Kabar-Kabari lewat Secarik Kertas: Seni Menunggu yang Hilang di Era Instan
- 03 Jun 2026 09:51 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID,Pontianak - Di era digital saat ini, sebuah pesan bisa terkirim dan dibaca hanya dalam hitungan detik. Tanda centang biru di aplikasi pesan instan telah menjadi penentu kepastian. Namun, kecepatan ini perlahan mengikis sebuah kemewahan rasa yang dulu pernah ada, yakni seni menunggu.
Bagi generasi yang tumbuh di era 1980-an hingga akhir 1990-an, berkomunikasi jarak jauh adalah perkara kesabaran tingkat tinggi. Jauh sebelum gawai pintar menguasai kantong celana, secarik kertas, pena, dan perangko adalah jembatan utama perajut rindu.
Menulis surat zaman dulu bukan sekadar memindahkan kata, melainkan sebuah ritual. Ada proses memilih kertas surat bermotif indah, memikirkan untaian kalimat dengan hati-hati agar tidak banyak coretan cairan pengoreksi (tip-ex), hingga memilih desain perangko di kantor pos. Setiap goresan tinta membawa luapan emosi yang sangat personal dari si pengirim.
Sensasi Debaran Kotak Pos dan Telepon Koin
Proses setelah surat dikirim adalah ujian kesabaran yang sesungguhnya. Surat yang dikirim antar-kota atau luar pulau bisa memakan waktu berminggu-minggu untuk sampai ke alamat tujuan. Di sinilah letak keindahannya: ada ruang rindu yang tumbuh subur di dalam waktu tunggu tersebut. Menunggu tukang pos datang di depan rumah membawa debaran yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh notifikasi ponsel pintar mana pun.
Selain surat menyurat, alternatif komunikasi pada masanya juga tidak kalah berkesan. Mengantre di Wartel (Warung Telekomunikasi) atau mencari telepon umum koin di sudut jalan menjadi pemandangan harian yang lumrah.
Suara gemerincing koin pecahan seratus atau lima ratus rupiah yang jatuh ke dalam mesin telepon menjadi penanda berharganya setiap detik waktu yang dihabiskan untuk mendengar suara orang terkasih. Ketika koin habis dan suara tut-tut-tut terdengar, percakapan harus rela terputus dengan menyisakan rasa penasaran yang manis.
Titip Salam Lewat Frekuensi Radio
Bagi masyarakat Kalimantan Barat, khususnya di Kota Pontianak, ada satu lagi ritual komunikasi yang sangat melekat di hati, yaitu titip salam lewat siaran radio. Menuliskan nama, lagu pilihan, dan pesan singkat di secarik kertas kecil, lalu mengantarkannya langsung ke stasiun radio favorit adalah sebuah kebanggaan tersendiri.
Mendengarkan penyiar membacakan surat titipan salam kita di antara jeda lagu pilihan membawa kepuasan yang luar biasa. Melalui frekuensi udara itulah, rindu dan sapaan hangat saling bertukar, menciptakan kehangatan komunitas yang erat meski tidak saling tatap wajah.
Merawat Kedalaman Rasa di Era Instan
Kini, teknologi telah memanjakan manusia dengan segala kemudahan. Kita bisa melakukan panggilan video kapan saja dan di mana saja. Kehilangan kabar pun kini menjadi hal yang langka.
Namun, kepraktisan modern ini sering kali membuat percakapan menjadi lebih singkat dan cepat berlalu. Pesan-pesan pendek sering ditulis dengan singkatan tanpa rasa, lalu tenggelam begitu saja ditumpuk oleh ribuan obrolan grup lainnya.
Mengenang kembali romantisnya "secarik kertas" bukan berarti kita harus menolak kemajuan zaman. Bernostalgia dengan seni menunggu mengajarkan kita untuk kembali menghargai proses, mendalami makna setiap pesan, dan menyadari bahwa sesuatu yang diperoleh dengan kesabaran sering kali memiliki nilai yang jauh lebih berkesan di dalam ingatan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....