Bahasa Melayu Pontianak Dibahas Hangat di RONDA Pro 2
- 19 Apr 2026 23:07 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak – Program RONDA (Ruang Obrolan Pro 2) RRI Pro 2 Pontianak menghadirkan diskusi hangat seputar budaya bahasa Melayu Pontianak, Selasa,14 April 2026 malam. Dipandu penyiar Anwar, obrolan ini menghadirkan Malana Raul Arteta dan Nursyafiqri yang mengajak generasi muda untuk lebih memahami sekaligus menjaga bahasa daerah sebagai bagian dari identitas.
Dalam suasana santai khas anak muda, Anwar membuka perbincangan dengan memperkenalkan kedua narasumber yang sama-sama memiliki kedekatan dengan budaya Melayu, meski datang dari latar belakang berbeda. Raul, misalnya, mengaku lahir dan besar di Pontianak meski berasal dari suku Bugis, sementara Fikri merupakan Melayu Pontianak dengan latar keluarga yang juga memiliki akar dari Sanggau.
Diskusi kemudian mengarah pada realitas penggunaan bahasa Melayu Pontianak dalam kehidupan sehari-hari. Fikri menjelaskan, penggunaan bahasa ini sudah menjadi hal yang lumrah, terutama dalam lingkar pertemanan. Namun, ia menekankan bahwa ada batasan etika dalam berbahasa, terutama terkait penggunaan istilah yang dianggap kasar.
“Penggunaan kata-kata tertentu itu biasanya hanya untuk kawan dekat. Kalau ke orang yang lebih tua tentu tidak etis. Kita tetap harus menjaga adab dalam berbahasa,” jelas Fikri.
Raul turut menyoroti pentingnya kesadaran generasi muda untuk tidak serta-merta menormalisasi bahasa yang bersifat kasar atau “toxic”. Menurutnya, bahasa Melayu memiliki nilai kelembutan dan kesantunan yang seharusnya dijaga sebagai ciri khas budaya.
“Kalau kita bisa pakai bahasa yang baik dan lembut, kenapa harus pilih yang kasar? Itu kembali ke kita bagaimana membiasakan lingkungan pergaulan,” ujarnya.
Obrolan semakin menarik ketika pembahasan meluas ke akar bahasa Melayu yang menjadi salah satu fondasi bahasa Indonesia. Keduanya sepakat bahwa bahasa Melayu memiliki peran besar dalam sejarah perkembangan bahasa nasional, bahkan memiliki keterkaitan dengan bahasa Arab dalam konteks budaya dan penyebaran Islam di Nusantara.
Tak hanya itu, Raul juga menyoroti kesamaan bahasa Melayu di berbagai negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Brunei, hingga Singapura. Ia menilai, kemiripan tersebut memudahkan komunikasi lintas negara tanpa perlu penerjemah.
“Waktu ke Malaysia, kami bisa langsung ngobrol tanpa translator. Rasanya seperti bertemu saudara sendiri,” katanya.
Sementara itu, Fikri menambahkan bahwa meski serumpun, setiap wilayah tetap memiliki ciri khas tersendiri dalam pengucapan maupun kosakata. Perbedaan ini justru menjadi kekayaan budaya yang patut diapresiasi, bukan dipertentangkan.
Di akhir perbincangan, keduanya sepakat bahwa rasa bangga terhadap bahasa Melayu harus diwujudkan dalam praktik nyata, yakni dengan terus menggunakan dan melestarikannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Bahasa Melayu ini warisan turun-temurun. Kita yang muda harus jaga supaya tidak hilang,” ucap Fikri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....