Kritik Eksploitasi Hutan, Perupa Kalbar Puji Rahayu Bawa Karya Instalasi ke Kalsel
- 03 Agt 2026 20:33 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Perupa sekaligus Kurator Seni Rupa Kalimantan Barat (Kalbar), Puji Rahayu, mengangkat isu kerusakan lingkungan lewat karya seni instalasi pada ajang Biennale Kalimantan 2026 di Banjarmasin. Pesan pelestarian alam tersebut disampaikan Puji saat menjadi narasumber dalam obrolan interaktif program Ngander di Studio RRI Pro 4 Pontianak, Senin, 3 Agustus 2026 bersama host Ibeng.
Pameran akan dibuka secara resmi pada Senin, 10 Agustus 2026, dan berlangsung selama 14 hari hingga 24 Agustus 2026 di Taman Budaya Kalimantan Selatan. Puji Rahayu adalah salah satu perupa di antara 32 perupa yang terpilih. Sebelumnya, terdapat 50 perupa yang mengikuti proses open call, kemudian diseleksi menjadi 32 peserta.
Merespons tema pameran yang bertajuk "Sajian", Puji memilih untuk tidak menampilkan makanan secara harfiah. Ia menganalogikan Pulau Kalimantan itu sendiri sebagai sumber pangan dan urat nadi kehidupan.
"Kalimantan itu katanya zamrud khatulistiwa, paru-paru dunia. Intinya kan sumber makanan ya. Akhirnya saya tertarik untuk membuat Kalimantan itulah sajian," ujar Puji menjelaskan konsep karyanya.
Karya instalasinya berwujud enam buah piring yang disusun melingkar di atas alas kertas tempat telur, menyimbolkan siklus rantai makanan. Di dalam piring-piring tersebut, Puji memanfaatkan material lokal berupa kulit kayu kapua dan menyematkan simbol kekayaan alam, meliputi buah tengkawang serta burung Enggang Gading.
Pada rangkaian piring lainnya, Puji memunculkan figur manusia berjas sebagai representasi pihak yang mengeksploitasi hutan secara konsumtif. Visual ini dikontraskan secara tajam dengan figur masyarakat adat di rumah panjang yang teguh menjaga hutan.
"Nasib mereka (masyarakat adat) itu masih begitu terabaikan. Dalam sunyi mereka tidak terjangkau apa-apa, tapi mereka sangat menjaga itu (hutan). Tetapi kita kadang hanya hadir untuk eksploitasi," ucapnya prihatin.
Dalam kesempatan dialog tersebut, Puji juga mengevaluasi kelemahan tata kelola administrasi di kalangan seniman rupa Kalimantan Barat. Ia menyayangkan masih banyaknya seniman yang gagal menembus pameran luar daerah karena kurang teliti membaca petunjuk teknis dan lalai merawat rekam jejak (Curriculum Vitae).
"Kita harus tahu diri bahwa seniman itu kerjaannya apa. Satu pasti berkarya. Dan kedua, jangan lupa bahwa dokumentasi itu penting. Track record itu suatu saat diperlukan ketika kita daftar ke mana saja," kat Puji memberikan pesan kepada rekan-rekan seniman lokal.
Sebagai langkah nyata membangun ekosistem seni rupa daerah yang profesional, Puji kini bersiap menggelar pameran bertajuk "Borneo Metamorphosa". Pameran yang dijadwalkan pada 25 hingga 29 Agustus 2026 di Gedung Wawasan Nusantara, Museum Kalimantan Barat ini, melibatkan 24 seniman se-Kalimantan serta pelajar sekolah guna memastikan regenerasi seniman lokal.
Baca juga: HWDI Dorong Perempuan Disabilitas Berperan dalam Aksi Iklim
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....