Rawat Keberagaman, Pandita Sujono Tekankan Pentingnya Dialog dan Musyawarah

  • 08 Agt 2026 21:38 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Perbedaan agama, suku, dan budaya di Indonesia merupakan realitas alamiah yang harus dikelola melalui komunikasi dua arah. Penyuluh Agama Buddha sekaligus Ketua Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Wilayah Kalimantan Barat, Pandita Sujono, S.Ag., menegaskan bahwa musyawarah adalah jalan utama mencari titik temu demi kepentingan bersama.

Pesan kerukunan tersebut diulas dalam program siaran obrolan interaktif Ngander RRI Pro 4 Pontianak bertema "Menyelesaikan Perbedaan dengan Dialog dan Musyawarah", yang dipandu oleh penyiar Ibenk pada Kamis, 6 Agustus 2026.

Menyikapi rentannya gesekan sosial di masyarakat, Sujono memaparkan prinsip dasar yang harus dipegang saat menghadapi perbedaan pandangan. Ia menggarisbawahi bahwa tujuan utama komunikasi bukanlah untuk menghakimi atau mencari pihak yang bersalah.

"Dialog adalah suatu proses saling mendengar, saling memahami, dan mencari kebenaran bersama. Dalam dialog tidak ada keinginan untuk menang sendiri. Dialog dilakukan dengan penuh kesabaran, cinta kasih, serta penghormatan terhadap teman dialog kita," ujar Sujono memberikan penekanan.

Sujono menjelaskan, sikap toleransi dan kebiasaan menyelesaikan konflik idealnya ditanamkan sejak dini dari lingkungan terkecil, yakni institusi keluarga. Komunikasi yang sehat antara orang tua, anak, suami, dan istri menjadi fondasi penting dalam menghadapi setiap persoalan rumah tangga maupun lingkungan sekitar.

Ia mengingatkan masyarakat untuk selalu menenangkan pikiran saat menghadapi masalah. Keputusan strategis sangat dilarang diambil ketika seseorang sedang dalam kondisi marah atau emosi yang meledak-ledak. Masyarakat diajak untuk mendengarkan lawan bicara secara utuh dan mengutamakan tutur kata yang lembut agar tidak memicu permusuhan baru.

Di era digital yang serba cepat ini, potensi perpecahan akibat persebaran hoaks dan adu domba di media sosial juga sangat tinggi. Oleh karena itu, publik diimbau untuk selalu menyaring informasi secara kritis dan menghindari sikap reaktif.

Apabila bibit kesalahpahaman telanjur muncul di tengah masyarakat lintas iman, langkah mediasi tetap menjadi jalan keluar. Warga dapat merangkul para pemuka agama yang tergabung dalam IPARI maupun Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) untuk menjembatani persoalan agar tidak melebar.

"Perbedaan itu bukan ancaman, melainkan kekayaan. Dialog adalah jembatan, dan musyawarah adalah jalan menuju solusi. Jika semua itu dipraktikkan, maka keluarga menjadi harmonis, masyarakat menjadi damai, dan bangsa menjadi kuat," ucap Sujono di akhir dialog.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....