Penyuluh Agama Harus Jadi Sahabat Masyarakat

  • 21 Agt 2026 20:16 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Pengurus Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Wilayah Kalimantan Barat, Hj. Enny Kurniati, S.Ag., M.Pd., menegaskan pentingnya posisi penyuluh agama sebagai sahabat dekat bagi seluruh lapisan masyarakat. Hal tersebut disampaikannya dalam program obrolan interaktif Ngander Moderasi Beragama di Studio RRI Pro 4 Pontianak, Kamis, 20 Agustus 2026.

Enny menjelaskan bahwa makna sahabat mencerminkan sikap kepedulian, kesetaraan, dan kebersamaan tanpa sekat. Menurutnya, penyuluh agama tidak hanya bertugas menyampaikan dakwah keagamaan, tetapi juga harus hadir menjadi pendengar yang baik atas berbagai persoalan warga di tingkat akar rumput.

"Penyuluh agama itu hadir untuk merangkul, bukan memukul, serta membimbing tanpa mengejek. Kami siap mendengarkan keluh kesah masyarakat, mulai dari masalah sosial, keagamaan, ekonomi, hingga pendampingan dan bimbingan perkawinan di BP4," ujar Enny.

Ia menambahkan, tantangan terbesar seorang penyuluh agama di tengah dinamika sosial saat ini adalah keteladanan, keikhlasan, dan kesabaran yang tinggi. Penyuluh dituntut untuk memperbaiki kualitas diri terlebih dahulu sebelum mengajak masyarakat ke arah kebaikan melalui dakwah bil lisan, bil hal, maupun bil hikmah.

Program obrolan interaktif Ngander Moderasi Beragama di Studio RRI Pro 4 Pontianak, Kamis, 20 Agustus 2026, bersama Hj. Enny Kurniati, S.Ag., M.Pd., yang dipandu penyiar Ibeng

Menanggapi pertanyaan pendengar mengenai maraknya isu adu domba dan hoaks di media sosial, Enny mengimbau masyarakat untuk lebih bijak serta melakukan verifikasi sebelum membagikan informasi. Prinsip saring sebelum sharing dinilai sangat penting agar kemajuan teknologi digital tidak memicu perpecahan dan fitnah.

"Gunakan gawai untuk menambah amal ibadah dan kebaikan. Kalau mendengar kabar yang belum tentu benar, tabayun atau lebih baik diam agar tidak ikut menyebarkan kabar bohong dan memicu perselisihan," tegasnya.

Terkait komunikasi dakwah, Enny menekankan pendekatan yang adaptif sesuai jenjang usia masyarakat. Menghadapi kalangan orang tua dan tokoh masyarakat harus mengedepankan kesantunan dan rasa hormat, sementara berdialog dengan generasi muda perlu menggunakan bahasa yang komunikatif dan relevan dengan dunia mereka.

Menutup dialog, Enny berpesan agar masyarakat tidak ragu membuka ruang diskusi bersama penyuluh agama di wilayah masing-masing untuk menyelesaikan berbagai persoalan secara musyawarah dan kekeluargaan.

"Bagi rekan-rekan penyuluh, mari jadikan senyum, empati, dan keikhlasan sebagai modal utama pengabdian. Jadilah seperti mata air yang selalu menyejukkan di mana pun kita berada," tuturnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....