Iqra sejak Dini, Kunci Bangun Literasi dan Bahasa Anak di Rumah

  • 13 Agt 2026 10:19 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Pengenalan literasi dan kemampuan berbahasa anak perlu dimulai sejak dini, terutama melalui lingkungan keluarga. Literasi pada anak usia dini tidak sebatas kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan anak dalam mengenali lingkungan, memahami bahasa, berkomunikasi, serta menyerap nilai-nilai kehidupan. Hal tersebut disampaikan Ustadzah Farninda Aditya,M.Pd, dalam acara Mutiara Pagi Pro 1 RRI Pontianak, Selasa, 11 Agustus 2026.

Ustadzah Farninda Aditya menjelaskan, keluarga memiliki peran penting dalam memberikan stimulasi bahasa dan literasi sesuai dengan tahapan perkembangan anak. Menurutnya, orang tua tidak perlu memaksakan anak usia dini untuk langsung mampu membaca huruf, tetapi dapat memulainya melalui komunikasi dan aktivitas sederhana sehari-hari.

“Literasi dan bahasa di sini tentu berkaitan dengan anak usia dini, di mana usia-usia mereka memiliki tahapan terkait dengan perkembangan mereka,” ujar Farninda.

Ia menjelaskan, perkembangan bahasa anak berlangsung secara bertahap sejak lahir. Pada usia 0 hingga 3 bulan, misalnya, anak mulai mengenali suara orang tua dan lingkungan sekitarnya. Memasuki usia berikutnya, anak mulai menunjukkan respons melalui suara, senyum, tawa, hingga kemampuan menirukan kata-kata sederhana.

Karena itu, orang tua dianjurkan memperhatikan setiap perkembangan tersebut dan memberikan stimulasi yang sesuai. Komunikasi sederhana, bernyanyi, membacakan cerita, hingga mengajak anak berbicara dapat menjadi bagian dari proses pengembangan kemampuan bahasa.

Farninda juga mengingatkan orang tua agar tidak terus-menerus mengikuti pengucapan kata anak yang belum sempurna. Jika anak mengatakan suatu kata dengan pelafalan yang belum tepat, orang tua sebaiknya memberikan contoh pengucapan yang benar tanpa memarahi anak.

“Kalau dia bilang ‘tidak mau’, jangan kita turuti terus dengan mengatakan ‘gak mau’. Kita bisa tetap memahami maksud anak, tetapi memberikan contoh kata yang tepat, yaitu ‘tidak mau,” katanya.

Selain kemampuan bahasa, konsep Iqra sejak dini juga dapat digunakan untuk mengenalkan nilai agama dan akhlak kepada anak. Membaca dalam konteks tersebut tidak hanya berarti membaca tulisan, tetapi juga mengajak anak “membaca” lingkungan dan memahami berbagai hal yang ada di sekitarnya.

Orang tua dapat mengenalkan nilai-nilai tersebut melalui kegiatan sehari-hari, seperti membaca doa sebelum makan, mengajarkan rasa syukur, mengenalkan sopan santun, serta membiasakan anak menggunakan kata-kata yang baik.

Menurut Farninda, keteladanan orang tua menjadi bagian penting karena anak berada pada fase suka meniru. Apa yang mereka dengar dan lihat dari lingkungan keluarga berpotensi menjadi bagian dari kebiasaan berbahasa dan perilaku mereka.

“Penanaman nilai tauhid dan akhlak itu sebagai pondasi di dalam lingkungan rumah untuk anak usia dini,” katanya lagi.

Ia juga mendorong orang tua menggunakan buku bergambar, lagu anak, permainan, hingga lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran. Anak tidak harus selalu belajar menggunakan media khusus. Daun, tanaman, maupun benda-benda di sekitar rumah dapat dimanfaatkan untuk mengenalkan warna, bentuk, proses pertumbuhan, sekaligus mengembangkan kemampuan berbicara anak.

Di sisi lain, perkembangan teknologi dan paparan media digital menjadi tantangan tersendiri. Anak dapat dengan mudah meniru kata-kata maupun perilaku yang mereka lihat dari tontonan, termasuk bahasa yang tidak sesuai dengan usia mereka.

Farninda menyebut, pendampingan keluarga menjadi penting agar anak memiliki kemampuan menyaring bahasa yang mereka peroleh dari luar lingkungan rumah. “Anak ini sangat ulung dalam menirukan, jadi apa saja diambilnya tanpa filter. Itu memang harus ada pendampingan dari keluarga,” ucapnya.

Ia menyarankan orang tua memanfaatkan waktu-waktu yang memungkinkan terbangunnya kedekatan dengan anak untuk memberikan arahan, termasuk ketika anak menjelang tidur dan setelah makan. Menurutnya, suasana yang tenang dan adanya ikatan emosional dapat menjadi kesempatan yang baik bagi orang tua untuk berkomunikasi dan memberikan nasihat.

Dengan stimulasi yang konsisten, komunikasi yang baik, serta keteladanan dari orang tua, kemampuan literasi dan bahasa anak diharapkan berkembang secara optimal. Lebih dari itu, proses tersebut dapat menjadi fondasi dalam membentuk anak yang memiliki kemampuan berkomunikasi sekaligus karakter dan akhlak yang baik.

Baca juga: Jadikan Bulan Safar Sebagai Momentum Perbaiki Diri

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....