Hipertensi Diam-Diam Mengancam, Harap Rutin Cek Tekanan Darah
- 12 Jul 2026 06:53 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Hipertensi masih menjadi salah satu penyakit tidak menular yang paling berbahaya karena sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Kondisi ini bahkan dikenal sebagai silent killer karena dapat memicu komplikasi serius seperti stroke, gagal jantung hingga gangguan irama jantung apabila tidak ditangani sejak dini.
Hal tersebut disampaikan Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Rumah Sakit Mitra Medika Pontianak, dr. Edy Chandera, Sp.JP, FIHA, FAsCC, MM, saat menjadi narasumber dalam program Indonesia Sehat RRI Pro 1 Pontianak, Jum’at, 10 Juli 2026.
Menurut dr. Edy, hipertensi adalah kondisi ketika tekanan darah sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih, atau tekanan darah diastolik 90 mmHg atau lebih. Tekanan darah yang terus tinggi menyebabkan pembuluh darah menjadi semakin kaku sehingga meningkatkan risiko berbagai penyakit kardiovaskular.
"Hipertensi disebut sebagai silent killer karena sering kali tidak menimbulkan gejala. Namun ketika komplikasi muncul, kondisinya bisa langsung berat seperti stroke atau serangan jantung. Banyak pasien baru mengetahui dirinya hipertensi setelah mengalami komplikasi tersebut," ujarnya.
Ia menjelaskan, salah satu komplikasi yang perlu diwaspadai adalah gangguan irama nadi atau gangguan irama jantung. Kondisi tersebut dapat terjadi akibat perubahan struktur jantung yang dipicu hipertensi dalam jangka panjang.
"Gangguan irama nadi yang paling berbahaya adalah atrial fibrilasi karena dapat menyebabkan stroke. Yang menjadi masalah, banyak pasien tidak merasakan gejala sampai akhirnya mengalami stroke lebih dulu," jelasnya.
Dr. Edy mengatakan, meningkatnya kasus hipertensi pada usia produktif tidak lepas dari pola hidup yang kurang sehat. Berat badan berlebih, kurang aktivitas fisik, merokok, hingga pola makan yang buruk menjadi faktor utama meningkatnya tekanan darah.
Menurutnya, merokok mempercepat proses penuaan pembuluh darah sehingga hipertensi kini tidak lagi hanya dialami kelompok usia lanjut.
"Dulu hipertensi identik dengan usia tua. Sekarang usia 30 tahun bahkan lebih muda sudah banyak yang mengalami hipertensi karena gaya hidup yang kurang sehat," katanya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan jantung berdebar yang muncul tanpa penyebab jelas.
"Kalau sedang duduk santai tiba-tiba denyut jantung meningkat hingga lebih dari 150 kali per menit tanpa pencetus yang jelas, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter. Jangan hanya menduga-duga karena diperlukan pemeriksaan rekam jantung atau Holter bila diperlukan," ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, dr. Edy mengimbau masyarakat mulai rutin memeriksa tekanan darah sejak usia 30 tahun, terlebih jika memiliki riwayat hipertensi atau penyakit jantung dalam keluarga.
Ia menyarankan pemeriksaan tekanan darah dilakukan minimal enam bulan sekali bagi masyarakat yang belum memiliki riwayat hipertensi.
"Kalau sudah berusia di atas 30 tahun, jangan menunggu sakit. Mulailah rutin cek tekanan darah, olahraga, menjaga pola makan, dan berhenti merokok agar risiko penyakit jantung dapat ditekan sejak dini," katanya.
Dr. Edy juga meluruskan anggapan bahwa obat hipertensi dapat merusak ginjal. Menurutnya, kerusakan ginjal justru lebih sering disebabkan tekanan darah yang tidak terkontrol, bukan akibat obat.
"Yang merusak ginjal adalah tekanan darah yang tinggi, bukan obat hipertensinya. Karena itu pasien jangan menghentikan obat sendiri. Hipertensi merupakan penyakit kronis sehingga obat harus diminum secara rutin sesuai anjuran dokter," tegasnya.
Ia menambahkan, target pengobatan hipertensi bukan sekadar mengurangi gejala, melainkan menjaga tekanan darah tetap berada pada kisaran normal agar komplikasi dapat dicegah.
Di akhir dialog, dr. Edy kembali mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan jantung melalui pemeriksaan berkala, menerapkan pola hidup sehat, serta mematuhi pengobatan apabila telah didiagnosis hipertensi.
"Semakin dini hipertensi diketahui dan dikendalikan, semakin besar peluang mencegah stroke, gagal jantung, maupun komplikasi lain yang mengancam jiwa," pungkasnya, mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....