Cegah Polarisasi, IPARI Kalbar Masifkan Edukasi Moderasi Beragama

  • 14 Agt 2026 08:47 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Upaya merawat kerukunan antarumat beragama di Kalimantan Barat terus digencarkan melalui penguatan moderasi beragama, khususnya dalam menghadapi arus informasi di era digital. Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Provinsi Kalimantan Barat mendorong para penyuluh untuk aktif memanfaatkan media sosial sebagai sarana dakwah dan edukasi bagi generasi milenial.

Ketua Umum IPARI Wilayah Kalimantan Barat, Dr. H. Kartono, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa moderasi beragama bukanlah upaya untuk mengubah atau memodernisasi ajaran agama itu sendiri. Konsep ini difokuskan pada penyesuaian cara pandang, sikap, serta perilaku umat agar senantiasa mengedepankan toleransi dan kerukunan di tengah masyarakat majemuk.

"Sekali lagi, moderasi beragama bukan memoderankan agama. Ini adalah upaya memoderankan pola pikir, cara sikap, dan cara tindak umat beragama supaya lebih moderat. Tujuannya agar kita memandang orang lain bukan sebagai musuh, melainkan sebagai saudara sebangsa," ujar Kartono saat menjadi narasumber dalam dialog interaktif di Studio RRI Pro 4 Pontianak yang dipandu penyiar Nani Saputra (Mbok Nani), Kamis, 13 Agustus 2026.

Guna mengukur keberhasilan sikap moderat tersebut, Kartono memaparkan empat indikator utama yang wajib dimiliki oleh setiap warga negara. Keempat indikator itu meliputi komitmen kebangsaan yang kuat terhadap keutuhan NKRI, prinsip menolak segala bentuk kekerasan, sikap toleran dalam memberikan ruang ibadah bagi penganut agama lain, serta penghargaan terhadap adat budaya lokal yang berkembang di masyarakat.

Lebih lanjut, ia melihat beratnya beban kerja lebih dari seribu penyuluh agama yang tersebar di seluruh pelosok Kalimantan Barat. Para penyuluh ini dituntut bersiaga penuh selama 24 jam di lingkungan binaannya. Tugas mereka mencakup penyampaian program pemerintah seperti pencegahan stunting dan edukasi bahaya narkoba menggunakan bahasa keagamaan. Di samping itu, penyuluh wajib terjun langsung sebagai penengah manakala terjadi potensi konflik atau kesalahpahaman di tingkat akar rumput.

Menyikapi fenomena generasi muda yang sangat lekat dengan gawai, Kartono menginstruksikan seluruh penyuluh agama untuk beradaptasi dan membanjiri berbagai platform media sosial dengan konten bernuansa sejuk. Sebagai langkah pencegahan tambahan, ia turut mengingatkan para orang tua agar senantiasa mengontrol aktivitas digital anak-anaknya di rumah guna menangkal paparan paham radikal, pergaulan bebas, dan muatan negatif lainnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....