Belajar Jujur pada Perasaan untuk Menjaga Kesehatan Mental dan Tubuh

  • 26 Mei 2026 15:34 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak — Belakangan ini, pembahasan tentang penyakit autoimun semakin sering muncul di media sosial, salah satunya adalah Systemic Lupus Erythematosus atau SLE. Banyak orang mulai mengaitkan penyakit ini dengan stres, tekanan emosional, hingga kebiasaan memendam perasaan terlalu lama.

Meski begitu, penting dipahami bahwa lupus SLE bukan penyakit yang muncul hanya karena seseorang “terlalu sering sedih” atau “kurang bahagia”.

Secara medis, SLE merupakan penyakit autoimun, yaitu kondisi ketika sistem kekebalan tubuh justru menyerang jaringan tubuh sendiri. Menurut Mayo Clinic, lupus dapat menyerang berbagai organ seperti kulit, sendi, ginjal, paru-paru, hingga sistem saraf.

Gejalanya pun cukup beragam, mulai dari mudah lelah, nyeri sendi, ruam kemerahan, demam, rambut rontok, hingga tubuh yang terasa lemah dalam waktu lama.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), penyebab lupus belum diketahui secara pasti. Namun, penyakit ini diduga dipengaruhi oleh kombinasi beberapa faktor seperti genetik, hormon, lingkungan, sistem imun, infeksi tertentu, hingga stres. Artinya, stres bukan penyebab utama lupus. Namun kondisi emosional yang berat dan berlangsung lama memang dapat memengaruhi kesehatan tubuh dan sistem imun seseorang.

Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa stres berkepanjangan dapat memicu flare atau kekambuhan gejala autoimun pada sebagian penderita lupus.

Karena itu, banyak pasien lupus merasa kondisi tubuhnya memburuk saat terlalu lelah, kurang istirahat, atau berada dalam tekanan emosional yang tinggi. Di kehidupan sehari-hari, banyak orang terbiasa memendam emosi kecil seperti menahan sedih, memaksa diri terlihat kuat, terus mengalah, atau menyimpan stres sendirian. Padahal, tekanan emosional yang terus menumpuk dapat memengaruhi kualitas tidur, nafsu makan, energi tubuh, hingga kondisi mental secara keseluruhan.

Johns Hopkins Lupus Center menjelaskan bahwa pengelolaan stres menjadi salah satu hal penting bagi penderita lupus karena kondisi emosional dapat memengaruhi flare dan kualitas hidup pasien. Karena itu, semakin banyak ahli kesehatan yang mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan mental bersamaan dengan kesehatan fisik. Namun, penting juga dipahami bahwa seseorang yang terkena lupus bukan berarti “kurang bersyukur” atau “terlalu memendam masalah”. Pernyataan seperti itu justru dapat membuat penderita merasa disalahkan atas penyakit yang dialaminya.

Lupus merupakan kondisi medis yang kompleks dan dipengaruhi banyak faktor di dalam tubuh. Tidak semuanya dapat dikendalikan hanya dengan mengatur emosi.

Meski begitu, belajar mengenali perasaan dan tidak memendam semuanya sendirian tetap penting untuk menjaga kesehatan secara keseluruhan.

Belakangan ini, kesadaran tentang kesehatan mental juga mulai meningkat. Banyak orang mulai belajar untuk beristirahat saat lelah, mengatakan “saya capek”, meminta bantuan, atau lebih jujur terhadap emosinya sendiri.

Hal-hal sederhana seperti tidur cukup, memiliki support system, mengurangi stres berlebihan, dan tidak memaksakan diri terus-menerus dapat membantu tubuh tetap lebih seimbang. Karena pada akhirnya, tubuh dan pikiran saling terhubung. Saat emosi terus dipendam tanpa ruang untuk diproses, bukan hanya mental yang lelah, tetapi tubuh juga bisa ikut terdampak.

Lupus SLE bukan penyakit yang muncul hanya karena seseorang memendam perasaan. Namun, stres dan tekanan emosional yang berkepanjangan memang dapat memengaruhi kondisi tubuh dan sistem imun. Karena itu, menjaga kesehatan bukan hanya soal makanan dan olahraga, tetapi juga tentang bagaimana seseorang memperlakukan dirinya sendiri secara emosional.

Belajar jujur pada perasaan, beristirahat saat lelah, dan tidak memendam semuanya sendirian mungkin terlihat sederhana. Namun bagi tubuh dan pikiran, hal-hal kecil tersebut bisa sangat berarti.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....