Lanceng Praben Pontianak 2026 Bertekad Lestarikan Budaya Madura

  • 21 Jul 2026 18:38 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Minimnya pemahaman generasi muda tentang kebudayaan Madura, khususnya di Kota Pontianak, memantik semangat Muhammad Zulfan Salis dan Nurhaliza untuk ambil bagian. Lewat penobatan sebagai Duta Lanceng Praben Kota Pontianak 2026, dua generasi Z ini bertekad menjadi garda terdepan pelestarian budaya sekaligus mematahkan stigma yang ada.

Hal tersebut mereka sampaikan saat menjadi narasumber dalam program dialog interaktif NGOPI (Ngobrol Bareng Pro 2) yang disiarkan langsung melalui frekuensi 101,8 FM dan kanal YouTube RRI Pro 2 Pontianak, Senin, 20 Juli 2026.

Nurhaliza (Eliza) menjelaskan bahwa 'Lanceng' dan 'Praben' adalah sebutan khas Madura untuk pemuda dan pemudi yang belum menikah, setara dengan gelar Bujang dan Dara. Keduanya sepakat bahwa eksistensi budaya Madura di Pontianak saat ini seolah memudar, hanya terlihat saat acara internal keluarga atau di kawasan permukiman mayoritas Madura saja.

"Kami sering melihat banyak anak muda Madura yang hanya ikut menikmati tradisi, seperti makan bubur Tacin Merapote di bulan Safar atau perayaan Maulid Nabi secara bergiliran (ater-ater). Namun, kami sama sekali tidak tahu sejarah, makna, hingga cara pembuatannya," ungkap Eliza jujur.

Keresahan yang sama diutarakan oleh Zulfan. Sebagai pria asli Madura kelahiran Pontianak, ia mengakui ancaman terbesar bagi generasi penerus adalah mulai pudarnya penguasaan bahasa daerah (bahasa ibu).

"Jati diri dan identitas suku itu terancam hilang kalau kita sendiri tidak bisa dan malu menggunakan bahasa Madura. Kalau kita tidak mulai memeliharanya dari sekarang, bagaimana nanti nasib anak cucu kita? Pasti akan semakin hilang," kata Zulfan menegaskan.

Selain tradisi kuliner dan bahasa, kekayaan budaya Madura juga tecermin dari ragam motif batik yang konon memiliki tingkatan kasta tersendiri. Semakin rumit dan padat motifnya, semakin mahal harga jualnya. Sayangnya, warna batik Madura yang identik gonjreng (merah, kuning, hijau terang) kerap membuat generasi muda enggan memakainya karena dinilai terlalu mencolok (spotlight). Menyikapi hal tersebut, Eliza membagikan tips fesyen bagi sesama "Gen Z" untuk tetap tampil trendy tanpa meninggalkan budaya bangsa.

"Sekarang batik Madura juga banyak yang berwarna soft dan earth-tone seperti cokelat susu atau krem. Kalaupun punya yang warnanya terang, kita bisa padu-padankan menjadi bawahan, lalu atasannya menggunakan kemeja, outer, atau inner kekinian. Intinya jangan pernah malu dengan identitas kita sendiri," pesan Eliza optimis.

Sebagai gebrakan awal, Ikatan Lanceng Praben Kota Pontianak 2026 berencana menggelar turnamen Mini Soccer antar-kelurahan. Mereka juga akan masif memanfaatkan media sosial untuk meracik konten-konten edukasi budaya Madura dan promosi pariwisata Pontianak dengan gaya visual yang dekat dengan selera anak muda masa kini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....