Bulan Safar Bukan Bulan Sial, Ustadz Wibowo Ajak Ummat Luruskan Pemahaman
- 04 Agt 2026 11:13 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Anggapan bahwa bulan Safar merupakan bulan sial atau waktu yang tidak baik untuk menikah, bepergian, maupun memulai aktivitas tertentu masih berkembang di tengah masyarakat. Padahal, dalam ajaran Islam tidak ada dalil yang menyatakan bahwa bulan Safar membawa kesialan. Ummat Islam justru diajak memanfaatkan bulan tersebut untuk meningkatkan ibadah dan memperbaiki diri.
Hal tersebut disampaikan Ustadz Tri Wibowo, M.Pd., dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Pontianak, Senin 3 Agustus 2026. Menurutnya, keyakinan bahwa bulan Safar identik dengan kesialan merupakan mitos yang tidak memiliki dasar dalam syariat Islam.
"Sesungguhnya bulan Safar bukanlah bulan yang sial. Tidak ada dalam kalender Allah ada bulan yang membawa kesialan. Semua bulan yang Allah ciptakan adalah baik dan memiliki hikmah bagi kehidupan manusia," ujar Ustadz Tri Wibowo.
Ia menjelaskan, Rasulullah SAW telah meluruskan anggapan tersebut melalui hadis yang menolak keyakinan terhadap tathayyur atau anggapan sial karena waktu, tempat maupun pertanda tertentu. Karena itu, masyarakat tidak perlu takut melakukan aktivitas penting pada bulan Safar, termasuk menikah, bepergian, maupun memulai usaha.
Menurutnya, jika benar bulan Safar merupakan bulan yang membawa kesialan, maka Nabi Muhammad SAW tidak akan melakukan berbagai peristiwa penting dalam hidupnya yang terjadi pada bulan tersebut.
"Kalau memang bulan Safar itu membawa keburukan, tentu Nabi Muhammad SAW tidak akan melakukan berbagai peristiwa penting pada bulan tersebut. Ini menjadi bukti bahwa anggapan Safar sebagai bulan sial hanyalah mitos," katanya.
Ustadz Tri Wibowo juga mengingatkan agar umat Islam tidak mudah mempercayai berbagai ramalan, pertanda burung, garis tangan, maupun keyakinan lain yang tidak memiliki landasan dalam Al-Qur'an dan hadis. Menurutnya, seluruh ketentuan hidup manusia berada dalam kehendak Allah SWT.
"Semua sudah menjadi ketetapan Allah. Jangan sampai kita mempercayai ramalan atau pertanda yang membuat keyakinan kita bergeser dari tauhid kepada Allah SWT," tegasnya.
Dalam tausiahnya, ia mengajak masyarakat menjadikan bulan Safar sebagai momentum memperbanyak amal saleh. Beberapa amalan yang dianjurkan di antaranya memperbanyak doa, bersedekah, membaca Al-Qur'an, memperkuat silaturahmi, membantu sesama, serta meningkatkan kualitas ibadah.
"Doa adalah senjatanya orang mukmin. Perbanyak doa, sedekah, membaca Al-Qur'an dan mendekatkan diri kepada Allah. Itulah yang akan membawa keberkahan di bulan Safar," ujarnya.
Menanggapi pertanyaan pendengar mengenai tradisi masyarakat yang masih menganggap hari-hari tertentu di bulan Safar sebagai waktu yang tidak baik untuk bekerja atau menggelar hajatan, Ustadz Tri Wibowo menegaskan bahwa tradisi boleh dilestarikan selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah menghakimi tradisi maupun perbedaan praktik keagamaan selama tidak mengandung unsur syirik atau bertentangan dengan syariat.
"Tradisi yang baik boleh dipertahankan selama tidak menyimpang dari ajaran Islam. Yang harus ditinggalkan adalah keyakinan bahwa bulan Safar membawa kesialan, karena itu tidak diajarkan dalam Islam," jelasnya.
Sebagai penutup, Ustadz Tri Wibowo mengajak umat Islam untuk lebih fokus memperbaiki kualitas iman daripada memperdebatkan mitos yang tidak memiliki dasar agama. Ia menekankan bahwa yang perlu dikhawatirkan bukanlah datangnya bulan Safar, melainkan bertambahnya usia tanpa diiringi peningkatan amal ibadah.
"Jangan kita sibuk menganggap bulan Safar sebagai bulan yang buruk. Yang seharusnya kita pikirkan adalah apakah iman dan amal kita bertambah. Semua bulan adalah baik jika diisi dengan kebaikan dan ketaatan kepada Allah SWT," tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....