Harmoni Berbahasa di Tengah Keberagaman Kalimantan Barat

  • 08 Feb 2026 19:43 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak – Peran bahasa sebagai perekat sosial di tengah keberagaman masyarakat Kalimantan Barat menjadi topik utama dalam program Insightainment Pro 2 RRI Pontianak. Program ini diasuh langsung oleh Duta Bahasa Kalimantan Barat, Anugrah Haikal Ramadhan dan Filda Rahmawati, dan disiarkan pada Senin, 2 Februari 2026, melalui siaran radio Pro 2 Pontianak serta kanal YouTube Pro 2 Pontianak.

Dalam siaran tersebut, Haikal dan Filda mengajak pendengar memahami pentingnya harmoni berbahasa sebagai dasar terciptanya komunikasi yang sehat di tengah perbedaan latar belakang budaya dan dialek. Mereka menekankan bahwa bahasa berfungsi sebagai alat komunikasi dan mencerminkan sikap, etika, dan penghormatan terhadap sesama.

Anugrah Haikal Ramadhan menjelaskan bahwa harmoni berbahasa adalah kondisi ketika bahasa digunakan secara santun, saling menghargai, dan sesuai konteks. Menurutnya, perbedaan bahasa dan dialek tidak seharusnya menjadi sumber konflik, melainkan kekayaan yang perlu dihargai bersama.

“Harmoni berbahasa itu bukan berarti kita harus menggunakan satu bahasa yang sama, tetapi bagaimana kita saling menghargai perbedaan dialek dan latar belakang bahasa masing-masing agar komunikasi tetap nyaman dan tidak menyinggung,” ujar Haikal.

Filda Rahmawati menambahkan bahwa Kalimantan Barat memiliki beragam dialek Melayu, seperti dialek Sambas, Pontianak, Melawi, hingga Kapuas Hulu. Perbedaan tersebut muncul karena lingkungan, budaya, dan kebiasaan masyarakat yang beragam, sehingga perlu disikapi dengan bijak dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam diskusi itu juga disampaikan bahwa penggunaan bahasa Indonesia memiliki peran penting sebagai bahasa pemersatu, terutama di ruang publik yang melibatkan banyak latar belakang masyarakat. Bahasa Indonesia menjadi jalan tengah agar pesan dapat dipahami bersama tanpa menghilangkan identitas bahasa daerah.

Haikal dan Filda turut mengulas contoh nyata harmoni berbahasa di Kalimantan Barat, salah satunya di Kota Singkawang yang dikenal sebagai kota toleransi. Menurut mereka, keberagaman suku, bahasa, dan budaya di kota tersebut dapat berjalan selaras karena masyarakatnya mampu menjaga sikap saling menghormati dalam berkomunikasi.

Selain di ruang nyata, keduanya juga mengingatkan pentingnya etika berbahasa di media sosial. Setiap kata yang ditulis dan disampaikan di ruang digital dinilai memiliki dampak besar, sehingga perlu disaring agar tidak menimbulkan salah paham atau konflik.

Melalui program Insightainment ini, Duta Bahasa Kalimantan Barat berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga bahasa dalam setiap situasi. Dengan berbahasa secara santun dan bijak, harmoni di tengah keberagaman diharapkan dapat terus terawat, baik di ruang publik, lingkungan pendidikan, maupun kehidupan bermasyarakat sehari-har

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....