TB Ekstra Paru, Gejala Beragam Perlu Diwaspadai
- 30 Jan 2026 22:19 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak – Penyakit Tuberkulosis (TB) hingga kini masih menjadi sebuah tantangan masalah kesehatan yang sangat serius bagi seluruh masyarakat Indonesia. Laporan dari WHO Global TB Report 2024 & 2025 menunjukkan Indonesia berada pada posisi peringkat kedua kasus tertinggi penyakit tuberkulosis di dunia.
Fakta tersebut membuktikan bahwa upaya pencegahan serta penanganan kasus infeksi ini memang masih harus terus diperkuat secara lebih maksimal. Masyarakat juga perlu diberikan pemahaman mendalam mengenai bahaya tuberkulosis ekstra paru agar penanganan dapat dilakukan dengan jauh lebih efektif.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr. Rusiawati, Sp.PD, FINASIM, dalam program Indonesia Sehat, Jumat, 30 Januari 2026, menjelaskan bahwa TB tidak hanya menyerang paru-paru. TB paru umumnya menular melalui percikan dahak saat penderita batuk atau meludah, sedangkan TB ekstra paru merupakan infeksi yang terjadi di luar paru-paru dan tidak menular secara langsung seperti TB paru.
TB ekstra paru dapat menyerang berbagai organ tubuh, seperti kelenjar getah bening, saluran kencing, selaput otak, pencernaan, rahim, tulang belakang, hingga kulit. Rusiawati menyebutkan bahwa kondisi ini sering kali tidak disadari oleh penderitanya.
“Banyak orang tidak menyangka dirinya mengidap TB ekstra paru, tidak diobati dengan tepat, dan akhirnya penyakitnya bisa menjadi semakin berat,” ujarnya.
Secara umum, gejala TB ditandai dengan kondisi lemah, letih, dan lesu yang berlangsung terus-menerus, disertai demam hilang timbul serta keringat berlebih terutama pada malam hari. Pada TB paru, gejala khas yang muncul antara lain batuk, sesak napas, batuk berdahak, hingga batuk berdarah.
Sementara itu, gejala TB ekstra paru sangat bergantung pada organ yang terdampak. Jika menyerang telinga, gejalanya bisa berupa telinga bernanah. Apabila mengenai saraf pusat atau otak, penderita dapat mengalami sakit kepala hebat disertai muntah. Karena gejalanya beragam, TB ekstra paru kerap terlambat terdeteksi.
Rusiawati menjelaskan bahwa pengobatan TB ekstra paru pada dasarnya menggunakan obat anti tuberkulosis (OAT) yang sama dengan TB paru. Namun, dengan durasi terapi yang lebih panjang.
“Pengobatan utama TB ekstra paru kurang lebih sama dengan TB paru menggunakan OAT. Yang membedakan itu lama terapinya. Kalau yang TB paru itu 6 bulan, nah kalau TB ekstra paru bisa sampai 12 bulan atau 18 bulan. Nanti akan dievaluasi lagi oleh dokter perkembangan klinisnya, yang penting untuk disoroti adalah kepatuhan minum obatnya,” katanya, menjelaskan.
Selain tantangan medis, stigma di masyarakat juga menjadi hambatan dalam upaya pencegahan TB. Rusiawati mengajak masyarakat untuk tidak takut memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala TB, serta tidak mengucilkan penderita. Ia menegaskan bahwa TB dapat disembuhkan dan pengobatannya tersedia secara gratis, sehingga dukungan lingkungan sangat dibutuhkan agar pasien dapat menjalani pengobatan secara optimal.
Baca juga: Gema Cermat Ajak Warga Pontianak Melek Obat
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....