Perempuan Berdaya, Kunci Bangun Keluarga Tangguh di Kalbar
- 06 Okt 2026 13:38 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Perempuan yang berdaya dinilai menjadi salah satu kunci dalam membangun keluarga yang tangguh. Pemberdayaan perempuan tidak hanya berkaitan dengan kemandirian ekonomi, tetapi juga menyangkut kemampuan mengambil keputusan, akses pendidikan, perlindungan dari kekerasan, serta kesempatan berperan dalam keluarga dan ruang publik.
Hal tersebut disampaikan Koordinator Wilayah Pusat Pengembangan Sumber Daya Wanita (PPSW) Borneo, Mariamah Achmad, dalam dialog program Pengarusutamaan Gender dan Inklusi RRI Pro 1 Pontianak, Senin, 5 Oktober 2026.
Menurut Mariamah, perempuan berdaya adalah perempuan yang memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan hidupnya, mampu menyampaikan pendapat, serta memiliki akses terhadap sumber daya ekonomi dan layanan publik.
“Perempuan yang berdaya itu secara fisik, secara ekonomi, kemudian faktor-faktor pendukung lainnya secara emosional. Dia bebas mengungkapkan pendapatnya tanpa ada tekanan, bisa membuat keputusan bagi dirinya sendiri,” ujar Mariamah.
Ia menilai kemandirian ekonomi juga penting bagi perempuan, meskipun kebutuhan keluarga tetap menjadi tanggung jawab bersama. Perempuan perlu memiliki keterampilan dan penghasilan sebagai bentuk kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan dalam kehidupan keluarga.
“Lebih baik perempuan itu memiliki penghasilan sendiri, memiliki keterampilan hidup yang kemudian keterampilan hidup itu dapat digunakan untuk meningkatkan perekonomiannya,” katanya.
Mariamah menyebut pendidikan dan keterampilan hidup menjadi tantangan besar dalam upaya meningkatkan keberdayaan perempuan. Masih banyak perempuan, termasuk di wilayah perkotaan, yang memiliki tingkat literasi dan pendidikan rendah sehingga kesulitan mengakses pekerjaan dan peluang ekonomi yang lebih baik.
Menurutnya, pemerintah perlu memperbaiki pendataan agar program pemberdayaan benar-benar menjangkau kelompok perempuan yang membutuhkan, bukan hanya mereka yang sudah memiliki akses informasi dan komunitas.
“PR-nya adalah bagaimana meningkatkan keterampilan hidup si perempuan ini untuk lebih berdaya,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan bahwa rendahnya pendidikan perempuan dapat berdampak pada generasi berikutnya. Kondisi tersebut berpotensi menciptakan lingkaran yang terus berulang, ketika orang tua dengan pendidikan rendah kemudian kesulitan memberikan pendidikan dan pengasuhan yang optimal kepada anak.
Selain pemberdayaan ekonomi, Mariamah menekankan pentingnya pembagian peran yang adil antara laki-laki dan perempuan dalam keluarga.
Perempuan yang bekerja di ruang publik, menurutnya, tidak seharusnya tetap menanggung seluruh pekerjaan domestik sendirian. Pengasuhan anak, pekerjaan rumah tangga, hingga pengelolaan keuangan keluarga perlu menjadi tanggung jawab bersama.
“Ketika perempuan sudah ke ranah publik, seperti laki-laki, harusnya laki-laki juga ke ranah domestik. Jadi berbagi perannya di situ,” jelasnya.
Ia menilai komunikasi dan kesepakatan menjadi dasar penting dalam membangun keluarga yang setara. Setiap anggota keluarga, termasuk anak, juga perlu diberi ruang untuk menyampaikan pendapat sesuai dengan usia dan kemampuannya.
Mariamah menegaskan bahwa pengarusutamaan gender bukan hanya tugas perempuan. Laki-laki juga perlu mendapatkan edukasi mengenai kesetaraan, pengelolaan keuangan keluarga, pengasuhan anak, hingga pembagian peran domestik.
Menurutnya, edukasi juga harus menyasar pembuat kebijakan. Keterlibatan perempuan dalam proses pengambilan keputusan dinilai penting agar kebijakan yang dibuat dapat menjawab kebutuhan seluruh masyarakat.
“Edukasi terhadap laki-laki dan perempuan ini bukan hanya dalam sebuah keluarga, tetapi juga kepada pembuat kebijakan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya menciptakan lingkungan yang inklusif, termasuk bagi perempuan hamil, lansia, penyandang disabilitas, serta kelompok rentan lainnya.
Untuk memutus pola ketidaksetaraan gender, Mariamah mendorong orang tua mulai menerapkan pola pengasuhan yang setara sejak anak usia dini. Anak laki-laki dan perempuan perlu mendapatkan kesempatan dan tanggung jawab yang seimbang.
Ia mengingatkan bahwa anak merupakan peniru ulung sehingga perilaku orang tua dan lingkungan akan sangat memengaruhi cara anak memandang laki-laki dan perempuan.
“Kalau kita mau memutus lingkaran setan ini, memang dari keluarga. Sebuah keluarga harus berani mendidik anaknya equal, laki-laki maupun perempuan,” katanya.
Mariamah juga mengajak perempuan untuk terus belajar dan membuka diri. Menurutnya, keberdayaan dapat dimulai dari kesadaran bahwa setiap perempuan memiliki hak untuk berkembang dan menentukan masa depannya.
“Kesadaran itu hasil dari belajar. Bagaimana perempuan itu menyadari bahwa dirinya perlu berubah, perlu belajar, perlu membuka diri,” ungkapnya.
Di akhir dialog, Mariamah berpesan kepada perempuan di Kalimantan Barat agar tidak takut melakukan perubahan, meskipun prosesnya berlangsung secara perlahan.
“Jangan takut untuk berubah walaupun mungkin ada banyak penghambat untuk ke arah perubahan itu. Pelan-pelan dengan tujuan. Jadi tetapkan tujuan dan pelan-pelan ke arah itu,” pungkasnya.
Ia menegaskan, perempuan tidak hanya memiliki peran dalam keluarga, tetapi juga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan ikut berkontribusi dalam pembangunan.
“Jangan berpikir bahwa keluargamu itu duniamu. Dunia ini besar dan kita juga harus berpikiran besar,” Pungkasnya, mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....