Gangguan Mental Semakin Meningkat, 1,2 Miliar Penduduk Dunia Terdampak

  • 25 Mei 2026 10:39 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Gangguan mental menjadi isu kesehatan global yang semakin mendapat perhatian. Berdasarkan laporan terbaru dari World Health Organization dan penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal medis The Lancet, hampir 1,2 miliar orang di dunia mengalami gangguan mental pada tahun 2023. Angka ini meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan tahun 1990, dengan gangguan kecemasan dan depresi menjadi kasus paling dominan.

Gangguan mental ringan biasanya ditandai dengan stres berlebihan, kecemasan ringan, atau perubahan suasana hati yang masih bisa dikendalikan. Banyak orang mengalaminya akibat tekanan pekerjaan, masalah ekonomi, atau konflik sosial. Meski terlihat sepele, kondisi ini dapat mengganggu kualitas hidup jika dibiarkan terus-menerus. Fenomena meningkatnya tekanan hidup modern dan penggunaan media sosial juga sering dikaitkan dengan bertambahnya kasus kecemasan di berbagai negara.

Pada tingkat menengah terdapat gangguan seperti depresi, gangguan kecemasan berat, dan bipolar. Depresi membuat seseorang kehilangan semangat hidup, sulit berkonsentrasi, hingga menarik diri dari lingkungan sosial. Sementara bipolar menyebabkan perubahan suasana hati yang ekstrem, dari sangat bersemangat menjadi sangat sedih dalam waktu singkat. Penelitian global menunjukkan bahwa depresi dan kecemasan menjadi penyumbang terbesar peningkatan gangguan mental dunia dalam tiga dekade terakhir.

Gangguan mental berat meliputi skizofrenia dan gangguan kepribadian serius. Penderita skizofrenia dapat mengalami halusinasi, delusi, dan kesulitan membedakan kenyataan dengan imajinasi. Kondisi ini sering membutuhkan penanganan medis jangka panjang karena memengaruhi kemampuan seseorang untuk bekerja maupun bersosialisasi. Menurut data WHO, skizofrenia dialami sekitar 23 juta orang di dunia dan termasuk salah satu gangguan mental paling berat.

Selain itu, terdapat pula gangguan makan seperti anoreksia dan bulimia yang banyak menyerang remaja dan dewasa muda. Gangguan ini membuat seseorang memiliki hubungan yang tidak sehat dengan makanan dan citra tubuhnya sendiri. Di era digital, tekanan standar kecantikan dan budaya media sosial sering dianggap memperparah kondisi tersebut, terutama pada perempuan muda.

Meningkatnya jumlah penderita gangguan mental dipengaruhi banyak faktor, mulai dari trauma, kemiskinan, konflik keluarga, tekanan pekerjaan, hingga dampak pandemi. Diskusi masyarakat di berbagai forum internasional juga menunjukkan bahwa banyak orang melihat kesehatan mental sebagai dampak dari lingkungan sosial yang semakin penuh tekanan dan minim dukungan emosional.

Melihat besarnya angka 1,2 miliar penderita gangguan mental di dunia, kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental menjadi sangat penting. Gangguan mental bukanlah tanda kelemahan, melainkan kondisi kesehatan yang membutuhkan perhatian dan dukungan. Dengan edukasi yang tepat, akses layanan kesehatan yang memadai, serta lingkungan sosial yang lebih peduli, banyak gangguan mental dapat dicegah maupun ditangani lebih awal sehingga penderita tetap dapat menjalani hidup secara produktif.

Baca juga: Anak Muda dan Mental Health, RONDA Angkat Fenomena Pelarian Digital⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....