Kemarau dan Intrusi Air Asin, PDAM Jaga Pasokan Air Pontianak

  • 27 Agt 2026 16:47 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak — Musim kemarau di Kalimantan Barat berdampak terhadap kualitas air baku yang digunakan PDAM Tirta Khatulistiwa Kota Pontianak. Intrusi air asin dari Sungai Kapuas menyebabkan kadar klorida meningkat, terutama saat air laut pasang.

Meski demikian, PDAM memastikan produksi dan distribusi air kepada masyarakat tetap berjalan selama 24 jam. Hal tersebut disampaikan Kepala Bagian Distribusi PDAM Tirta Khatulistiwa, Wahyudi, dalam program Pontianak Menyapa Pro 1 Pontianak, Senin, 24 Agustus 2026.

Wahyudi mengatakan, dari sisi kuantitas, pasokan air masih mencukupi. PDAM memiliki kapasitas terpasang sekitar 2.340 liter per detik yang bersumber dari Sungai Kapuas, Sungai Landak, dan penepat Sungai Ambawang. “Dari sisi kuantitas dan debit, masyarakat tidak perlu khawatir. Produksi dan distribusi tetap berjalan 24 jam. Namun, persoalannya saat ini adalah peningkatan kadar klorida akibat intrusi air asin,” ujar Wahyudi.

Menurutnya, kadar klorida di sejumlah titik bahkan sempat mencapai 3.000 hingga 5.000 miligram per liter. Angka tersebut berada jauh di atas ambang batas 300 miligram per liter.

Karena itu, masyarakat di wilayah terdampak diimbau untuk sementara tidak menggunakan air tersebut sebagai air minum. Air masih dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan mandi dan mencuci.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, PDAM mengoperasikan pompa di kawasan Penepat. Air tawar dicampurkan dengan air baku dari sumber lainnya untuk menekan kadar asin sebelum didistribusikan kepada pelanggan.

Wahyudi menjelaskan, teknologi pengolahan air asin menjadi air tawar seperti Reverse Osmosis sebenarnya memungkinkan diterapkan. Namun, teknologi tersebut membutuhkan investasi dan biaya operasional yang besar.

Berdasarkan simulasi dan uji coba PDAM, biaya produksi air hasil pengolahan air asin dapat mencapai sekitar Rp20 ribu per meter kubik. Sementara tarif rata-rata pelanggan rumah tangga saat ini berada di kisaran Rp3.500 hingga Rp5.000 per meter kubik.

“Kalau dipaksakan, tentu akan berdampak terhadap tarif yang dibayarkan masyarakat. Ketika musim hujan tiba dan air sungai kembali tawar, peralatan desalinasi yang mahal juga tidak digunakan secara maksimal,” kata Wahyudi.

Untuk mengantisipasi kebutuhan masyarakat selama kondisi tersebut, PDAM mengimbau pelanggan menampung air pada malam hari ketika tekanan distribusi relatif stabil. Air yang ditampung dapat menjadi cadangan saat penggunaan meningkat pada jam-jam puncak.

PDAM Tirta Khatulistiwa memastikan berbagai langkah operasional terus dilakukan untuk menjaga keberlangsungan pelayanan air bersih bagi masyarakat Pontianak di tengah musim kemarau dan meningkatnya intrusi air asin.

Baca juga: Atasi Krisis Air Baku akibat Intrusi Air Laut saat Musim Kemarau

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....