek mata atau menggunakan bahan tradisional yang tidak steril. Menurutnya, kebiasaan merendam mata dengan air daun sirih, madu, atau meneteskan air susu ibu (ASI) justru meningkatkan risiko infeksi jamur serius (ulkus kornea) yang dapat memicu kebutaan permanen.
Baca juga: Atasi Fenomena NEET, Pemuda Diajak Aktif Berorganisasi
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....