IAIN Pontianak, Kampus Pelopor Inklusi di Kalimantan Barat

  • 31 Agt 2026 19:08 WIB
  •  Pontianak
Poin Utama
  • IAIN Pontianak menyediakan Juru Bahasa Isyarat (JBI) sebagai dukungan aksesibilitas bagi mahasiswa baru penyandang disabilitas Tuli dalam acara PBAK Tahun 2026.
  • Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) IAIN Pontianak berlangsung selama tiga hari, dari 31 Agustus hingga 2 September 2026.
  • Program PBAK 2026 mengusung tema 'Membentuk Generasi Berakar, Adaptif, dan Berdampak' sebagai bagian dari komitmen pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan.

RRI.CO.ID. Pontianak - Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak kembali menunjukkan komitmennya dalam mewujudkan lingkungan pendidikan yang inklusif. Dalam pelaksanaan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Tahun 2026, IAIN Pontianak menyediakan Juru Bahasa Isyarat (JBI) sebagai bentuk dukungan aksesibilitas bagi mahasiswa baru penyandang disabilitas Tuli.

PBAK IAIN Pontianak Tahun 2026 berlangsung selama tiga hari, mulai 31 Agustus hingga 2 September 2026, dengan mengusung tema Membentuk Generasi Berakar, Adaptif, dan Berdampak.

Kegiatan PBAK bertujuan memperkenalkan lingkungan kampus, sistem akademik, moderasi beragama, sekaligus memperkuat karakter dan kedisiplinan mahasiswa baru.

Penyediaan JBI (Juru Bahasa Isyarat) dalam PBAK tahun ini menjadi langkah lanjutan dari komitmen IAIN Pontianak dalam menghadirkan akses pendidikan yang lebih inklusif. Ini merupakan tahun kedua IAIN Pontianak menyediakan JBI untuk mendukung mahasiswa baru disabilitas Tuli dalam mengikuti rangkaian kegiatan PBAK.

Pada tahun ini, IAIN Pontianak menerima enam mahasiswa baru penyandang disabilitas, yang terdiri atas empat mahasiswa Tuli, satu mahasiswa Netra, dan satu mahasiswa Grahita.

Kehadiran JBI menjadi jembatan komunikasi antara narasumber dan mahasiswa Tuli dalam berbagai sesi dan materi yang disampaikan selama PBAK. Dengan adanya akses bahasa isyarat, mahasiswa Tuli dapat mengikuti kegiatan dengan lebih nyaman dan memahami materi yang diberikan.

Langkah tersebut menjadi salah satu bentuk nyata upaya IAIN Pontianak dalam mewujudkan lingkungan pendidikan yang inklusif, sejalan dengan semangat SDGs Indonesia 4.a, yaitu membangun dan meningkatkan fasilitas pendidikan yang ramah anak, ramah penyandang disabilitas dan gender, serta menyediakan lingkungan belajar yang aman, antikekerasan, inklusif, dan efektif bagi semua.

Dalam pelaksanaannya, IAIN Pontianak bekerja sama dengan layanan Juru Bahasa Isyarat dari Yayasan Bhakti Arumi Delangga – Maktab Tuli As-Sami selama tiga hari kegiatan berlangsung. JBI hadir untuk memastikan komunikasi dapat berlangsung secara lebih setara dan menjadi jembatan antara mahasiswa Tuli dengan seluruh rangkaian kegiatan di lingkungan kampus.

M. Ramli, Juru Bahasa Isyarat yang terlibat dalam kegiatan tersebut, mengaku bangga dapat mendampingi mahasiswa Tuli yang mengikuti PBAK sebagai mahasiswa baru.

Saya merasa bahagia telah bisa membantu teman-teman Tuli yang menjadi mahasiswa baru. Adanya JBI secara tidak langsung ikut mengadvokasi Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) kepada banyak mahasiswa baru dan civitas akademika. Ini juga menunjukkan bahwa teman Tuli memiliki hak untuk bisa belajar di perguruan tinggi,” ujar M. Ramli, Senin, 31 Agustus 2026.

Lebih dari sekadar membantu proses komunikasi, kehadiran JBI dalam kegiatan PBAK menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran bahwa akses pendidikan merupakan hak semua orang, termasuk penyandang disabilitas Tuli.

Lingkungan kampus yang inklusif bukan hanya tentang menyediakan fasilitas, tetapi juga tentang memastikan setiap mahasiswa memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berpartisipasi, dan berkembang.

Pendidikan seharusnya tidak memiliki batas bagi siapa pun. Ketika akses dibuka dan komunikasi dijembatani, perbedaan bukan lagi menjadi penghalang untuk tumbuh dan meraih masa depan. Kehadiran mahasiswa Tuli di perguruan tinggi menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki hak untuk bermimpi, belajar, dan memberi dampak. Kampus yang inklusif adalah kampus yang tidak hanya menerima keberagaman, tetapi juga memastikan setiap suara termasuk suara yang disampaikan melalui bahasa isyarat dapat didengar dan dihargai.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....