Festival Bakcang Pontianak, Menjaga Makna Penghormatan Budaya Tionghoa

  • 19 Jun 2026 17:30 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak – Festival Bakcang 2026 tidak hanya menjadi perayaan budaya dan kuliner, tetapi juga menjadi ruang untuk mengenalkan kembali nilai sejarah yang terkandung dalam tradisi masyarakat Tionghoa kepada masyarakat luas.

Pemangku budaya Tionghoa Pontianak, Andreas Acui Simanjaya menjelaskan, tradisi bakcang memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan penghormatan masyarakat terhadap seorang tokoh yang dianggap memiliki kebaikan dan berjasa.

Menurutnya, pada masa lalu terdapat seorang pejabat yang dikenal baik namun mendapat fitnah hingga akhirnya meninggal setelah terjun ke sungai. Masyarakat yang menghormatinya kemudian berupaya menjaga jasadnya agar tidak dimakan oleh hewan air dengan membuat kegaduhan di sungai serta melemparkan makanan berbahan ketan yang kemudian dikenal sebagai bakcang.

“Makna bakcang sebenarnya adalah bentuk penghargaan masyarakat kepada seorang pejabat yang baik. Jadi kemampuan masyarakat menghargai seseorang yang sudah berbuat baik, itu inti dari tradisi ini,” ujar Andreas usai mengikuti Festival Bakcang di Alun-alun Kapuas.

Ia mengatakan, Festival Bakcang yang kembali digelar di Pontianak menjadi salah satu bentuk pelestarian budaya agar nilai sejarah tersebut tetap dikenal oleh generasi berikutnya. Selain itu, festival ini juga menjadi momen kebersamaan bagi masyarakat dari berbagai latar belakang.

Pada Festival Bakcang 2026, Andreas menyebut terdapat capaian baru dengan pembagian sebanyak seribu buah bakcang kepada masyarakat. Kegiatan tersebut juga mendapatkan apresiasi berupa piagam penghargaan dari Museum Provinsi Kalimantan Barat.

“Hari ini kita menyaksikan sudah dipecahkan rekor, ada seribu buah bakcang yang dibagikan oleh KBTP kepada masyarakat. Tadi juga diberikan piagam penghargaan dari Museum Provinsi Kalimantan Barat,” katanya.

Lebih lanjut, Andreas menilai Festival Bakcang yang telah beberapa kali dilaksanakan melalui berbagai pihak seperti MABT dan KBTP memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi agenda wisata budaya di Kalimantan Barat.

Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya memperkenalkan budaya, tetapi juga memberikan ruang bagi pelaku UMKM untuk terlibat dan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.

“Saya pikir ini bisa menjadi agenda wisata tetap, karena bisa menarik wisatawan datang ke Kalimantan Barat dan juga melibatkan UMKM serta berbagai pihak,” ucapnya.

Andreas sebagai pemerhati budaya berharap Festival Bakcang dapat terus dilaksanakan dengan konsep yang semakin kreatif dan menarik. Ia menilai kegiatan budaya seperti ini mampu menciptakan ruang kebahagiaan bagi masyarakat sekaligus memperkuat keberagaman budaya di Kota Pontianak.

“Berbagai event seperti ini akan membuat keluarga Pontianak lebih bahagia, lebih gembira, menikmati bersama-sama. Ke depan saya berharap acara seperti ini tetap diadakan dengan cara yang lebih kreatif, lebih baik, dan lebih mantap,” ucapnya.

Baca juga: Rayakan Festival Bakcang di Alun Kapuas, Panitia Bagikan 1.000 Porsi Gratis

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....