Bentuk Syukur Manusia Terhadap Karunia Allah SWT
- 22 Jul 2026 08:26 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Sejatinya sebagai manusia pada hakekatnya tidak mengetahui apa-apa. Karena manusia pada awalnya tidak memiliki apa-apa, hal ini termaktub jelas dalam Quran. Karena hal inilah manusia yang jika telah dikarunia dengan kenikmatan hendaklah bersyukur pada sang pemberi.
“Dalam surah an-nahl ayat 78 : Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur,”ujar ustadzah Atalia, S.Kom.I saat Hikmah Pagi di Pro 4 RRI Pontianak, Rabu, 22 Juli 2026.
Lebih lanjut ia mengatakan bahwa Allah memberikan modal utama manusia berupa telinga untuk mendengar, mata untuk melihat, dan akal serta hati untuk berpikir dan bersyukur. “Dari dan dengan nikmat tersebutlah manusia dapat memiliki apa-apa yang ada di bumi. bisa punya harta punya tahta dan lain sebagainya,”ujarnya.
Atalia juga menyampaikan firman Allah dalam al-qur’an surah an-naml ayat 40. “Allah berfirman : Barang Siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar maka sesungguhnya Tuhanku maha kaya lagi maha mulia,”ujarnya.
Allah mengingatkan kepada manusia senantiasa bersyukur, maka Allah akan menambah segala kenikmatan tersebut. “Tatkala manusia mengingkari nikmat yang Allah berikan, maka sesungguhnya azab Allah itu sangat pedih,”ujarnya. Syukur secara bahasa menurutnya adalah pujian bagi orang yang memberikan kebaikan. Dalam bahasa Indonesia bersyukur artinya berterima kasih.
“Istilah syukur dalam agama adalah sebagaimana yang dijabarkan oleh Ibnul Qayyim adalah menunjukkan adanya nikmat Allah pada dirinya dengan melalui lisan yaitu berupa pujian dan mengucapkan kesadaran diri bahwa ia telah diberi nikmat melalui hati berupa persaksian dan kecintaan kepada Allah melalui anggota badan berupa kepatuhan dan ketaatan kepada Allah,”ujarnya.
Sedangkan lawan daripada syukur adalah kufur nikmat yaitu enggan menyadari atau bahkan mengingkari bahwa nikmat yang ia dapatkan adalah dari Allah SWT. “Seperti kisah Qorun yang merasa bahwa semua yang diperoleh dari ilmu dan kemampuannya. Ketika Qorun mendapat harta yang sangat banyak dia mengatakan : Sungguh, harta dan kenikmatan yang aku miliki itu aku dapatkan dari ilmu yang aku miliki,”ujarnya.
Sementara orang-orang beriman akan bersyukur seperti kisah Nabi Sulaiman as saat beliau mendapatkan puncak kenikmatan dunia. “Beliau berkata : ini adalah bagian dari karunia Allah untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau kufur,”ujarnya.
Tanda-tanda hamba yang bersyukur lanjutnya, pertama mengakui dan menyadari bahwa Allah telah memberinya nikmat. “Orang yang senantiasa menisbatkan setiap nikmat yang didapatkannya kepada Allah ta'ala, ia senantiasa menyadari bahwa hanya atas takdir dan rahmat Allah sematalah nikmat tersebut berasal,”ujarnya.
Orang yang kufur nikmat senantiasa lupa akan pemberian Allah, bagi hamba yang bersyukur akan menyadari bahwa semuanya berasal dari Allah. “Dari Ibnu Abbas ra yang berkata ketika hujan turun di masa Nabi saw, lalu Nabi bersabda atas hujan ini: ada manusia yang bersyukur dan ada yang kufur nikmat, orang yang bersyukur berkata inilah rahmat Allah, orang yang kufur berkata Oh pantas saja tadi ada tanda begini dan begitu,”ujarnya.
Kemudian yang kedua orang bersyukur menyebut-nyebut nikmat yang diberikan Allah. “Kebanyakan manusia lebih suka menyebut-nyebut kesulitan yang dihadapi dan mengeluhkannya kepada orang lain : saya sedang sakit ini, saya baru dapat musibah itu, saya kemarin rugi sekian rupiah dan lain-lain,”ujarnya.
Namun, sesungguhnya orang yang bersyukur lebih sering menyebut-nyebut kenikmatan yang Allah berikan sesuai dalam al-qur’an surah ad-dhuha ayat 11. “Allah berfirman : nikmat yang diberikan oleh robbmu perbanyaklah menyebutnya,”ujarnya.
Mengenai nikmat Allah, tentu saja tidak boleh takabur atau sombong dan ujub merasa kagum atas diri sendiri. Tanda orang yang bersyukur berikutnya adalah, menunjukkan rasa syukur dalam bentuk ketaatan dan ketaqwaan kepada Allah.
“Dalam hadis dikisahkan sebagaimana Nabi saw bersyukur atas nikmat Allah SWT : dari Aisyah ra dan Mughirah Ibnu Sa’bah ra : bahwa dahulunya Nabi saw salat malam sampai kedua kakinya bengkak, aku pun Bertanya kepadanya, kenapa engkau lakukan sampai seperti ini wahai Rasulullah ?, padahal telah diampuni dosa-dosa yang terdahulu dan yang akan datang. Beliau menjawab : tidak bolehkah aku senang bila menjadi hamba yang bersyukur. (HR Mutafaqqun ‘alaih),”ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....