Anggota IPARI Kalbar Ingatkan Bahaya Lisan bagi Kerukunan Umat
- 26 Jun 2026 21:47 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Keberagaman suku, bangsa, dan agama di Indonesia, khususnya di Kalimantan Barat, merupakan sebuah kekayaan yang tidak diragukan lagi. Namun di era keterbukaan informasi, benteng persaudaraan antar-umat beragama tersebut kerap diuji oleh penumpangan narasi perpecahan dan ujaran kebencian (hate speech) yang dapat merugikan keutuhan bangsa.
Menanggapi fenomena tersebut, Anggota Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kalimantan Barat, Ev. Wasti Nurgia, S.Th., mengingatkan bahwa setiap agama pada hakikatnya tidak pernah mengajarkan permusuhan. Hal itu disampaikannya dalam program obrolan santai pagi "Ngander" di RRI Pro 4 Pontianak, Kamis, 25 Juni 2026
"Menguatkan persaudaraan dimulai dengan mengubah cara pandang. Kita harus melihat orang yang ada di dekat kita sebagai saudara sebangsa, bukan musuh atau orang asing. Ketika kita memandang orang lain adalah saudara, maka ikatan yang lahir adalah kasih, bukan kebencian," ujar Wasti dalam obrolannya bersama penyiar Pro 4.
Dari perspektif ajaran Kristiani, Sarjana Teologi ini memaparkan bahwa manusia diciptakan mulia dan segambar dengan Tuhan. Konsep keimanan inilah yang mendasari lahirnya 'Kasih Universal' tanpa syarat, sebuah ajaran yang menginstruksikan umat untuk tetap berbuat baik dan mendoakan sesama, bahkan kepada pihak yang memfitnah atau membenci sekalipun.
Dalam mempraktikkan kerukunan mikro di kehidupan sehari-hari, Wasti menekankan pentingnya adab 'Menjaga Perkataan'. Menurutnya, di era digital saat ini, satu kalimat kotor atau statement provokatif yang keluar dari mulut maupun ketikan di media sosial akan terus direkam publik dan bisa merusak reputasi batin masyarakat secara luas.
"Lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan, sedangkan perkataan kasar hanya membangkitkan amarah. Jangan sampai kita mengaku rajin beribadah, tetapi tidak mampu mengekang lidah dari memfitnah dan menghujat agama lain. Jika lisan kita masih kotor, maka sia-sialah ibadah kita," kata Wasti menegaskan.
Gagasan damai tersebut selaras dengan interaksi pendengar muslim asal Pontianak, Maruto, yang turut menelepon ke studio. Maruto mengamini bahwa kerukunan sejati tercermin ketika antar-pemeluk agama bisa saling mendahului memberi hormat saat hari raya, serta menolong sesama di jalan raya tanpa pernah mempertanyakan identitas agamanya.
Di akhir dialog, Wasti mengajak seluruh elemen masyarakat Kalimantan Barat untuk terus membangun komunitas lintas agama yang solid, menghindari konflik sekecil apa pun, dan mengedepankan hukum kebaikan yang setara.
"Rumus persaudaraan itu sederhana: segala sesuatu yang kita ingin orang lain perbuat bagi kita, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Kita tidak sendiri, kita ini ramai dan kuat. Ikatlah keberagaman Indonesia ini dengan tali kasih," ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....