Ibadah Qurban Bentuk Kepasrahan Kepada Allah SWT
- 22 Mei 2026 08:00 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Cikal bakal pensyari’atan ibadah kurban berawal dari peristiwa nabi Ibrahim yang hendak menyembelih putranya Ismail as. Kala itu nabi Ibrahim ikhlas menyanggupi perintah Allah SWT sebagai bentuk kepasrahan dan kepatuhan total kepada-Nya.
“Perintah itu diterima langsung melalui mimpinya sebagaimana yang di lansirkan dalam Al-Quran surah As Syafaat ayat 102 : ketika anak itu sampai pada umur ia sanggup bekerja samanya, yaitu Ibrahim berkata, wahai anakku sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu. Kemudian Ismail menjawab, wahai ayahku lakukan lah apa yang diperintahkan allah kepadamu insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang orang yang sabar,” ujar Wahyu Fitrahadi, S.Pd.I saat “Hikmah Pagi” di Pro 4 RRI Pontianak Jum’at, 22 Mei 2026.
Mendapat informasi yang demikian oleh ayahnya, nabi Ismail pun tak gentar sedikitpun. Ia justru meminta kepada sang ayah untuk menyanggupinya. Mendengar hal itu, nabi Ibrahim bergegas menajamkan pisau dan membaringkan putranya Ismail untuk disembelih.
Namun, goresan pisau Ibrahim di leher Ismail ternyata tak membekas apa-apa. Sebab begitu cepat Allah SWT mengganti leher Ismail dengan leher domba.
“Perintah Allah kepada Ibrahim untuk menyembelih putranya hanyalah ujian. Intinya Ibrahim telah membenarkan mimpinya,”ujarnya.
Ibrahim ternyata terbukti sebagai hamba yang ikhlas menjalankan perintah Allah SWT. Itu terbukti dari Qs. As Syaffat. ”Dan kami panggillah dia (Ibrahim) sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhkan kami memberi balasan kepada orang orang yang baik. Sebenarnya ini suatu ujian yang nyata dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar,”ujarnya.
Menurutnya, peristiwa penyembelihan ini kemudian menjadi cikal bakal pensyari’atan ibadah kurban yang di kukuhkan dalam syariat umat nabi Muhammad.
Hakikatnya apapun yang Allah perintahkan harus kita tunaikan, meskipun harus berkorban jiwa, raga, waktu, harta dsb. Seperti halnya yang dicontohkan oleh nabi Ibrahim mengorbankan putra kesayangannya.
“Secara spesifik, ibadah qurban didasarkan pada firman Allah SWT : Sesungguhnya kami telah memberimu yaitu Muhammad nikmat yang banyak, maka sholatlah untuk tuhan mu dan berkurbanlah, sesungguh nya orang yang membenci mu aalah orang yang terputus dari rahmat Allah (QS. Al kausar 1-3),” ujarnya.
Berdasarkan surah Al kausar 1-3, mazhab Syafii menetapkan hukum qurban sebagai sunnah muakkad. Sementara mazhab yang lain ada yang menetapkan hukumnya wajib, terlebih bagi mereka yang berkecukupan. “Dalam hadis riwayat Ibnu Madjah, berkata Rasulullah : barang siapa yang berkelapangan harta tapi tidak mau berkurban maka jangan sekali kali mendekati tempat sholat kami,”ujarnya.
Namun diantara ulama mazhab Syafii ada yang menarik hukum sunnah muakkad kepada sunnah kifayah. Jika ada beberapa orang dalam suatu keluarga, maka cukup terwakili atau terpenuhi status sunnahnya.
“Jika ada salah seorang dari mereka yang menunaikan, ini menunjukkan tidak lagi diorientasikan bagi yang mampu tetapi dianggap sebagai ibadah kolektif yang berstatus sunnah dalam setiap keluarga,” ujarnya.
Ibadah qurban merupakan ibadah penting, dalam hadis dijelaskan, amalan yang paling bagus dilakukan pada idul adha adalah menyembelih hewan qurban. “Karena itu jika kita mampu maka tunaikan lah ibadah qurban tersebut,” ujarnya.
Wahyu menambahkan bahwa ibadah qurban merupakan wujud kesadaran dan kepasrahan hamba yang tidak memiliki kekuasaan apapun. “Ingatlah apa yang dipasrahkan nabi Ibrahim berupa anak tercinta nya Ismail yang digantikan oleh Allah SWT dengan domba,”ujarnya. Melalui ibadah qurban seseorang tidak akan rugi, bahkan terlepas dari sifat kikir, dan jauh dari sifat kehewanan. “sesungguhnya Allah pasti sudah menyiapkan balasan dan keberkahan bagi siapapun yang menjalankan perintahnya,”katanya mengakhiri.
Baca juga: Satu JCH Kloter BTH 25 Sempat Tertunda Akhirnya Diberangkatkan
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....