31 Persen Pemuda Zaman Sekarang Mengalami Masalah Kesehatan Mental
- 24 Jun 2026 13:24 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Membekali anak muda dengan gawai canggih dan kurikulum pendidikan modern, ternyata belum cukup untuk mengantar Indonesia ke gerbang Emas 2045. Tanpa pondasi akidah yang mengakar di hati, kemajuan teknologi justru berisiko melumpuhkan moral generasi masa depan.
Hal tersebut disampaikan oleh Guru SMP Negeri 10 Pontianak, Andreka Yuda Pratama, S.Pd., C.PS., dalam program bincang pagi "Toserba" (Topik Serba Ada) di RRI Pro 2 Pontianak, pada Selasa, 23 Juni 2026. Mengusung topik "Pendidikan Akidah & Akhlak bagi Generasi Muda", Andreka mengulas banyaknya fenomena negatif yang menjerat remaja masa kini.
"Berdasarkan data survei nasional, sekitar 31 persen pemuda zaman sekarang mengalami masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi. Belum lagi maraknya kejahatan remaja, judi online, hingga penyalahgunaan obat-obatan terlarang. Ini adalah pekerjaan rumah besar bagi kita bersama," ujar Andreka kepada host Naufal.
Andreka menjelaskan, secara bahasa, akidah (al-aqdu) adalah ikatan keyakinan yang mengakar kuat di dalam hati sehingga menjadi kompas moral dalam bertindak. Sementara akhlak adalah manifestasi dari keyakinan tersebut yang dipraktikkan tanpa pikir panjang, baik akhlak kepada Tuhan, sesama manusia, maupun lingkungan.
Dalam mendidik karakter remaja, Andreka menekankan tiga pilar utama, yaitu keluarga, sekolah, dan lingkungan pertemanan. Keluarga sebagai madrasatul ula (sekolah pertama) memegang peran kunci dalam menanamkan nilai agama sejak dini. Di tingkat sekolah, guru dituntut tidak hanya memberi instruksi akademis, tetapi juga menjadi role model yang nyata.
"Guru itu 'digugu dan ditiru'. Ketika kita menyuruh siswa salat atau bertutur kata sopan, tetapi kita sendiri tidak melakukannya, maka siswa akan kehilangan rasa hormat. Anak muda sekarang kritis; mereka lebih melihat apa yang kita lakukan daripada apa yang kita katakan," kata pria yang juga aktif berwirausaha sembari melanjutkan studi tersebut.
Lebih jauh, Andreka mengingatkan para remaja untuk cerdas dalam memilih lingkaran pertemanan (circle) dan menguasai 'ilmu kontrol' saat berselancar di media sosial. Menurutnya, kecerdasan intelektual (IQ) tidak akan banyak berarti jika tidak diimbangi dengan kecerdasan emosional dan akhlak yang mulia.
"Banyak orang pintar yang gagal di masyarakat karena sombong dan tidak punya empati. Orang pintar akan dikalahkan oleh orang yang terus berusaha dan berakhlak baik. Ilmu tanpa akhlak melahirkan kejahatan, akhlak tanpa ilmu melahirkan kelumpuhan," ucapnya menegaskan.
Menutup perbincangan, Andreka berpesan agar para pemuda tidak menjadi generasi bermental lemah ('mental stroberi' atau kerupuk), melainkan berani mengambil risiko, terus belajar menjadi 'gelas kosong', dan menjaga lisan serta ketikan di era digital.
"Anak muda harus punya mental yang kuat menghadapi zaman ini. Jangan takut berbuat salah dan mencoba. Mengutip Tan Malaka: terbentur, terbentur, terbentur, lalu terbentuk," ujarnya mengakhiri.
Baca juga: Belajar Jujur pada Perasaan untuk Menjaga Kesehatan Mental dan Tubuh
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....