Masalah Sampah Pontianak Meningkat, Warga Diajak Ubah Kebiasaan Sehari-hari
- 14 Mar 2026 11:14 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak – Persoalan sampah masih menjadi tantangan serius di Kota Pontianak. Meski berbagai kampanye pengurangan plastik dan gerakan gaya hidup ramah lingkungan mulai digalakkan, jumlah sampah yang dihasilkan masyarakat justru terus meningkat setiap harinya.
Dalam Acara TOSERBA (Topik Serba Ada) RRI Pro2 Pontianak, Aktivis lingkungan dari Forum Komunitas Hijau (FKH) Pontianak, Vivi Norvika Hariyantini, Sabtu, 6 Maret 2026, mengatakan produksi sampah di Kota Pontianak saat ini mencapai sekitar 400 ton per hari. Angka tersebut meningkat dibandingkan beberapa tahun sebelumnya yang berada di kisaran 300 ton per hari.
“Kalau berdasarkan data yang kami dapatkan bersama Dinas Lingkungan Hidup, sekarang produksi sampah di Pontianak sudah sekitar 400 ton per hari. Ini meningkat karena sampah yang dihasilkan masyarakat bercampur antara organik dan anorganik,” ujar Vivi.
Menurutnya, salah satu penyebab meningkatnya volume sampah adalah pertumbuhan penduduk serta kebiasaan masyarakat yang masih belum terbiasa memilah sampah dari rumah. Padahal, pemilahan sampah menjadi langkah penting untuk mengurangi penumpukan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Vivi menjelaskan bahwa penggunaan kantong plastik sekali pakai juga menjadi masalah besar karena membutuhkan waktu lama untuk terurai. Bahkan plastik bekas sering tidak memiliki nilai ekonomi bagi pemulung sehingga akhirnya hanya menumpuk di TPA.
“Kantong plastik itu tidak punya nilai jual yang tinggi bagi pemulung, jadi ujung-ujungnya lari ke TPA dan menjadi gunungan sampah. Karena itu kami mengajak masyarakat mulai ‘diet kantong plastik’ dan membawa tas belanja sendiri,” katanya.
| Baca juga: Fenomena Drama China di Kalangan Anak Muda |
Selain dari rumah tangga, sumber sampah terbesar di kota juga berasal dari sektor usaha seperti hotel, restoran, dan kafe. Skala produksi sampah dari sektor ini dinilai lebih besar sehingga perlu pengelolaan khusus.
Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah bersama komunitas lingkungan mulai mendorong pelaku usaha mengolah sampah organik dan menjalin kerja sama dengan pengepul untuk sampah anorganik agar bisa didaur ulang. Di sisi lain, gerakan bank sampah juga terus dikembangkan di masyarakat. Saat ini tercatat sekitar 17 bank sampah aktif di Pontianak yang menampung sampah anorganik seperti botol plastik, kertas, dan logam agar dapat diolah kembali.
“Kalau masyarakat mau memilah sampah dari rumah, sebenarnya kita sudah tahu ke mana sampah itu akan pergi. Ada yang bisa dijadikan kompos, ada yang bisa disalurkan ke bank sampah, bahkan bisa menjadi penghasilan bagi pemulung,” ucap Vivi.
Ia menambahkan, edukasi kepada masyarakat terus dilakukan mulai dari sekolah hingga lingkungan RT agar kebiasaan memilah sampah bisa menjadi budaya baru. Dengan begitu, masalah sampah di Pontianak tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh warga kota.
“Kita tidak bisa berharap hanya pemerintah yang bergerak. Pengelolaan sampah harus menjadi tanggung jawab bersama, dimulai dari rumah masing-masing,” katanya, mengakhiri.
Baca juga: Sampah di Bawah Papan Peringatan
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....