Diiringi Rasa Hormat, Selamat Jalan Bang Yem
- 26 Okt 2025 13:01 WIB
- Pontianak
Catatan Ringan Syafaruddin DaEng Usman
Pertamakali mengenal Almarhum Bang Yem, begitu menyapanya, sekitar tahun 2015 sebelum covid. Sama-sama mengisi acara di TVRI Kalbar.
Lalu sering bertemu dalam acara yang menampilkan kelompok tundang beliau di beberapa kesempatan lain. Lebih sering ketemu, ngobrol ringan sampai berat, sehabis acara di stasiun televisi.
Biasanya acara beliau selesai, lanjut saya sebagai narasumber acara selanjutnya. Sedikit waktu yang ada itu kami gunakan ngobrol sana-sini.
Orangnya familiar. Bersahaja. Rendah hati tapi "berisi". Dalam artian sarat pemahaman dan pengetahuan.
Pernah sekali waktu Almarhum menghubungi saya untuk masukan, untuk dibuat pantun yang akan didendangkan, mengenai sejarah. Seingat saya waktu itu tentang Peristiwa Mandor 1944.
Indah sekali tundang yang diolah dan dipublikasikan beliau dan kelompok penggiat tundangnya.
Almarhum bukanlah sosok orang yang jumawa. Sebaliknya dia seorang yang berhati tulus, rendah hati, namun kaya pengalaman dan penuh makna.
Memang sejak beliau mengalami stroke, sudah jarang tampil di televisi. Saya sering bertanya kabar beliau ke rekan produser televisi. Dan tentu mendoakan kesembuhannya.
Sedari awal mengenal Almarhum, saya terkesan rasa simpati dan persaudaraan yang tinggi. Dia bukanlah orang yang merasa dirinya paling bisa, sebaliknya mengesankan sebagai orang yang selalu ingin banyak memperoleh pengenalan tentang apa yang akan dilantunkannya. Di sini saya merasa sangat simpati dan hormat untuknya.
Memang tidak akrab atau sangat dekat. Akan tetapi sebagai pencinta budaya lokal, tentu saya merasa kehilangan. Kita kehilangan seorang pekerja seni, seorang senior tundang. Kita kehilangan seorang budayawan otodidak.
Kepergian Bang Yem justru di saat orang sedang "demam pantun". Namun dengan adanya tundang yang beliau lantunkan, semua bisa memahami bahwa "budaya orang Melayu Kalbar itu bukan hanya pantun saja", tapi ada banyak lainnya lagi. Karena sempat tersirat seolah hanya pantun saja budaya orang Melayu, dan lainnya seperti kurang dikenal.
Tidak begitu dengan Edi Ibrahim. Dia mengemas, mengolah kata, menyusun kalimat dan menjelmakan tundang. Berpantun sembari berdendang bahkan diiringi gendang.
Harus dan patut dikawal bersama. Bahwa hak paten karya ciptanya tentang tundang harus dilindungi. Dan Bang Yem pemilik itu.
Istirahatlah dengan lapang dan tenang di alam sana, sembari pantun dilantunkan diiringi dendang dan gendang mengantarkan peristirahatan abadinya.
Innalillahi Waina Ilaihirajiun ... Selamat jalan Bang Yem

Peminat kajian sejarah kontemporer Kalimantan Barat, Syafaruddin DaEng Usman
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....