Liawandira: Menenun Masa Depan Dayak Iban dari Lauk Rugun
- 24 Jul 2026 14:48 WIB
- Pontianak
“Tamue” pembaca kali ini adalah seorang perempuan muda yang inspiratif asal Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Dia adalah pemuda pelopor bidang Seni dan Kebudayaan pada 2025. Namanya adalah Liawandira.
Puteri bungsu dari 3 bersaudara yang memiliki nama lengkap Paskalia Wandira ini terampil menenun sidan dan memainkan sape. Ia belajar menenun sejak usia 12 tahun dan mulai belajar main sape saat duduk di bangku kelas 1 SMP.
Dedikasinya dalam melestarikan seni budaya Dayak inilah yang membuatnya diundang ke Ubud, Bali untuk bermain sape dan demo menenun pada event budaya ikonik Ubud Artisan Market (UAM) dan Tradisi Textile pada April 2026 yang lalu. Dalam event pameran bertajuk Art Studies Exhibition: Kisah-Kisah Dari Hulu Fragmen dari Ruang Hidup, yang digelar di Rumah Budaya Kampung Caping, Pontianak, tanggal 17 – 19 Juli 2026, penulis bertemu dan berbincang dengan Liawandira, pemuda pelopor seni dan kebudayaan Dayak Iban, asal Dusun Lauk Rugun, Desa Rantau Prapat, Ketemenggungan Jalai Lintang, Kapuas Hulu.
Di event tersebut, Lia diundang khusus oleh Inaya Kayan Indonesia untuk berbagi kisah dan pengalamannya bersama 13 seniman muda dari Kalimantan, Jawa Barat, Jakarta dan Bali, yang tinggal selama 4 hari di rumah Panjae Bukung, Dusun Lauk Rugun, Desa Rantau Prapat. Di sanalah, para seniman muda bersama Inaya Kayan Indonesia, organisasi nirlaba yang didirikan di hulu Provinsi Kalimantan Utara belajar, mengamati, mendengar, dan mencatat tentang kehidupan Masyarakat Adat Dayak Iban.
Dalam event tersebut, mereka mempresentasikan karya seninya.
Dalam event itu pula, Liawandira bukan sekadar hadir, tapi bersama dengan 13 seniman muda lainnya melakukan apa yang disebut art vocacy, yakni seni sebagai media advokasi perempuan adat, lingkungan, dan kebudayaan Dayak Iban di lanskap ekosistem Lauk Rugun khususnya, dan Ketemenggungan Jalai Lintang pada umumnya.
Semangat, pengalaman dan kisah kehidupan anak bungsu dari pasangan Timotius Masing dan Kristina Anyun ini menarik ditulis. Pepapah “Kejarlah ilmu sampai ke negeri Cina” bermakna bahwa belajar ilmu pengetahuan tanpa kenal lelah, meskipun harus menempuh perjalanan melintasi batas geografis yang sangat jauh dan menghadapi rintangan di berbagai belahan dunia.
Di situlah sisi uniknya. Bagi banyak orang, pendidikan sering dimaknai sebagai jalan untuk meninggalkan kampung halaman yang berlokasi di hulu, di pedalaman, di bukit dan di gunung demi mengejar masa depan di kota karena sistem pendidikan memang tersentral di perkotaan. Namun, bagi perempuan muda Iban yang lahir pada 2004 di Dusun Lauk Rugun, Desa Rantau Prapat, Kabupaten Kapuas Hulu ini, pendidikan justru menjadi jalan untuk kembali.
Bagi Lia, sapaan akrabnya, masa depan tidak harus dibangun dengan menjauh dari akar budaya, melainkan dengan menghidupkannya kembali dari tempat asalnya – di ekosistem kebudayaan Iban di Dusun Lauk Rugun, Desa Rantau Prapat, Ketemenggungan Jalai Lintang.
Di tangan perempuan Dayak Iban, tenun bukan sekadar karya tekstil, melainkan pengetahuan yang diwariskan lintas generasi. Setiap motif menyimpan ingatan kolektif, hubungan manusia dengan alam, serta nilai-nilai kehidupan yang menjadi identitas Masyarakat Adat Dayak Iban.
Saat jemari perempuan Iban mulai merangkai benang demi benang, sesungguhnya ia sedang mewarisi sebuah peradaban.
Perjalanan pendidikannya sempat membawanya ke Pontianak sebagai mahasiswa IKIP PGRI, Pontianak pada 2022 di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Namun, semakin lama berada di kota, semakin kuat pula kesadarannya bahwa ia mulai berjarak dengan kebudayaannya sendiri. Ia menyadari bahwa kehilangan kedekatan dengan kampung halaman berarti kehilangan ruang untuk belajar langsung dari alam, para tetua adat, para perempuan penenun, dan kehidupan Masyarakat Adat Dayak Iban yang menjadi sumber pengetahuan sejati.
Kesadaran itulah yang mendorongnya mengambil keputusan yang tidak lazim. Pada 2024, Lia memutuskan pulang ke kampung halaman dan melanjutkan kuliah melalui Universitas Terbuka pada Jurusan Sastra Inggris. Ia menyadari bahwa pilihan tersebut bukan suatu kemunduran, melainkan strategi agar pendidikan formal dapat berjalan beriringan dengan pendidikan budaya yang diperoleh setiap hari di Dusun Lauk Rugun.
Di sistem pendidikan yang kurikulumnya kerap berubah-ubah tergantung menterinya, langkah Lia sejatinya ialah suatu sikap kritik secara tidak langsung. Bagaimana tidak, dalam sistem pendidikan nasional yang sentralistik, suka atau tidak suka, harus diakui dengan jujur justru menciptakan jarak antara peserta didik dengan realitas lingkungan serta kebudayaan lokal mereka.
“Jika saya masih berada di Pontianak, saya belum tentu bisa berada dan berinteraksi dengan para seniman muda pameran Art studies di Pontianak ini, berbagi dan belajar bersama 13 seniman muda dari berbagai daerah di Indonesia,” ujarnya.
Kalimat sederhana itu menunjukkan bahwa proses belajar baginya tidak dibatasi oleh ruang kelas. Pertemuan dengan para seniman, aktivitas dalam seni budaya, hingga kehidupan bersama Masyarakat Adat merupakan bagian dari pendidikan yang sama berharganya – memiliki akar budaya yang kuat.
Dalam usianya yang masih muda, Lia juga dipercaya menjadi Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Rantau Prapat. Amanah ini tidak hanya berkaitan dengan pengembangan pariwisata, tetapi juga merupakan bentuk tanggung jawab untuk menjaga adat, tradisi, dan identitas Masyarakat Adat Dayak Iban di Lauk Rugun serta Desa Rantau Prapat secara keseluruhan. Ia percaya bahwa pariwisata tidak boleh mengorbankan budaya, melainkan harus menjadi sarana memperkenalkan sekaligus memperkuat warisan leluhur.
Sebagai perempuan muda pelestari tenun kebat Iban, Lia memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu dilakukan melalui panggung-panggung besar. Ia memulainya dari rumah, dari alat tenun, dari memainkan sape, dari keikutsertaannya dalam menyiapkan bahan-bahan ritual adat, dari percakapan dengan para tetua, dan dari keterlibatan aktif dalam kehidupan masyarakat.
Di tengah arus modernisasi yang kerap menarik generasi muda menjauh dari kampung dengan daya tarik kehidupan kaum urban, pilihannya menjadi penenun sekaligus pelopor seni dan kebudayaan merupakan bentuk kepemimpinan yang lahir dari keteladanan. Bagi Lia, kebudayaan tidak pernah berdiri sendiri. Kebudayaan senantiasa tumbuh bersama alam yang menjadi ruang hidup Masyarakat Adat Dayak Iban. Karena itu, menjaga hutan, sungai, dan tradisi merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
“Karena hutan adalah bapak kami, tanah adalah ibu kami, dan air adalah darah kami, maka kebudayaan tergantung pada tiga unsur tadi. Jadi seluruh warga Lauk Rugun, umumnya warga Iban Rantau Prapat harus menjaganya agar terus lestari,” harap Lia.
Ungkapan tersebut mencerminkan pandangan hidup masyarakat Iban yang melihat manusia sebagai bagian dari alam, bukan penguasanya. Di dalamnya terkandung filosofi ekologis bahwa kelestarian kebudayaan hanya mungkin terjaga apabila hutan tetap berdiri, sungai tetap mengalir bersih, dan kehidupan Masyarakat Adat tetap memiliki ruang untuk terus berkembang.
Menjadi terdidik tidak harus tercerabut dari akar budaya Liawandira adalah wajah baru dari generasi Iban yang mengintegrasikan sistem pendidikan masa kini dengan kearifan lokal (local wisdom). Ia menunjukkan bahwa menjadi terdidik tidak harus berarti tercerabut dari akar budaya.
Sebaliknya, ilmu pengetahuan, jaringan kerja (network) justru dapat memperkuat komitmen untuk merawat identitas, memperjuangkan kelestarian alam, dan menenun masa depan Masyarakat Adat dari bahan-bahan yang berasal dari alam. Dari pengetahuan warisan budaya leluhur. Esai ini menggunakan pendekatan biografi-etnografi dengan menempatkan sosok Liawandira untuk memahami nilai budaya, relasi manusia dan alam, dan peran perempuan muda dalam pelestarian kebudayaan Iban. Lia, you can inspire !

Penulis: R. Giring
Baca juga: Struktur Lembaga Adat Dayak Kanayatn di Binua Kaca'
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....