Rumah Jadi Madrasah Literasi, Kunci Bentuk Akhlak Mulia Anak sejak Dini
- 05 Agt 2026 15:52 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Rumah memiliki peran yang sangat penting sebagai madrasah pertama bagi anak dalam membangun budaya literasi sekaligus menanamkan nilai-nilai akhlak mulia sejak usia dini. Literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup proses anak mengenal bahasa, memahami lingkungan, membangun karakter, hingga belajar membedakan nilai baik dan buruk melalui interaksi sehari-hari bersama keluarga.
Hal tersebut disampaikan Dosen Pendidikan sekaligus pemerhati literasi anak usia dini, Ustadzah Farninda Aditya, M.Pd., dalam program Mutiara Pagi RRI Pro 1 Pontianak, Selasa, 4 Agustus 2026. Menurutnya, keluarga menjadi fondasi utama pembentukan karakter anak karena rumah merupakan tempat pertama anak belajar sebelum memasuki lingkungan pendidikan formal.
"Ketika kita mendengar tentang literasi, itu tidak sekadar anak harus bisa membaca atau menulis. Literasi bagi anak usia dini dimulai sejak mereka mengenal suara, memahami bahasa, mendengar cerita, hingga belajar dari keteladanan orang tua di rumah," ujarnya.
Ia menjelaskan, masa emas atau golden age anak merupakan periode yang sangat menentukan perkembangan kemampuan bahasa, karakter, dan kecerdasan. Oleh karena itu, orang tua perlu memberikan stimulasi positif melalui kebiasaan membacakan buku, bercerita, berdialog, hingga memberikan contoh perilaku yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Farninda, budaya literasi di rumah tidak harus selalu mengandalkan buku. Orang tua dapat memanfaatkan pengalaman sehari-hari sebagai bahan cerita yang menarik bagi anak.
"Anak-anak sangat menyukai cerita yang dekat dengan kehidupan mereka. Kita bisa bercerita tentang lingkungan sekitar, pengalaman sehari-hari, kisah para nabi, maupun cerita rakyat yang mengandung nilai-nilai moral," katanya.
Di era digital, ia mengakui penggunaan gawai menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua. Namun, ia menegaskan bahwa gawai bukanlah musuh apabila dimanfaatkan secara bijak dan tetap berada dalam pengawasan orang tua.
"Gawai bukan menjadi musuh, tetapi bisa menjadi pendamping. Yang terpenting adalah pendampingan orang tua, membuat aturan waktu penggunaan, serta mengimbanginya dengan aktivitas bermain, berdialog, membaca, dan bercerita bersama anak," jelasnya.
Ia juga mengingatkan agar orang tua tidak sekadar melarang anak bermain gawai, melainkan menghadirkan aktivitas yang lebih menarik sehingga anak memperoleh pengalaman belajar yang menyenangkan di rumah.
Selain meningkatkan kemampuan literasi, kebiasaan berdialog dan bercerita bersama keluarga dinilai mampu memperkuat ikatan emosional antara orang tua dan anak. Melalui komunikasi yang hangat, anak lebih mudah mengungkapkan perasaan, belajar mengelola emosi, sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri dalam berinteraksi di lingkungan sosial.
Farninda berharap keluarga dapat kembali menghidupkan budaya literasi di rumah sebagai bekal utama anak menghadapi tantangan zaman.
"Budaya belajar dan budaya literasi di rumah sangat membantu ketika anak berada di lingkungan sekolah. Orang tua adalah pondasi pertama pendidikan anak, sedangkan sekolah menjadi tempat untuk memperkuat fondasi tersebut," tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....