Relawan Muda Bergerak, Remaja Diminta Tak Panik Hadapi Kabut Asap
- 18 Sep 2026 13:08 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak — Kabut asap yang menyelimuti Kota Pontianak dan sejumlah wilayah di Kalimantan Barat tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis masyarakat, khususnya remaja.
Hal tersebut mengemuka dalam dialog interaktif program Ronda RRI Pro 2 Pontianak bersama relawan muda dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Kalimantan Barat dan Sentra Remaja Khatulistiwa, Cindy dan Firman pada Kamis, 17 September 2026.
Di tengah kondisi tersebut, para relawan muda turut mengambil bagian dalam aksi sosial melalui gerakan warga tolong warga. Mereka turun langsung ke sejumlah titik terdampak untuk membagikan masker, air, makanan, vitamin hingga memberikan pemeriksaan kesehatan sederhana.
Cindy mengatakan, aksi tersebut bermula dari gerakan spontan anak muda yang melihat kondisi kabut asap semakin pekat. Relawan kemudian berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk organisasi mahasiswa dan instansi kesehatan, untuk menjangkau masyarakat yang membutuhkan. "Awalnya kami spontan bergerak melihat kabut semakin pekat. Kami berkolaborasi dengan berbagai mitra seperti organisasi mahasiswa hingga instansi kesehatan untuk menyalurkan bantuan ke titik-titik yang membutuhkan," ujar Cindy.
Bantuan yang diberikan mencakup masker medis dan KN95, paket makanan dan minuman, vitamin, serta pemeriksaan tekanan darah dan kadar oksigen. Penyaluran juga menyasar kelompok rentan, seperti lansia, ibu hamil dan balita.
Bagi Firman, keterlibatan langsung dalam aksi sosial memberikan pengalaman berbeda dibandingkan hanya mengikuti perkembangan kabut asap melalui media sosial. Menurutnya, kondisi di lapangan memperlihatkan adanya kepedulian dari berbagai pihak yang turut membantu masyarakat terdampak. "Beda banget kalau cuma lihat di sosial media. Sekalinya turun ke lapangan, ternyata banyak yang bergerak berbagi air, masker, dan cek kesehatan. Rupanya kita tidak boleh melihat dari satu sudut pandang saja. Bantuan dari berbagai pihak dan pemerintah itu tetap ada," kata Firman.
Firman juga menceritakan pengalaman pertamanya turun langsung ke salah satu titik terdampak. Ia mengaku sempat merasa khawatir ketika memasuki kawasan dengan kondisi kabut yang semakin pekat. "Awalnya deg-degan saat pergi. Pas sudah masuk ke daerah yang banyak hutan, kabutnya makin pekat dan ternyata parah sekali. Mata terasa perih banget. Ini jadi pengalaman buat lebih waspada lagi dalam menjaga kesehatan fisik maupun mental," tuturnya.
Menurut Firman, perubahan kondisi lingkungan yang drastis juga dapat memengaruhi kondisi psikologis remaja. Perubahan dari kondisi langit yang biasanya cerah menjadi penuh kabut, ditambah pembatasan aktivitas di luar rumah, dapat menimbulkan rasa khawatir. Karena itu, ia mengingatkan masyarakat, khususnya remaja, agar tidak membiarkan informasi mengenai kabut asap memicu kepanikan berlebihan. Masyarakat disarankan menggunakan media sosial secara bijak ketika memantau perkembangan kondisi udara. "Pesan saya stay safe dan jangan terlalu panik. Kurangi penggunaan media sosial atau gunakan dengan bijak saat memantau kondisi agar tidak mempengaruhi emosi. Selalu pakai masker, bawa air, minum vitamin, dan perbanyak olahraga di dalam ruangan," pungkasnya.
Selain menjaga kesehatan fisik, PKBI Kalbar juga memfasilitasi layanan konseling dengan konselor profesional maupun konselor sebaya sebagai salah satu bentuk dukungan bagi masyarakat yang membutuhkan pendampingan psikologis. Upaya menghadapi kabut asap diharapkan tidak hanya berfokus pada perlindungan kesehatan fisik, tetapi juga memperhatikan kondisi mental masyarakat selama aktivitas dan mobilitas masih terbatas.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....