Menjaga Marwah Rima di Ujung Jari: Pantunin AI Bawa Sastra Melayu Mendunia

  • 15 Apr 2026 19:54 WIB
  •  Pontianak

RRI, CO.ID, Pontianak – Warisan budaya tak benda, pantun, kini memiliki wajah baru di era digital. Sebuah aplikasi inovatif bertajuk "Pantunin AI" resmi meluncur di Google Play Store. Aplikasi ini digadang-gadang sebagai pelopor integrasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang diprogram khusus menggunakan kaidah rima Maestro Pantun Kalimantan Barat.

Lahir dari tangan dingin Yaser Syaifudin, seorang penggiat digital asal Pontianak, Pantunin AI mampu merangkai bait-bait pantun secara instan berdasarkan kata kunci yang dimasukkan pengguna. Namun, tetap patuh pada struktur sastra Melayu yang baku.

"Kami ingin memutus stigma bahwa berpantun itu sulit atau kaku. Lewat Pantunin AI, teknologi menjadi 'asisten' kreatif yang memastikan rima dan suku kata terjaga, sehingga siapa pun bisa menjadi maestro di ruang digitalnya sendiri," ujar Yaser Syaifudin, founder Pantunin AI di Pontianak, Rabu, 15 April 2026.

Keunikan aplikasi ini terletak pada "ruh" yang ditanamkan di dalamnya. Pengembangan algoritmanya melibatkan langsung pemikiran Agus Muare, tokoh yang dikenal sebagai Raja Pantun Kalimantan Barat. Hal ini dilakukan agar output yang dihasilkan mesin tidak kehilangan makna dan adab.

"Pantun adalah marwah bangsa Melayu. Kehadiran aplikasi ini memastikan identitas kita tidak hanya menjadi pajangan sejarah, tetapi menjadi literasi budaya yang hidup di ruang maya, mulai dari WhatsApp hingga TikTok," kata Agus.

Ia menambahkan, Pantunin AI menjadi pintu masuk bagi generasi Z dan Alpha untuk mencintai sastra lisan tanpa rasa takut salah rima. Inovasi dari Bumi Khatulistiwa ini pun mendapat perhatian luas. Direktur Utama Balai Pustaka, Achmad Fachrodji, memberikan apresiasi tinggi atas upaya digitalisasi budaya ini. Melalui sebait pantun, ia menyampaikan:

"Pergi ke Bali dari Banjarmasin,

Terurai embun disinari mentari.

Menarik sekali aplikasi Pantunin,

Membuat pantun makin digemari."

Dukungan senada datang dari pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi. Menurutnya, langkah selanjutnya adalah konsistensi narasi di media sosial agar budaya pantun semakin populer di kalangan netizen.

Bagi Yaser, peluncuran ini adalah tahap awal dari misi besarnya membangun aset digital berbasis kearifan lokal. Ia membuktikan bahwa inovasi berkelas dunia bisa lahir dari daerah, asalkan berpijak pada akar budaya yang kuat.

Ke depan, Pantunin AI akan terus dikembangkan dengan fitur komunitas dan kurasi pantun pengguna. "Ini baru awal, insya Allah kita akan mengadakan softlaunching di akhir bulan ini. Kami mengundang semua pihak untuk menjadikan ini gerakan bersama dalam menjaga marwah rima Nusantara," kata Yaser.

Baca juga: Pantun Jadi Wadah Sosialisasi Inklusi Ekonomi Kreatif

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....