Anak Muda dan Mental Health, RONDA Angkat Fenomena Pelarian Digital
- 20 Mei 2026 15:52 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Di tengah kebiasaan anak muda yang semakin akrab dengan media sosial dan gim, Program RONDA (Ruang Obrolan Pro 2) Pro 2 RRI Pontianak menghadirkan diskusi mengenai kesehatan mental dan pencarian ketenangan diri pada Kamis, 14 Mei 2026. Bersama Zulkarnain Nahendra dari PKBI Kalbar, obrolan santai membahas bagaimana aktivitas yang dianggap hiburan ternyata dapat berubah menjadi pelarian emosional jika dilakukan secara berlebihan.
Dalam obrola yang juga live di kanal Youtube Pro 2 Pontianak tersebut, Zulkarnain mengulas kebiasaan anak muda yang sering mencari ketenangan lewat media sosial maupun permainan gim. Menurutnya, aktivitas seperti doom scrolling dapat menjadi pelarian ketika dilakukan secara berlebihan. Ia menjelaskan derasnya arus informasi di media sosial membuat otak terus bekerja tanpa jeda hingga memicu rasa overwhelm dan burnout.
Zulkarnain menilai media sosial sebenarnya tidak sepenuhnya buruk. Namun, ketika seseorang terus-menerus mengonsumsi informasi negatif, membandingkan hidup dengan orang lain, hingga larut dalam validasi dari konten digital, kondisi itu bisa berdampak pada kesehatan mental. Ia juga mengingatkan bahaya self diagnosis yang kerap muncul setelah seseorang melihat konten mengenai anxiety atau ADHD di media sosial.
“Kadang orang merasa dirinya mengalami gangguan tertentu hanya karena melihat konten yang memvalidasi perasaannya. Kalau berlebihan, itu justru bisa memperparah kecemasan,” ujarnya.
Selain membahas media sosial, obrolan juga menyinggung kebiasaan bermain gim. Zulkarnain mengatakan gim dapat menjadi hiburan dan sarana melepas penat, tetapi berubah menjadi pelarian ketika dimainkan secara berlebihan hingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Ia mengaku pernah mengalami kecemasan akibat terlalu lama bermain gim dan mulai mempertanyakan manfaat dari waktu yang dihabiskan.
Sebagai cara menjaga kesehatan mental, Zulkarnain memilih melakukan aktivitas yang lebih produktif seperti olahraga, membaca buku pengembangan diri, hingga menulis. Menurutnya, aktivitas tersebut membantu seseorang mengenali dirinya sendiri dan memahami kebutuhan emosional yang sebenarnya.
Diskusi semakin menarik ketika pembahasan mengarah pada sikap “bodo amat” yang sering dipilih anak muda sebagai bentuk perlindungan diri. Zulkarnain menilai sikap tersebut tidak selalu buruk, tetapi jika diterapkan secara berlebihan dapat menurunkan rasa empati terhadap orang lain. Ia membedakan empati sebagai kemampuan memahami perasaan orang lain, sementara simpati berkaitan dengan tindakan membantu secara langsung.
Zulkarnain juga mengatakan banyak anak muda sebenarnya belum benar-benar mengenal dirinya sendiri. Ia menyarankan refleksi diri, menulis pengalaman pribadi, hingga meminta pandangan dari orang terdekat sebagai langkah untuk memahami diri sendiri.
“Kalau kita sudah kenal sama diri sendiri, kita akan tahu apa yang kita butuhkan, bukan sekadar apa yang kita inginkan,” katanya.
Baca juga: Healthy Food Lokal Mulai Dilirik, Kudapan Lidah Manja Hadirkan Menu Variatif
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....